Sunday, 20 September 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Angka Kelahiran dan Kematian. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Angka Kelahiran dan Kematian

Angka Kelahiran dan Kematian adalah dua faktor yang paling berpengaruh pada pertumbuhan jumlah penduduk di suatu negara. Penduduk adalah sekelompok manusia yang menempati suatu wilayah dalam waktu tertentu. Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai permasalahan dalam bidang kependudukan. Terutama jumlah penduduk yang komposisinya tidak seimbang. Jumlah usia nonproduktif lebih banyak dibandingkan dengan usia produktif. Secara internasional, jumlah penduduk Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

1. Angka Kelahiran
Angka kelahiran disebut juga fertilitas atau natalitas yang artinya menunjukkan angka kelahiran yang sesungguhnya. Kelahiran hidup adalah sutu kelahiran bayi tanpa memperhitungkan lamanya di dalam kandungan dan bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Adapun angka kelahiran mati adalah kelahiran sseorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Angka Kelahiran dan Kematian

Faktor penunjang tingkat kelahiran adalah sebagai berikut.
  1. Kawin usia muda, di masyarakat pedesaan masih banyak perkawinan dalam usia muda sebab orang tuanya merasa malu jika anaknya tidak cepat mendapatkan jodoh.
  2. Besarnya angka kematian bayi, sebab banyaknya bayi yang meninggal mendorong orang tua mempunyai anak banyak.
  3. Adanya penilaian tinggi pada anak, karena: 1) Penerus keturunan. Anak adalah penerus keturunan keluarga, dengan demikian orang tua merasa was-was jika mempunyai sedikit anak sebab khawatir regenerasi keluarganya akan terhenti. 2) Sumber tenaga kerja. Setelah serang anak tumbuh dewasa, maka dia akan menjadi sumber pencari nafkahuntuk membantu orang tua. Pembawa rezeki, anak diharapkan membalas segala jasa orang tua dalam betuk materi. Oleh sebab itu, jika anak mendapatkan rezeki, maka orang tua tentu akan menikmatinya pula.
  4. Tumpuan pada hari tua. Jika orang tua sudah lanjut usia, maka anak akan menjadi tumpuan harapan orang tua yang wajib memenuhi segala kebutuhan orang tua.

Beberapa faktor penghambat tingkat kelahiran, yaitu adanya ke sadaran tentang pentingnya hal-hal berikut.
  1. Keluarga Berencana (KB). Kesadaran masyarakat untuk menjaga jarak kehamilan, demi peningkatan taraf hidup dan kemajuan pendidikan.
  2. Undang-undang perkawinan yang menetapkan batas minimal usia untuk menikah untuk wanita 17 tahun dan lakilaki 20 tahun.
  3. Penundaan usia kawin, dengan alasan sekolah atau belum bekerja, para remaja mampu menunda usia pernikahannya.
  4. Peraturan mengenai tunjangan anak pegawai negeri yang menetapkan tunjangan hanya diberikan sampai anak yang ke-2.

2 Angka Kematian
Faktor kedua yang memengaruhi pertumbuhan penduduk adalah kematian atau mortalitas. Kematian yaitu hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Faktor penyebab kematian (mortalitas) antara lain sebagai berikut.

  1. Belum memadainya sarana kesehatan
  2. Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah
  3. Kurangnya gizi makanan sebagian besar penduduk
  4. Pencemaran lingkungan
  5. Kecelakaaan lalu lintas
  6. Peperangan
  7. Bencana alam dan wabah penyakit

Faktor pengendali kematian (penghambat) antara lain:

  1. Semakin meningkatnya fasilitas kesehatan
  2. Tingginya tingkat kesehatan masyarakat
  3. Makanan yang cukup bergizi
  4. Lingkungan yang bersih dan teratur
  5. Ajaran agama yang melarang bunuh diri dan membunuh orang lain
  6. Keadaan negara yang damai

Saturday, 19 September 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Pola Umum Curah Hujan di Kepulauan Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pola Umum Curah Hujan di Kepulauan Indonesia

Tahukah kalian Curah hujan di wilayah Indonesia bagian mana yang lebih besar? Indonesia bagian barat atau Indonesia bagian timur? Pola umum curah hujan di Indonesia antara lain dipengaruhi oleh letak geografis. Pengaruh letak geografis pada perubahan dan kondisi musim di Indonesia, yaitu sebagai berikut. Posisi Indonesia yang diapit dua samudra besar di dunia, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia mengakibatkan wilayah Kepulauan Indonesia mempunyai tingkat kelembapan (humidity) tinggi. Kondisi musim di Indonesia dipengaruhi intensitas penyinaran matahari dan penguapan. Posisi kepulauan Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa menyebabkan penyinaran matahari berlangsung sepanjang tahun. Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang beriklim tropis. Letak astronomis dan geografis memengaruhi variasi iklim di Indonesia. Indonesia mengalami dua musim selama satu tahun, yaitu hujan dan kemarau yang berganti setiap enam bulan. Pola iklim memengaruhi pula pada budaya masyarakat.

Jika kalian perhatikan peta sebaran curah hujan di indonesia maka akan ditemukan pola umum hujan di Indonesia seperti yang diuraikan sebagai berikut.
  1. Pantai sebelah barat setiap pulau mendapat jumlah hujan selalu lebih banyak daripada pantai sebelah timur
  2. Curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar daripada Indonesia bagian timur. Sebagai contoh, deretan pulau-pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang dihubungkan oleh selat-selat sempit, jumlah curah hujan yang terbanyak ialah Jawa Barat.
  3. Curah hujan juga bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak biasanya berada pada ketinggian antara 600 - 900 m di atas permukaan laut.
  4. Di daerah pedalaman, di semua pulau, musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar.
  5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT.
  6. Saat mulai turunnya hujan bergeser dari barat ke timur, seperti berikut. 1) Pantai barat Pulau Sumatra sampai ke Bengkulu memperoleh hujan terbanyak pada November. 2) Lampung-Bangka yang letaknya ke timur memperoleh hujan terbanyak pada Desember. 3) Jawa bagian utara, Bali, NTB, dan NTT pada Januari- Februari.
  7. Di Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah, musim hujannya berbeda, yaitu pada Mei-Juni. Pada saat itu, daerah lain sedang mengalami musimkering. Batas daerah hujan Indonesia barat dan timur terletak pada kira-kira 120°Bujur Timur.
Pola Umum Curah Hujan di Wilayah Indonesia

Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu ratarata2.000 - 3.000 mm per tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama. Ada beberapa daerah yang memperoleh curah hujan sangat rendah dan ada pula daerah yang memperoleh curah hujan tinggi.
  1. Daerah yang memperoleh curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 1.000 mm, meliputi 0,6% dari luas wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara, dan 2 daerah di Sulawesi (lembah Palu dan Luwuk).
  2. Daerah yang memperoleh curah hujan antara 1.000 - 2.000 mm per tahun di antaranya sebagian Nusa Tenggara, daerah sempit di Merauke, Kepulauan Aru, dan Tanibar.
  3. Daerah yang memperoleh curah hujan antara 2.000 - 3.000 mm per tahun, meliputi Sumatra Timur, Kalimantan Selatan,dan Timur sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian Irian Jaya, Kepulauan Maluku dan sebagian besar Sulawesi.
  4. Daerah yang memperoleh curah hujan tertinggi lebih dari 3.000 mm per tahun meliputi dataran tinggi di Sumatra Barat,Kalimantan Tengah, dataran tinggi Irian bagian tengah, dan beberapa daerah di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.

Sumber : IPS Terpadu - SMP Kelas VIII

Kali ini kita akan membahas tentang Persebaran Jenis Tanah di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Persebaran Jenis Tanah di Indonesia

Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya untuk semua kehidupan di bumi sebab tanah mendukung kehidupan tanaman dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Semua lapisan tanah atau batuan yang paling atas disebut dengan pedosfer. Tanah adalah istilah yang sering dikenal oleh manusia, serta banyak dimanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya. Menurut Suryatna Rafi’i, tanah diartikan sebagai benda yang berwujud padat, cair, dan gas yang tersusun dari bahan organik dan anorganik yang terdapat dalam suatu lahan. Adapun ilmu yang mempelajari tanah disebut pedologi.

a. Proses Pembentukan Tanah
Tanah terbentuk dari hasil pelapukan batuan. Adapun faktor yang memengaruhi pembentukan tanah ialah iklim, organisme, bahan induk, topografi, dan waktu.

T = f (i, o, b, t, w)

Iklim adalah faktor terpenting dalam pembentukan tanah. Misalnya, pengaruh suhu dan banyaknya curah hujan akan berpengaruh pada proses pelapukan batuan dan akhirnya terbentuklah tanah. Adanya bahan organik dan unsur hara  juga akan memengaruhi proses pembentukkan tanah. Batuan akan lebih cepat lapuk jika terdapat banyak mikroorganisme di dalamnya. Begitu juga dengan banyaknya vegetasi akan mempermudah batuan menjadi hancur dan membentuk agregat tanah (bahan-bahan mineral tidak bergerak, misalnya pasir, debu, dan kerikil) dan bunga tanah.

Tanah yang ada di permukaan bumi menunjukkan sifat dari batuan induknya. Misalnya, batuan induk yang tingkat kekerasan sangat tinggi, maka biasanya tanah masih bercampur dengan bongkahan batuan yang belum lapuk, atau sebelumnya masih berstruktur pasir. Pada daerah yang topografinya relatif datar, sedimentasi sering terjadi. Hasilnya, lapisan batuan yang paling atas akan ditempati material halus yang semakin menebal sesuai dengan waktu proses terjadinya pelapukan. Berdasarkan waktu pembentukannya semua bahan induk akan berubah menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua.
  1. Tanah muda bercirikan dengan adanya sifat utama pada batuan induknya, seperti tanah alluvial, regosol, dan latosol.
  2. Tanah dewasa sudah mengalami proses lebih lanjut sehingga terbentuk horizon B, seperti tanah andosol dan grumosol.
  3. Tanah tua yang adalah batuan yang terus mengalami proses pelapukan sehingga pada lapisan tanah terbentuk horizon A1, A2, A3, dan B1, B2, B3, seperti tanah podsolik dan laterit.

b. Sifat-Sifat Tanah
Tanah terdiri atas lapisan yang disebut dengan horizon. Sifatsifat tanah tak akan terlepas dari horizon-horizonnya. Adapun masing-masing horizon tanah ialah sebagai berikut.

Horizon O, yaitu lapisan tanah yang paling atas, tersusun dari bahan organik dan
lempung dengan tekstur yang halus. Bagian ini biasanya berwarna hitam atau kehitaman.
  1. Horizon A, yaitu lapisan tanah yangterdiri atas berbagai jenis mineral, letaknya berada di bawah horizon O. Berdasarkan urutannya horizon A terdiri atas: a) horizon A1, horizon mineral yang terdapat pada lapisan yang paling atas dan terlihat percampuran mineral dengan bahan organik; b) horizon A2, disebut juga horizon eluviasi sebab beberapa mineral utama mengalami pencucian maksimal,yang tertinggal hanya mineral resisten; dan c) horizon A3, adalah peralihan ke horizon B atau langsung ke horizon C.
  2. Horizon B, yaitu horizon yang paling banyak mengandung mineral besi dan aluminium yang tersusun dari horizon A, warnanya lebih gelap dengan tekstur yang lebih halus.
  3. Horizon C, horizon yang masih menampakkan sifat bahan induk tetapi sudah banyak mengalami pelapukan.
  4. Horizon D, batuan induk yang masih utuh dengan tekstur keras.

c. Karakteristik Tanah di Indonesia
Karakteristik tanah yang ada di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut.

  1. Indonesia adalah negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi per tahunnya, mencapai 100-200 mm per bulan dengan temperatur tidak kurang dari 180°C.
  2. Indonesia adalah pertemuan tiga rangkaian pegunungan dunia, yaitu Sirkum Mediterania, Sirkum Pasifik, dan jalur pegunungan Australia. Akibatnya, di Indonesia terdapat banyak sekali gunung berapi.
  3. Indonesia adalah kepulauan yang terbentuk dari tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Asia, Indo-Australia, dan Lempeng dasar Pasifik. Sehingga relief di Indonesia beranekaragam, seperti terbentuknya gunung-gunung tinggi.
  4. Indonesia termasuk daerah tumbuhan Malesiana. Daerah ini adalah bioma hutan hujan tropis atau hutan basah, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan tanaman memanjat seperti liana dan rotan. Hutan di daerah tumbuhan Malesiana mempunyai lebih kurang 248.000 spesies tanaman tinggi, didominasi oleh pohon dari familia Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap. Dipterocarpaceae adalah tumbuhan tertinggi dan membentuk kanopi hutan. Tumbuhan yang termasuk famili Dipterocarpaceae misalnya keruing (Dipterocapus sp), meranti (Shorea sp), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan kayukapur (Drybalanops aromatica). Dengan demikian, Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya nabati di dunia.

Pengaruh dari faktor-faktor itu membentuk suatu karakteristik tanah Indonesia yang berbeda dengan negara lainnya. Karakteristik tanah di Indonesia ialah sebagai berikut.

Persebaran Jenis Tanah di Indonesia
Erosi
  1. Curah hujan tinggi menyebabkan proses pelapukan yang cenderung terjadi adalah pelapukan kimia. Dampaknya adalah tanah-tanah di Indonesia mempunyai solum atau kedalaman tanah yang cukup tebal. Kedalaman solum ini sangat mendukung tanaman dan satwa renik yang hidup di dalamnya.
  2. Curah hujan dapat menyebabkan erosi. Dengan demikian proses erosi pun cenderung terjadi. Walau pun solum tanah yang terbentuk cukup tebal, namun jika tidak memerhatikan faktor pemicu erosi, maka tanah akan rusak. Kerusakan tanah ini akan diikuti dengan berkurangnya tanaman yang ada, lambat laun lahan akan menjadi tandus.
  3. Banyaknya gunung api dapat membentuk tanah vulkanik yang sangat subur. Tanah vulkanik ini biasanya digunakan untuk budi daya hortikultura.
  4. Dengan adanya variasi relief, maka keadaan tanah cenderung bervariasi pula. Banyak sekali tipe-tipe tanah yang dapat dijumpai di Indonesia. Masing-masing tipe tanah ini mempunyai daya dukung yang berbeda pada tanaman. Akibatnya, tanaman yang ada bervariasi.
  5. Keanekaragaman hayati adalah sumber bahan organik untuk tanah, sehingga tanah di Indonesia mengandung banyak bahan organik baik untuk pertumbuhan tanaman. Pada daearah rawa, bahan-bahan organik ini membentuk tanah organosol. Tanah organosol ini jika dikelola dengan baik dapat dijadikan lahan pertanian baik. Programprogram pemerintah pun sudah mulai dilakukan untuk mengelola potensi lahan ini sejak zaman orde baru yang dikenal dengan proyek lahan gambut sejuta hektar.

d. Persebaran Tanah di Indonesia
Supraptoharjo, menjelaskan persebaran jenis-jenis tanah di Indonesia sebagai berikut.
1) Tanah organik, disebut juga tanah organosol yang secaraumum dikenal dengan sebutan tanah gambut. Jenis tanah ini mengandung bahan organik yang banyak sehingga tidak mengalami perkembangan. Perkembangan profil ke arah pembentukan horizon yang berbeda, biasanya berwarna coklat dan mempunyai sifat asam. Berdasarkan proses pembentukannya tanah gambut dibedakan sebagai berikut.
  • Tanah gambut ombrogen, terbentuk sebab pengaruh curah hujan yang airnya tergenang. Tersebar di sepanjang pantai timur Sumatra, pantai barat dan selatan Kalimantan, serta pantai selatan Papua.
  • Gambut topogen, terbentuk sebab pengaruh topografi tersebar di sekitar Rawa Lakbok, Pangandaran, Rawa Pening, dan Tanah Deli.
  • Gambut pegunungan, terbentuk di daerah cekungan di pegunungan.

2) Tanah Tanpa Diferensiasi Horizon
  • Tanah litosol adalah tanah muda sehingga batuan induknya sangat dangkal (45 cm) banyak tersebar di daerah pegunungan kapur Jawa Tengah, Madura, Nusa Tenggara, dan Maluku Selatan.
  • Tanah alluvial adalah tanah yang terdapat pada lahan yang sering mengalami sedimentasi dan banjir, biasanya memberi produksi padi baik. Banyak terdapat di daerah lembah yang landai, seperti Karawang, Indramayu, Delta Brantas, Gersik, dan Tegal.
  • Tanah regosol, yaitu tanah yang belum menunjukkan diferensiasi horizon dan tampak hanya horizon A1, banyak tersebar di daerah dataran tinggi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.
  • Tanah Merah Tanah ini menutupi sebagian lahan di Indonesia yang terbentuk  dari batuan beku, sedimen, dan malihan.

Sumber : IPS Terpadu - SMP Kelas VIII

Kali ini kita akan membahas tentang Keadaan Flora dan Fauna Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Keadaan Flora dan Fauna Indonesia

Curah hujan yang cukup tinggi di daerah tropis mengakibatkan suburnya berbagai jenis tanaman. Oleh sebab itu, daerah tropis dikenal sebagai kawasan hutan belukar yang bukan saja menyimpan berbagai potensi kekayaan alam, melainkan juga berperan sebagai paru-paru dunia. Indonesia mempunyai beraneka ragam jenis tumbuhan. Iklim mempunyai pengaruh yang sangat besar, terutama curah hujan dan suhu udara. Pengaruh suhu udara pada habitat tanaman di Indonesia telah dikenal dengan klasifikasi Junghuhn, seorang ahli botani asal Jerman yang membagi jenis tanaman berdasarkan ketinggian tempat. Persebaran fauna di Indonesia berkaitan dengan sejarah geologis Kepulauan Indonesia. Menurut Alfred Russel Wallace, terdapat perbedaan sebaran hewan di Indonesia. Klasifikasi persebaran fauna di Indonesia dikenal dengan sebutan kralsifikasi garis wallace.Keberadaan tumbuhan dan fauna di suatu tempat tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di tempat itu. Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut.

a. Faktor Klimatik
Iklim terdiri atas suhu udara, tekanan udara, kelembapan udara, angin, dan intensitas sinar matahari. Perbedaan temperatur pada suatu wilayah dipengaruhi oleh letak lintang (latitude) selatan dan utara dan ketinggian suatu tempat. Perbedaan itu menyebabkan variasi tanaman pula. Teori ini dibuktikan oleh seorang ilmuwan biologi lingkungan, sekitar tahun 1889 yang bernama C. Hert Meeriem. Dia meneliti model penyebaran tanaman berdasarkan pada variasi ketinggian Gunung San Fransisco dari kaki gunung hingga ke puncak gunung. Model itu ternyata sejalan dengan pola penyebaran tanaman dari garis tropik ekuator hingga ke arah utara atau pun selatan. Jadi, distribusi jenis tumbuhan dari daerah yang paling panas ke daerah yang paling dingin ternyata menyerupai distribusi tumbuhan dari pantai hingga ke puncak gunung. Artinya, urutan bioma (ekosistem dunia) dari ekuator (khatulistiwa) ke kutub sama dengan urutan ekosistem dari pantai sampai ke puncak gunung.

Meeriem berkesimpulan bahwa tipe tanaman suatu daerah dipengaruhi oleh temperatur, lalu dapat dibuktikan bahwa faktor kelembapan ternyata lebih berperan dari pada faktor temperatur. Curah hujan tinggi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman besar. Semakin kita bergerak ke daerah dengan curah hujan yang rendah, tanaman akan didominasi oleh tanaman kecil (belukar, rumput) dan akhirnyakaktus atau tanaman padang pasir lainnya.

b. Faktor Edafik
Jenis tanah erat kaitannya dengan kesuburan tanah di tempat yang bersangkutan. Jenis tanah di berbagai tempat berbeda-beda, bergantung pada faktor bahan asal tanah, iklim, serta vegetasi. Hal ini menyebabkan tingkat kesuburan di berbagai tempat juga berbeda, sehingga terhadi penyebaran tumbuhan dan fauna di seluruh dunia.

c. Faktor Fisiografik
Daratan yang ada di seluruh permukaan bumi mempunyai ketinggian yang berbeda-beda. Daratan bisa berupa daratan rendah, pantai, dataran tinggi, serta pegunungan. Makin tinggi relief daratan suatu tempat, maka suhu udaranya makin dingin. Pada daerah-daerah berelief tinggi yang bersuhu dingin, jenis tumbuhan dan fauna yang ada sangat terbatas.

d. Faktor Biologis
Dalam biosfer selalu terjadi hubungan yang saling memengaruhi antara sesama makhluk hidup yang disebut interaksi. Terutama manusia dengan budayanya, adalah faktor biologis yang paling berpengaruh dalam biosfer. Manusia dengan budayanya mampu memengaruhi lingkungan biosfer di sekitarnya. Misalnya, manusia yang selalu berupaya memperbaiki jenis serta penyebaran tumbuhan dan fauna. Namun, tidak semua bentuk interaksi antarfaktor biologis dalam biosfer bersifat memperbaiki (konstruktif), sebab ada pula yang bersifat merusak (destruktif) atau gabungan dari keduanya.

Dari berbagai pengaruh faktor-faktor di atas menjadikan wilayah Indonesia adalah salah satu wilayah dari tiga negara yang mempunyai keanekaragaman hayati tinggi. Dua negara lainnya, yaitu Brazil dan Zaire. Akan tetapi dibandingkan Brazil dan Zaire, Indonesia mempunyai keunikan tersendiri. Keunikannya, yaitu di samping mempunyai keanekaragaman hayati tinggi,

Indonesia mempunyai areal tipe Indo-Malaya yang luas, jugatipe Oriental, Australia, dan peralihannya. Selain itu, di Indonesia terdapat banyak satwa dan tanaman langka, serta satwa dan tanaman endemik (penyebaran terbatas). Indonesia terletak di daerah tropik sehingga mempunyai keanekaragaman hayati tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia ini terlihat dari berbagai macam ekosistem yang ada di Indonesia, seperti ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut, dan ekosistem sabana. Masing-masing ekosistem ini memilikikeanekaragaman hayati tersendiri.

Tumbuhan (flora) di Indonesia adalah bagian dari geografi tanaman Indo-Malaya. Flora Indo-Malaya meliputi tanaman yang hidup di India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Flora yang tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Filipina sering disebut sebagai kelompok tumbuhan Malesiana. Hutan di daerah tumbuhan Malesiana mempunyai kurang lebih 248.000 spesies tanaman tinggi, didominasi oleh pohon dari familia Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap. Dipterocarpaceae adalah tumbuhan tertinggi dan membentuk kanopi hutan. Tumbuhan yang termasuk famili Dipterocarpaceae misalnya keruing ( Dipterocarpus sp), meranti (Shorea sp), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan kayu kapur (Drybalanops aromatica).

Hutan di Indonesia adalah bioma hutan hujan tropis atau hutan basah, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak tanaman liana (tumbuhan yang memanjat), seperti rotan. Tumbuhan khas Indonesia seperti durian (Durio zibetinus),Mangga (Mangifera indica), dan Sukun (Artocarpus sp) di Indonesia tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Sebagai negara yang mempunyai flora Malesiana, apakah di Malaysia dan Filipina juga mempunyai jenis tanaman seperti yang dimiliki oleh Indonesia.
Keadaan Flora dan Fauna Indonesia
Sukun

Kalimantan, dan Jawa terdapat tanaman endemik Rafflesia. Tumbuhan ini tumbuh di akar atau batang tanaman pemanjat sejenis Indonesia bagian timur, tipe hutannya agak berbeda. Mulai dari Sulawesi sampai Irian Jaya (Papua) terdapat hutan non–Dipterocarpaceae. Hutan ini mempunyai pohon-pohon sedang, di antaranya beringin (Ficus sp), dan matoa (Pometia pinnata). Pohon matoa adalah tumbuhan endemik di Irian.

Hewan-hewan di Indonesia mempunyai tipe oriental (Kawasan Barat Indonesia) dan Australia (Kawasan Timur Indonesia) serta peralihan. Hewan-hewan di bagian Barat Indonesia (oriental) yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Banyak spesies mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan nyaris tidak ada.
  2. Terdapat berbagai macam kera, misalnya bekantan, tarsius, orang utan.
  3. Terdapat satwa endemik, seperti badak bercula satu, binturong (Aretictis binturang), monyet (Presbytis thomasi), tarsius (Tarsius bancanus), kukang (Nyeticebus coucang).
  4. Burung-burung mempunyai warna bulu yang kurang menarik, tetapi dapat berkicau. Burung-burung yang endemik, misalnya jalak bali (Leucopsar nothschili), elang jawa, murai mengkilat (Myophoneus melurunus), elang putih (Mycrohyerax latifrons).

Jenis-jenis satwa di Indonesia bagian timur, yaitu Irian, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, relatif sama dengan Australia. Hewan-hewan di bagian Timur Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Mamalia berukuran kecil
  2. Banyak satwa berkantung
  3. Tidak terdapat species kera
  4. Jenis-jenis burung mempunyai warna yang beragam
Irian Jaya (Papua) mempunyai hewan mamalia berkantung, misalnya kanguru (Dendrolagus ursinus), kuskus (Spiloeus maculatus). Papua juga mempunyai kolek si burung terbanyak, dan yang palingterkenal adalah burung Cenderawasih (Paradiseae sp). Di Nusa Tenggara, ter-utama di pulau Komodo, terdapat reptilian terbesar yaitu komodo (Varanus komodoensis).

Sementara itu, daerah peralihan yang meliputi daerah disekitar garis Wallace yang terbentang dari Sulawesi sampai kepulauan Maluku, jenis hewannya antara lain tarsius (Tarsius bancanus), maleo (Macrocephalon maleo), anoa, dan babi rusa (Babyrousa babyrussa).

a) Hewan dan Tumbuhan Langka di Indonesia
Di Indonesia banyak terdapat satwa dan tanaman langka. Hewan langka misalnya babirusa (Babyrousa babyrussa), harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), harimau jawa (Panthera tigris sondaicus), macan kumbang (Panthera pardus), orangutan (Pongo pygmaeus abelii di Sumatra dan Pongo pygmaeus pygmaeus di Kalimantan), badak sumatra (Decerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah asia (Ele phas maximus), bekantan (Na salis larvatus), komodo (Vara nus komodoensis), banteng(Bossondaicus), cen drawasih (Paradisaea minor), kanguru pohon (Dendrolagus ursinus), maleo (Macrocephalon maleo), kakatua raja (Probosciger aterrimus), rangkong (Bucerosrhinoceros), kasuari (Casuarius casuarius), buaya muara (Crocodylus porosus), buaya irian (Crocodylus novaeguinae), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu hijau (Chelonia mydas), ular sanca bodo (Phyton molurus), sanca hijau (Chondrophyton viridis), bunglon sisir (Gonyochepalus dilophus).

Tumbuh-tumbuhan langka misalnya bedali (Radermachera gigantea), putat (Planchonia valida), kepuh (Sterula foetida), bungur(Lagerstroemia speciosa), nangka celeng (Artocarpus heterophyllus), kluwak (Pangium edule), bendo (Artocarpus elasticus), mundu (Garcinia dulcis), sawo kecik (Manilkara kauki), winong (Tetrameles nudiflora), bayur (Pterospermum javanicum), gandaria (Bouea macrophylla), matoa (Pometia pinnata), sukun berbiji (Artocarpus communis).

b) Hewan dan Tumbuhan Endemik di Indonesia
Di Indonesia banyak terdapat satwa dan tanaman endemik, yaitu satwa dan tanaman itu hanya terdapat di Indonesia, tidak terdapat di negara lain. Hewan endemik misalnya harimau jawa (Panthera tigris sondaicus), harimau bali (sudah punah), jalak bali putih (Leucopsar rothschildi) di Bali, badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon, binturong (Artictis binturong), monyet (Presbytis thomasi), tarsius (Tarsius bancanus) di Sulawesi Utara, kukang (Nycticebus coucang), maleo (hanya di Sulawesi), komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Komodo dan sekitarnya. Tumbuhan yang endemik terutama dari genus Rafflesia misalnya Rafflesia arnoldi (endemik di Sumatra Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. cilliata (Kalimantan Timur), R. horsfilldii (Jawa), R.patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatra bagian timur).

Kali ini kita akan membahas tentang Lingkungan Fisik Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Lingkungan Fisik Indonesia

Setiap negara mempunyai lingkungan fisik yang berbeda-beda. Bagaimana dengan lingkungan fisik Indonesia. Indonesia adalah suatu wilayah yang mempunyai keragaman sumber daya yang sangat banyak, baik dari segi fisik atau manusianya. Secara fisik lingkungan Indonesia sangat menguntungkan, sebab dengan banyaknya perairan laut dapat memberikan aset yang cukup besar. Begitu juga lahan subur yang ditunjang dengan iklim dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian. Sementara dari segi sumber daya manusianya, Indonesia juga sangat menguntungkan. Dari kondisi budaya yang bermacam-macam tidak menutup kemungkinan menjadikannya sebagai kekayaan sumber budaya yang kompleks.

Jika kita membicarakan masalah posisi atau letak suatu tempat, kita tidak bisa membahasnya dari satu aspek saja. Sebab selain berbicara tentang posisi, kita juga akan membicarakan karakter dari suatu lokasi itu. Misalnya, saat kita membahas lokasi Indonesia, paling tidak kita membahas lokasi astronomis, lokasi geografis, dan lokasi geologis.

a. Letak Astronomis Indonesia

Letak astronomis artinya peninjauan pada posisi suatu tempat dengan cara memperhitungkan kedudukannya dari lintang dan bujur yang ada pada bola bumi. Dengan kata lain, letak astronomis berarti posisi suatu tempat berdasar garis bujur dan garis lintang.

Secara astronomis, Indonesia terletak pada 6°LU–11°LS dan 95°BT–141°BT. Batas paling utara melintasi Pulau Weh (Nanggroe Aceh Darussalam). Batas paling selatan melintasi Pulau Roti (Nusa Tenggara Timur). Batas paling barat melintasi Pulau Breueh (Nanggroe Aceh Darussalam), dan batas paling timur melintasi pertengahan Pulau Papua, yaitu Merauke.

Pengaruh lokasi astronomis ini pada lingkungan wilayah Indonesia atau biasanya semua wilayah di dunia, yaitu menyebabkan terdapatnya perbedaan waktu. Ketika bumi melaksanakan rotasi, menempuh waktu kurang lebih 24 jam untuk satu lingkaran penuh (360°), jika dibagi 24 akan didapat angka 15. Artinya setiap 15° menempuh waktu 1 jam atau 60 menit. Jika kita melihat selisih garis bujur di wilayah Indonesia yang membentang dari barat sampai ke timur adalah 141–95 = 46. Karena itu setiap wilayah yang terlintasi oleh beberapa garis itu mempunyai selisih waktu yang berbeda. Berdasarkan selisih garis bujurnya, wilayah Indonesia mempunyai 3 wilayah waktu sebagai berikut.

  1. Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), berada pada wilayah mulai dari 95° BT sampai dengan 115° BT, meliputi wilayah Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kawasan ini mempunyai selisih perbedaan waktu 7 jam dihitung dari GMT (Greenwich Mean Time).
  2. Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA), berada pada wilayah mulai dari 115° BT sampai dengan 130° BT, meliputi wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara dan Pulau Sulawesi. Kawasan ini mempunyai selisih perbedaan waktu 8 jam dihitung dari GMT.
  3. Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT), berada pada wilayah mulai dari 130° BT sampai dengan 141° BT, Kepulauan Maluku dan Papua, kawasan ini mempunyai selisih perbedaan waktu 9 jam dihitung dari GMT.
Lingkungan Fisik Indonesia
Peta Indonesia berdasarkan pembagian waktu

b. Letak Geografis Indonesia
Secara geografis Indo nesia terletak di antara dua benua dan dua samudra. Kedua benua itu ada lah Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik. Secara geografis, Indonesia mempunyai letak yang strategis berada pada posisi silang. Sementara, secara khusus batas-batas geografis wilayah Indonesia adalah sebagai berikut.

  • Bagian utara, Indonesia berbatasan dengan Selat Malaka, Singapura, Laut Cina Selatan, Malaysia, Perairan Filipina, dan perairan Pasifik.
  • Bagian selatan, Indo nesia berbatasan dengan Samudra Hindia.
  • Bagian barat, Indonesia berbatasan dengan Samudra Hindia.
  • Bagian timur, ber sempadan dengan Papua Nugini.

Pengaruh lokasi geogra fis pada lingkungan Indonesia antara lain pada pola gerakan angin. Setiap enam bulan terdapat pergantian arah angin yang menuju ke kepulauan Indonesia, hal ini menyebabkan terdapatnya perubahan musim di Indonesia.

c. Letak Geologis Indonesia
Secara geologis, Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng litosfer, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Karena posisi geologis Indonesia yang demikian, maka Indonesia mempunyai karakteristik sebagai berikut.

  • Dilalui oleh jalur rangkaian pegunungan dunia, yaitu Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik.
  • Banyak pegunungan yang cukup tinggi yang dapat memengaruhi iklim di sekitarnya sebab adanya perbedaan ketinggian tempat.
  • Banyak terdapat pegunungan yang aktif, sehingga keadaan  tanah di sekitarnya sangat subur untuk dijadikan sebagai media tanam. Selain itu, dijadikan sebagai objek tamasya yang menarik.
  • Indonesia kaya akan bahan tambang, seperti emas, perak, besi, dan tembaga.
  • Tidak jarang Indonesia mengalami peristiwa gunung meletus dan gempa bumi yang menuntut kewaspadaan untuk penduduknya setiap saat.


Sumber : IPS Terpadu - SMP Kelas VIII

Tuesday, 15 September 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Dampak Gejala Atmosferik pada Kehidupan Manusia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Dampak Gejala Atmosferik pada Kehidupan Manusia

Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet (bumi dll), dari permukaan planet itu sampai jauh di luar angkasa. Apa akibat gejala atmosferik pada kehidupan umat manusia? Secara langsung atau tidak langsung, cuaca dan iklim suatu daerah memberikan pengaruh yang cukup besar pada berbagai aktivitas kehidupan manusia, baik itu pada kegiatan mata pencaharian penduduknya atau pada kondisi sosial budayanya. Berikut ini beberapa contoh akibat gejala atmosferik pada kehidupan:

1. Dampak Gejala Atmosferik pada Kekayaan Hayati
Daerah yang mempunyai iklim tropis dengan kelembapan tinggi, mempunyai kekayaan hayati sangat banyak. Kekayaan hayati yang banyak mendorong munculnya kegiatan-kegiatan yang memanfaatkan dan mengolah sumber daya itu, seperti industri, perdagangan, perhutanan, kerajinan tangan, dan lain-lain.

2. Dampak Gejala Atmosferik pada Pertanian
Dalam pelaksanaan kegiatan pertanian sangat dipengaruhi oleh perubahan cuaca atau musim. Tiap jenis tanaman memerlukan kondisi cuaca yang berbeda-beda sehingga jenis tanaman yang dibudidayakan di tiap daerah bisa berbeda-beda. Ada tanaman yang memerlukan pengairan banyak saat menanam, ada pula yang tanaman yang hanya membutuhkan sedikit air pada penanamannya. Oleh sebab itu, petani juga wajib memiliki kemampuan untuk memperkirakan saat tanam dan saat panen supaya produksi pertaniannya dapat optimal.

3. Dampak Gejala Atmosferik pada Nelayan Tradisional
Adanya angin darat dan angin laut mempunyai keuntungan sendiri untuk para nelayan, khususnya nelayan tradisional. Nelayan tradisional biasanya masih menggunakan perahu layar, sehingga untuk menggerakan perahunya memanfaatkan gerakan angin.

Dampak Gejala Atmosferik pada Kehidupan Manusia
4. Dampak Atmosferik pada Bidang Komunikasi
Adanya lapisan ionosfer di atmosfer yang dapat memantulkan gelombang radio yang dipancarkan oleh sebuah pemancar, menyebabkan siaran radio dapat diterima di tempattempat yang cukup jauh letaknya. Begitu pula, cuaca yang kurang bagus akan menyebabkan terganggunya siaran televisi, radio, telepon, atau peralatan lainnya yang menggunakan satelit.

5. Dampak Gejala Atmosferik pada Persebaran Penduduk
Iklim mempunyai pengaruh juga pada penyebaran penduduknya. Biasanya aglomerasi penduduk terjadi di daerah dengan kondisi iklim yang mendukung kehidupannya. Daerah gurun mempunyai penduduk yang sangat jarang sebab persediaan airnya sangat kurang.

6. Dampak Gejala Atmosferik pada Budaya
Pengaruh iklim pada budaya dapat kita lihat antara lain pada bentuk rumah dan pakaiannya. Di daerah pedalaman dengan iklim tropis basah misalnya, penduduknya memanfaatkan apa yang tersedia di hutan untuk bahan bangunannya, seperti atap rumbia atau daun palma. Selain itu, rumah itu biasanya didirikan di atas tiang supaya terhindar dari banjir, aman dari serangan hewan buas, serta tidak terlalu panas. Iklim juga mempengaruhi cara berpakaian penduduknya. Orang Eskimo yang tinggal di daerah kutub menggunakan pakaian yang tebal sebab iklimnya yang sangat dingin.

Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas

Kali ini kita akan membahas tentang Gejala-gejala di Atmosfer Serta Dampaknya untuk Kehidupan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Gejala-gejala di Atmosfer Serta Dampaknya untuk Kehidupan

Bumi kita ditutup oleh lapisan air (hidrosfer) dan lapisan udara (atmosfer). Bumi sebagian besar (71%) tertutup oleh lapisan air yang disebut dengan istilah Hidrosfer, berasal dari bahasa Yunani, hidro atau hydro yang berarti ‘air’ dan sfer atau sfhaera yang berarti ‘lapisan’, dan sebagian kecil lagi (29%) adalah permukaan daratan. Menurut kamu, di manakah letak lapisan air terbesar di bumi ini? Apakah di bagian daratan atau di lautan?

Gejala-gejala di Atmosfer Serta Dampaknya untuk Kehidupan


Integrasi Konsep dengan Perenungan
Ia yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Ia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Ia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, sebab itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu untuk Allah, padahal kalian mengetahui.

1. Gejala-gejala Atmosfer
Bagaimanakah cuaca hari ini? Cerah, mendung, atau hujankah? Biasanya cuaca dikatakan cerah jika penyinaran matahari pada bumi tidak dihalangi oleh tebalnya awan. Sebaliknya, jika pancaran sinar matahari ke bumi terhalang oleh lapisan awan yang tebal, menyebabkan cuaca menjadi mendung.

Untuk mempelajarinya lihat bagan berikut:

Gejala-gejala di Atmosfer Serta Dampaknya untuk Kehidupan

a. Sifat Fisik Atmosfer
Atmosfer, adalah lapisan udara yang menyelimuti bola bumi, berisi campuran unsur-unsur gas. Dalam keadaan udara kering komposisi unsur- unsur gas yang terdapat pada atmosfer terdiri atas unsur nitrogen (N 2) 78%, oksigen (O2) 21%, carbon dioksida (CO2) 0,3%, argon (Ar) 1%, dan sisanya unsur Atmosfer Bumi (Sumber: Ensiklopedia Iptek) gas lain seperti: ozon (O3), hidrogen (H), helium (He), neon (Ne), xenon (Xe), krypton (Kr), radon (Rn), metana, dan ditambah unsur uap air dalam jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan ketinggian tempat.

Atmosfer diduga mempunyai ketebalan 1.000 km mulai dari batas permukaan bumi sampai batas jarak di atasnya. Sifat fisik lain dari atmosfer ini adalah dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Jadi, atmosfer pun ikut berputar bersama-sama bumi setiap hari (rotasi) serta beredar mengililingi matahari setiap tahun (evolusi).

b. Manfaat Atmosfer untuk Kehidupan
Atmosfer mempunyai peran yang sangat besar pada kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi. Unsur-unsur gas yang terdapat dalam atmosfer seperti gas oksigen (O2) dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bernapas sebagian makhluk hidup, gas hidrogen (H 2 ) dimanfaatkan untuk proses pembakaran, gas nitrogen (N 2) dimanfaatkan untuk kesuburan tanaman.

Demikian juga lapisan Ozon (O3) yang terbentuk di atmosfer dapat menyaring efek radiasi elektromagnetik yang berasal dari pancaran sinar matahari dan benda-benda angkasa lainnya yang sangat berbahaya untuk kelangsungan makhluk hidup di muka bumi, contohnya seperti radiasi sinar ultra violet, infra merah, dan sinar x.

Aplikasi Konsep Coba kamu, sebutkan lagi mengenai manfaat lain dari atmosfer untuk kehidupan! dan beberapa contoh peristiwa cuaca yang terjadi di atmosfer yang sering kalian temui dalam kehidupan sehari-hari!

c. Struktur Atmosfer
Batas dari setiap lapisan udara pada atmosfer sulit untuk dipastikan dengan tepat sebab gas mempunyai sifat tidak berwarna dan tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Namun, dengan pertolongan pemantauan perangkat bantu cuaca yang berteknologi tinggi, seperti satelit cuaca, batas dan ketebalan dari tiap bagian lapisan atmosfer dapat dilacak.

Dari hasil penelitian itu, para ahli juga dapat menentukan ketinggian setiap bagian lapisan atmosfer dari bumi, meskipun sifat dari ketinggian tersebu selalu berubah- ubah tergantung kepada kondisi musim, letak lintang, dan waktu yang berlaku di berbagai tempat di muka bumi. Bagian lapisan udara yang terdapat di atmosfer antara lain:

1) Troposfer
Lapisan troposfer adalah lapisan udara yang paling ber- pengaruh pada kehidupan di muka bumi. Lapisan udara ini terletak di bagian paling bawah dari lapisan atmosfer yang langsung ber- singgungan dengan permukaan bumi. Ketebalan lapisan troposfer berbeda-beda di setiap tempat di permukaan bumi. Hal ini bergantung pada faktor kondisi musim, letak lintang tempat, dan waktu yang berlaku di bumi. Ionosfer

Ciri-ciri sifat fisik dari lapisan troposfer, antara lain:
  1. tempat kandungan massa udara atau unsur-unsur gas terbesar yang berguna untuk makhluk hidup di bumi,
  2. tempat terjadinya peristiwa-peristiwa cuaca, seperti perubahan suhu dan tekanan udara, angin, badai, embun hasil penguapan, pengawanan, pembentukan salju, hujan, dan petir,
  3. tempat terjadinya penurunan suhu secara vertikal menurut gradien termis, artinya pada lapisan ini setiap kenaikan 100 meter, maka suhu udara akan turun antara 0,5° Celcius sampai 0,6° Celcius,
  4. mempunyai lapisan udara yang bergerak memutar, apa maksudnya? tanyakanlah penjelasannya kepada gurumu?
  5. berfungsi sebagai lapisan penghantar suara. Coba berikanlah contohnya!

2) Stratosfer
Lapisan stratosfer terdapat di atas lapisan troposfer yang dibatasi oleh lapisan tropopause antara keduanya. Lapisan stratosfer mempunyai pengaruh yang cukup besar pada kelangsungan hidup semua makhluk hidup di permukaan bumi sebab pada lapisan ini ozon terbentuk dan berfungsi menyerap sebagaian besar radiasi ultra violet, infra merah, dan sinar x dari cahaya matahari sebelum menyentuh permukaan bumi.

Ciri-ciri sifat fisik lapisan stratosfer, antara lain
  1. mempunyai rata-rata ketinggian antara 11–48 km dari permukaan laut,
  2. pada lapisan paling bawah yang berbatasan dengan tropopause, suhu udara lebih dingin dan mengandung butir- butir belerang (sulfat) yang berfungsi membantu pembentukan hujan pada lapisan troposfer,
  3. secara keseluruhan pada lapisan ini tidak terdapat uap air, debu, awan, hujan, petir dan angin kencang.

3) Mesosfer
Lapisan mesosfer adalah lapisan yang terletak di atas lapisan stratosfer yang dibatasi oleh lapisan yang disebut stratopause dengan ketinggian antara 48 – 80 km dari atas permukaan laut. Pada lapisan mesosfer juga terjadi pemantulan kembali gelombang-gelombang radio ke bumi.

Sifat fisik lapisan atmosfer adalah kepadatan unsur-unsur gasnya berkurang, sedangkan kondisi temperaturnya menurun dengan bertambah ketinggian, sehingga pada bagian paling atas dari lapisan mesosfer ini, diperkirakan suhunya mencapai –10° C.

4) Termosfer
Lapisan termosfer adalah lapisan yang terletak di atas lapisan mesosfer pada ketinggian antara 80 – 482 km di atas permukaan laut. Antara lapisan termosfer dan lapisan mesosfer yang terletak di bawahnya dibatasi oleh lapisan yang disebut mesopouse.

Pada lapisan termosfer terdapat dua lapisan yang memegang peranan penting dalam hubungan radio, yaitu lapisan E atau disebut lapisan Kennely-Heaviside dan lapisan F atau lapisan Appleton. Kedua lapisan ini berfungsi sebagai penangkap dan pemantul berbagai gelombang radio yang dipancarkan dari bumi dan dipantulkan kembali ke bumi, sehingga berbagai siaran radio dari pemancar yang jauh letaknya dapat didengarkan pada radio kita di rumah. Ciri khas dari lapisan termosfer, yaitu mempunyai temperatur yang sangat tinggi (termo artinya panas, dan sfer artinya lapisan). Pada ketinggian 480 km dari permukaan laut, kondisi temperatur lapisan termosfer mencapai 1.232° C.

Info Geo
Kennnely, Heaviside, dan Appleton, adalah nama para sarjana ahli fisika yang meneliti mengenai pancaran dan rambatan gelombang- gelombang radio di atmosfer, dan mereka- lah yang meneliti gejala ionisasi dan menemu- kan lapisan-lapisan pemantul gelombang radio yang terdapat pada lapisan termosfer.

5) Lapisan Eksosfer
Bagian lapisan terakhir dari atmosfer bumi adalah lapisan eksosfer atau lapisan disipasisfer, lapisan ini adalah bagian dari lapisan atmosfer bumi terluar, terletak pada ketinggian antara 482 - 1.000 km di atas permukaan laut.

Ciri fisik lapisan eksosfer, yaitu komposisi udaranya didominasi oleh butir-butir gas hidrogen (H2) yang sangat tipis, tetapi masih mampu menghancurkan berbagai benda angkasa luar yang mencoba masuk dan melewatinya meskipun dalam skala kecil (ingat proses gesekan). Karena komposisi gas pada lapisan ini sangat sedikit mengakibatkan antara satu partikel gas dengan partikel gas lainnya jarang bersinggungan. Maka dapat kita simpulkan bahwa kondisi suhu pada lapisan ini sangatlah dingin.

Karena pengaruh gravitasi bumi pada lapisan eksosfer nyaris tidak terasa, terutama pada bagian lapisan paling atas (magnetopouse), maka butir-butir gas yang ada pada lapisan ini dapat dengan mudah meloloskan diri ke ruang angkasa luar.

2 Cuaca dan Iklim

a. Cuaca
Penyinaran matahari yang berlangsung lama menyebabkan
suhu udara menjadi tinggi. (Sumber: Microsoft Encarta)
Cuaca adalah rata-rata keadaan atmosfer pada waktu tertentu yang relatif singkat dan meliputi wilayah sempit. Adapun keadaan atmosfer ditandai dengan adanya proses dan perubahan yang terjadi pada gejala-gejala atmosfer, seperti suhu, tekanan, dan kelembapan udara, curah hujan, tingkat keawanan, kecepatan, dan arah angin.

b. Iklim
Apa yang dimaksud dengan iklim? Iklim menurut Glenn T. Trewarta adalah susunan atau keadaan umum kondisi cuaca. Dengan kata lain, iklim adalah kelanjutan daripada hasil pencatatan keadaan cuaca dari hari ke hari dalam waktu yang lama, biasanya dalam waktu 26 tahun.

Dalam menentukan klasifikasi iklim di permukaan bumi, para ahli ada yang mendasarkannya pada garis lintang, suhu dan curah hujan, perbandingan rata-rata bulan basah dan bulan kering, dan berdasar ketinggian tempat. Perubahan iklim berlangsung dalam waktu yang lama dan meliputi wilayah yang luas.

Jadi, perbedaan antara cuaca dan iklim hanya terletak pada waktu dan cakupan luas wilayahnya. Sedangkan unsur-unsur pembentuk cuaca dan iklimnya sama, yaitu unsur suhu, tekanan, kelembaban, angin, curah hujan, dan awan.

3. Suhu Udara
Perbedaan suhu udara yang diterima oleh setiap tempat di permukaan bumi, dipengaruhi faktor berikut.

a. Lamanya Penyinaran Matahari
Semakin lama matahari memberikan sinarnya pada suatu tempat di permukaan bumi, makin banyak panas yang diterima, dan suhunya semakin tinggi.

Wilayah yang beriklim tropis mempunyai suhu udara paling tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di permukaan bumi, sebab wilayah ini memperoleh penyinaran matahari sepanjang tahun.

b. Ketinggian Tempat
Semakin tinggi suatu tempat di permukaan bumi, suhunya semakin dingin. Penurunan suhu ini diperkirakan sebesar 0,5 – 0,6°C setiap kenaikan tempat 100 meter. Hubungan perbandingan antara kenaikan dan penurunan suhu dengan ketinggian tempat, disebut sebagai gejala gradien ketinggian. Untuk dapat mengetahui suhu udara di suatu tempat, maka kita wajib tahu dulu suhu rata-rata dan ketinggian tempatnya.

c. Letak Lintang Tempat
Sudut datang pancaran sinar matahari dapat mempengaruhi tingkat pemanasan permukaan bumi. Semakin tegak cahaya matahari datang di suatu daerah, semakin besar pula efek panas matahari yang diterima oleh permukaan bumi di daerah itu, sehingga menyebabkan kondisi suhunya semakin tinggi.

Daerah di permukaan bumi yang menerima pemanasan sinar matahari secara tegak, yaitu dengan sudut datang 90°, adalah daerah-daerah yang terletak di lintang tinggi. Daerah-daerah yang termasuk lintang tinggi, yaitu tempat-tempat yang terletak di sekitar wilayah khatulistiwa.

d. Derajat Keawanan
Awan mempunyai fungsi mengurangi radiasi dari matahari ke bumi dan mengurangi panas yang berasal dari bumi ke atmosfer. Awan mempunyai efek seperti rumah kaca (green house effect). Artinya, awan dapat menahan panas yang dipancarkan bumi. Oleh sebab itu, daerah yang selalu berawan, suhunya rendah. Sebaliknya, daerah yang selalu cerah, suhunya tinggi.

e. Bentuk Permukaan Bumi
Bentuk-bentuk muka bumi mempunyai sifat yang berbeda-beda dalam menerima panas sinar matahari. Sifat permukaan bumi daratan lebih cepat menerima panas dan memancarkan kembali panas itu dengan cepat, jika dibandingkan dengan permukaan laut. Oleh sebab itu, daerah yang terletak di pedalaman yang jauh dari pengaruh angin laut (gurun pasir) pada siang hari suhunya sangat tinggi.

f. Tekanan Udara
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara pada suatu titik daerah di permukaan bumi. Mengapa udara memberikan tekanan kepada permukaan bumi? Karena udara itu mempunyai massa dan menempati ruang. Besarnya tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer. Barometer ini ada yang menggunakan zat cair, disebut barometer air raksa, dan ada pula yang tanpa zat cair, disebut barometer aneroid.

Tekanan udara sangat dipengaruhi oleh kondisi suhunya. Bila kondisi suhunya rendah, maka tekanan udaranya tinggi. Sebaliknya, bila suhunya tinggi, kondisi tekanan udaranya rendah. Naik turunnya tekanan udara akan tergambar pada barometer dalam bentuk barogram. Satuan yang digunakan untuk mengukur tekanan udara adalah bar, dimana 1 bar = 1000 milibar (mb) atau setara dengan satu atmosfer (1 atm = 1013 mb).

g. Kelembapan Udara
Kelembapan udara, adalah banyaknya kandungan uap air yang terdapat dalam udara. Kelembapan udara sering disebut juga dengan istilah kelengasan udara atau kebasahan udara. Udara dikatakan lembap jika kandungan uap airnya banyak, dan sebaliknya, udara dikatakan kurang lembap jika kandungan airnya kurang. Kelembapan udara dapat diukur dengan menggunakan perangkat higrometer atau higrograf.

Untuk menyatakan kelembapan udara, dapat digunakan dua cara, yaitu kelembapan udara absolut atau absolut dan kelembapan udara nisbi atau relatif. Kelembapan Mutlak atau absolut, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan berat uap air dalam tiap volume udara. Berat uap air dinyatakan dalam gram dan volumenya dinyatakan dalam liter atau m³, sehingga satuannya dinyatakan dalam gram/liter atau gram/m³. Jadi, jika dalam satu m³ udara terdapat 25 gram uap air, artinya kelembapan mutlaknya adalah 25 gram/m³. Daerah yang mempunyai kelembapan absolut tertinggi terletak di sekitar pantai yang berdekatan dengan lautan. Kelembapan absolut terendah di wilayah gurun pasir.

Kelembapan nisbi atau relatif, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara banyaknya uap air yang benar-benar terdapat dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara itu pada suhu yang sama. Kelembapan ini dinyatakan dalam persen (%).

h. Angin
Pergerakan angin terjadi sebab adanya perbedaan tekanan udara. Perbedaan tekanan udara terjadi sebab adanya perbedaan suhu udara sebagai akibat dari perbedaan pemanasan matahari di permukaan bumi. Semakin besar perbedaan tekanan udaranya, makin besar pula anginnya. Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan anemometer. Sedangkan untuk melihat arah angin, dapat menggunakan sisip angin atau windsock.

i. Hujan
Hujan adalah salah satu unsur pembentuk cuaca dan iklim yang sangat penting untuk kehidupan di bumi. Hujan terjadi akibat adanya penguapan, yang lalu terjadi pengembunan dan membentuk kumpulan titik-titik air di udara (awan). Setelah kandungan titik-titik air di awan tadi makin banyak dan semakin berat, maka turunlah hujan. Besarnya curah hujan dapat diukur dengan menggunakan rain gage, ombrometer atau ombrograf.

Berdasarkan cara terjadinya, hujan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

1) Hujan Zenithal
Hujan zenithal adalah hujan yang terjadi akibat naiknya massa udara secara vertikal (massa udara bergerak secara konveksi). Sebagaimana diketahui, semakin tinggi suatu tempat suhunya makin dingin, sehingga pada ketinggian tertentu terbentuklah awan dan menurunkan hujan zenithal. Oleh sebab awan terbentuk akibat gerakan udara secara konveksi, maka hujan ini disebut juga hujan konveksi.

2) Hujan Orografis
Hujan orografis adalah hujan yang terjadi di daerah pegunungan. Akibat gerakan udara secara horizontal terhalang oleh adanya pegunungan, menyebabkan massa udara ini dipaksa naik lereng pegunungan. Semakin tinggi pegunungan itu, makin rendah pula suhunya, sehingga terbentuklah awan dan menurunkan hujan di lereng pegunungan itu.

3) Hujan Frontal
Hujan frontal adalah hujan yang terjadi di daerah front. Daerah front adalah daerah tempat pertemuan massa udara panas dengan massa udara dingin. Pertemuan kedua massa udara itu menyebabkan terjadinya kondensasi sehingga terbentuk awan yang menurunkan hujan frontal.

j. Awan
Awan adalah fenomena yang sering kita lihat sebelum terjadinya hujan. Awan yang tebal dan hitam menunjukkan dalam waktu yang tidak lama lagi hujan akan turun. Awan terdiri atas kumpulan titik-titik air dalam udara akibat adanya pengembunan (kondensasi). Pada awan terdapat muatan listrik bertegangan tinggi. Jika terjadi pertemuan dua muatan listrik yang berlawan kutub, akan terjadi sebuah kilatan di angkasa (kilat) yang disertai dengan suara menggelegar (guntur/petir).

Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas

Monday, 14 September 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Perbedaan Kegiatan Produksi dan Distribusi. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perbedaan Kegiatan Produksi dan Distribusi

Kita telah mempelajari tentang kegiatan ekonomi, dari makalah tersebut kita dapat mempelajari pengertian produksi dan distribusi. Apa perbedaan antara kegiatan produksi dan distribusi?

Produksi adalah suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih memiliki manfaat dalam memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. Produksi memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi. Orang atau perusahaan yang menjalankan suatu proses produksi disebut Produsen. Sedangkan distribusi adalah kegiatan ekonomi yang menjembatani kegiatan produksi dan konsumsi. Berkat distribusi barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian kegunaan dari barang dan jasa akan lebih meningkat setelah dapat dikonsumsi. Dari apa yang baru saja diuraikan, tampaklah bahwa distribusi turut serta meningkatkan kegunaan menurut tempatnya (place utility) dan menurut waktunya (time utility).
Perbedaan Kegiatan Produksi dan Distribusi

Perbedaan Kegiatan Produksi dan Distribusi


Adapun beberapa perbedaan kegiatan Produksi dan Distribusi adalah sebagai berikut :
  1. Pelaku kegiatan produksi disebut dengan produsen, sedangkan pelaku kegiatan distribusi disebut dengan distributor
  2. Kegiatan produksi dapat mengubah sifat dan bentuk barang, sedangkan kegiatan distribusi tidak mengubah sifat dan bentuk barang.
  3. Kegiatan produksi tidak mengubah posisi barang untuk meningkatkan kegunaan, sedangkan kegiatan distribusi mengubah posisi barang untuk meningkatkan kegunaan.
  4. Hasil kegiatan produksi tidak selalu memerlukan distributor, tapi kegiatan distribusi selalu memerlukan produsen

Apa perbedaan antara kegiatan Produksi dengan Distribusiyang lain menurut kalian? silahkan berikan pendapat kalian pada komentar di bawah ini.

Kali ini kita akan membahas tentang Contoh Makalah Tentang Interaksi Sosial. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Contoh Makalah Tentang Interaksi Sosial

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia senantiasa melaksanakan hubungan dan pengaruh timbal balik dengan manusia yang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Bahkan, secara ekterm manusia akan mempunyai arti jika ada manusia yang lain tempat dia berinteraksi. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu vs individu. Individu vs kelompok. Kelompok vs kelompok dll. Contoh guru mengajar adalah contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial dan Komunikasi Sosial.

Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak sekunder. Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung atau tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung apabila tanpa melalui perantara. Misalnya A dan B bercakap-cakap termasuk contoh Interaksi sosial secara langsung. Sedangkan kalau A titip salam ke C lewat B dan B meneruskan kembali ke A, ini termasuk contoh interaksi sosial tidak langsung.

Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, indenifikasi, simpati dan empati Imitasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Contoh anak gadis yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana ibunya memakai. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke siswa atau yang kuat ke yang lemah. Atau bisa juga dipengaruhi sebab iklan.

Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya individu yang mengindentikkan (menyadi sama) dengan pihak yang lain. Contoh menyamakan kebiasaan pemain sepakbola idolanya. Simpati adalah interaksi sosial yang didasari oleh foktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain.
Empati adalah interaksi sosial yang disasari oleh faktor dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lebih dari simpati. Contoh tindakan membantu korban musibah alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial. Proses sosial dapat bersifat asosiatif dan disasosiatif Asosiatif meliputi akomodasi, difusi, asimilasi, akulturasi, kooperasi (kerjasama) (Intinya interaksi sosial baik-baik, kerjasama, rukun, harmonis, serasa dll).

Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi dan kompetensi (Intinya interaksi sosial yang tidak baik, penuh persaingan, perang dingin, bertengkar dll). Contoh Bapak memukul anaknya sebab tidak mendengarkan nasihatnya. Menyuruh pergi seorang pengemis dengan cara membentak.


BAB II LANDASAN TEORI

1. SOERJONO SOEKANTO
Interaksi sosial adalah dasar proses sosial yang terjadi sebab adanya hubungan-hubungan sosial yang bergerak maju mencakup hubungan antarindividu, antarkelompok, atau antara individu dan kelompok

2. KIMBALL YOUNG & RAYMOND W. MACK
Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang bergerak maju dan menyangkut hubungan antar individu, antara individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok lainnya

3. BONNER
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih yang saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.


BAB III PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dan individu, antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok dalam berbagai bentuk seperti kerjasama, persaingan ataupun pertikaian.

1. Interaksi antara individu dengan individu
Adalah individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan/stimulus kepada individu lainnya dan sebaliknya, individu yang terkena pengaruh itu akan memberikan reaksi, tanggapan atau respon.

2. Interaksi antara individu dengan kelompok
Secara konkret bentuk interaksi sosial antara individu dengan kelompok bisa digambarkan seperti seorang guru yang sedang berhadapan dan mengajari siswa-siswinya didalam kelas/seorang penceramah yang sedang berpidato didepan orang banyak. Bentuk interaksi semacam ini juga menunjukkan bahwa kepentingan seseorang individu berhadapan/bisa ada saling keterkaitan dengan kepentingan kelompok.

3. Interaksi antar kelompok dengan kelompok
Bentuk interaksi antara kelompok dengan kelompok saling berhadapan dalam kepentingan, namun bisa juga ada kepentingan individu disitu dan kepentingan dalam kelompok adalah satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain.

3.2 Ciri-ciri Interaksi Sosial
Sistem sosial dalam masyarakat akan membentuk suatu pola hubungan sosial yang relatif baku/tetap, apabila interaksi sosial yang terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu relatif lama dan diantara para pelaku yang relatif sama. Pola seperti ini dapat dijumpai dalam bentuk sistem nilai dan norma. Sejarah pola yang melandasi interaksi sosial adalah tujuan yang jelas, kebutuhan yang jelas dan bermanfaat, adanya kesesuaian dan berhasil guna, adanya kesesuaian dengan kaidah sosial yang berlaku dan dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial itu mempunyai karakteristik sebagai berikut :
  1. Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang.
  2. Interaksi sosial selalu menyangkut komunikasi diantara dua pihak yaitu pengirim (sender) dan penerima (receiver).
  3. Interaksi sosial adalah suatu usaha untuk menciptakan pengertian diantara pengirim dan penerima.
  4. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan itu. Interaksi sosial menekankan juga pada tujuan mengubah tingkah laku orang lain yang meliputi perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan dari penerima.

Arah Komunikasi dalam Interaksi Sosial Menurut Gibson (1996) desain organisasi wajib memungkinkan terjadinya komunikasi 4 arah yang berbeda :
  1. Komunikasi ke bawah (down ward communication) adalah komunikasi yang mengalir dari tingkat atas ke tingkat bawah dalam sebuah organisasi seperti kebijakan pimpinan, instansi/memoresmi.
  2. Komunikasi keatas (up ward communication) adalah komunikasi yang mengalir dari tingkat bawah ke tingkat atas sebuah organisasi seperti kotak saran, pertemuan kelompok dan prosedur keluhan.
  3. Komunikasi horizontal (horizontal communication) adalah komunikasi yang mengalir melintasi berbagai fungsi dalam organisasi.
  4. Komunikasi diagonal (diagonal communication) adalah komunikasi yang bersifat melintasi fungsi dan tingkatan dalam organisasi.

3.3 Faktor-faktor Pendorong Interaksi Sosial

1. Faktor Internal
a. Dorongan untuk meneruskan/mengembangkan keturunan. Secara naluriah, manusia mempunyai dorongan nafsu birahi untuk saling tertarik dengan lawan jenis. Dorongan ini bersifat kodrati artinya tidak usah dipelajaripun seseorang akan mengerti sendiri dan secara sendirinya pula orang akan berpasang-pasangan untuk meneruskan keturunannya agar tidak mengalami kepunahan.
b. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan Dorongan untuk memenuhi kebutuhan manusia memerlukan keberadaan orang lain yang akan saling memerlukan, saling tergantung untuk saling melengkapi kebutuhan hidup.
c. Dorongan untuk mempertahankan hidup Dorongan untuk mempertahankan hidup ini terutama dalam menghadapi ancaman dari luar seperti ancaman dari kelompok atau suku bangsa lain, ataupun dari serangan hewan buas.
d. Dorongan untuk berkomunikasi dengan sesama Secara naluriah, manusia memerlukan keberadaan orang lain dalam rangka saling berkomunikasi untuk mengungkapkan harapan yang ada dalam hati masing-masing dan secara psikologis manusia akan merasa nyaman dan tentram bila hidup bersama-sama dan berkomunikasi dengan orang lain dalam satu lingkungan sosial budaya.


2. Faktor Eksternal
a. Imitasi
Imitasi dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan seseorang untuk meniru sesuatu yang ada pada orang lain.
b. Identifikasi
Merupakan kecenderungan/keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.
c. Sugesti
Merupakan cara pemberian suatu pandangan/pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga seseorang itu mengikuti pandangan atau pengaruh yang diberikan tanpa berpikir panjang.
d. Simpati
Merupakan sikap keterkaitan pada orang lain. Sikap ini timbul sebab adanya kesesuaian antara nilai yang dianut oleh kedua belah pihak.
e. Empati
Merupakan proses sosial yang nyaris sama dengan simpati, hanya perbedaannya adalah bahwa empati lebih melibatkan emosi atau lebih menjiawai dalam diri seoang yang lebih daripada simpati.
f. Motivasi
Adalah suatu dorongan atau rangsangan yang diberikan seseorang kepada orang lain sedemikian rupa sehingga orang yang diberi motivasi itu menuruti atau melakukan yang dimotivasikan kepadanya.

3.4 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Syarat terjadinya interaksi sosial yang pokok ada 3 yaitu :

Kontak Sosial

Merupakan awal dari terjadinya interaksi sosial dan masing-masing pihak saling berinteraksi walaupun tidak saling bersentuhan secara fisik. Jadi kontak tidak wajib selalu berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal beberapa macam kontak sosial yaitu :
a. Menurut cara yang dilakukan
Kontak langsung dan kontak tidak langsung.
b. Menurut proses terjadinya/tingkat hubungannya
Kontak primer dan kontak sekunder.
c. Menurut sifat
Kontak positif dan kontak negatif.

Komunikasi

Merupakan pengiriman pesan dan penerimaan pesan dengan maksud untuk dapat dipahami. Proses komunikasi terjadi pada saat kontak sosial berlangsung.

Tindakan Sosial

Adalah tindakan yang mempengaruhi individu yang mempengaruhi individu lain dalam masyarakat dan adalah tindakan berarti yaitu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan orang lain. Berdasarkan cara dan tujuan yang akan dilakukan, maka tindakan sosial dapat dibedakan menjadi 4, yaitu :
a. Tindakan rasional instrumental
Adalah tindakan sosial yang dilakukan seorang dengan memperhitungkan kesesuaian cara yang digunakan lalu tujuan apa yang hendak dicapai dalam tindakan itu.
b. Tindakan rasional berorientasi nilai
Merupakan tindakan yang begitu memperhitungkan cara.
c. Tindakan tradisional
Merupakan tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan rasional. Tindakan ini dilaksanakan sebab pertimbangan adat dan kebiasaan.
d. Tindakan efektif
Tindakan efektif seringkali dilakukan tanpa suatu perencanaan matang dan kesadaran penuh. Tindakan ini muncul sebab dorongan perasaan atau emosi dalam diri pelaku.

3.5 Bentuk dan Sifat Interaksi Sosial
Dalam proses interaksi sosial menghasilkan 2 bentuk yaitu proses sosial asosiatif dan disosiatif.

Proses/interaksi Sosial Asosiatif

Adalah proses sosial yang membawa ke arah persatuan dan kerja sama. Proses ini disebut juga sebagai proses yang positif. Beberapa proses sosial yang bersifat asosiatif adalah :
a. Akulturasi (acculturation)
Merupakan proses sosial yang timbul akibat suatu kebudayaan asing/kebudayaan lain tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.
b. Asimilasi
Proses asimilasi terjadi apabila dalam masyarakat terdapat perbedaan kebudayaan diantara kedua belah pihak, ada proses saling menyesuaikan, ada interaksi intensif antara kedua belah pihak.
c. Kerja sama (cooperation)
Merupakan bentuk yang paling utama dalam proses interaksi sosial sebab interaksi sosial yang dilakukan seorang/kelompok orang memiliki tujuan untuk memenuhi kepentingan/kebutuhan bersama.
d. Akomodasi
Sebagai proses usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk meredakan atau memecahkan konflik dalam rangka mencapai kestabilan.

Proses/interaksi sosial disosiatif

Merupakan interaksi sosial yang membawa ke arah perpecahan. Ada beberapa bentuk interaksi sosial disosiatif yaitu :
a. Konflik Sosial/pertentangan
Dapat diartikan sebagai suatu proses antara dua orang atau lebih, atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
b. Persaingan (competition)
Merupakan suatu proses sosial yang melibatkan mencapai keuntungan melalui bidang kehidupan yang pada suatu saat tertentu menjadi pusat perhatian umum, tanpa ancaman/kekerasan.
c. Kontrovensi
Merupakan suatu proses sosial yang posisinya berada diantara persaingan dan konflik. Kontrovensi dapat berwujud sikap tidak senang, baik secara terbuka/sembunyi-sembunyi.

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan tahap-tahap yang kami tempuh melalui pembahasan dan penjelasan yang memiliki tujuan untuk mengembangkan, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut.
  1. Pentingnya sebuah sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan komunikasi baik dan benar.
  2. Komunikasi dapat membuat kesejahteraan hidup untuk setiap individu.
  3. Interaksi sosial baik dan benar dapat mempererat tali persaudaraan antar umat beragama.
  4. Interaksi sosial antar individu sangat dibutuhkan dalam menjalin sebuah hubungan seperti dalam menjalin hubungan kekeluargaan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007). Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi. Bandung : Yasindo Multi Aspek
  • Kuswanto dan Bambang Siswanto. (2003). Sosiologi. Solo: Tiga Serangkai
  • http://interaksisosial25.blogspot.com/
  • http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/
  • http://sosiologipendidikan.blogspot.com/2009/03/interaksi-sosial.html
  • http://diyo-experience.blogspot.co.id/2013/12/makalah-tentang-interaksi-sosial.html

Kali ini kita akan membahas tentang Perbedaan Metode Sensus House Holder dan Canvasser. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perbedaan Metode Sensus House Holder dan Canvasser

Istilah Sensus dikenal sebagai usaha dan proses penghitungan jumlah penduduk atau ekonomi, yang dilakukan oleh pemerintah dalam jangka waktu tertentu, dilakukan secara serentak, dan bersifat menyeluruh dalam suatu batas negara untuk kepentingan demografi negara yang bersangkutan. Pada pelaksanaannya, metode pencatatan atau sensus yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode house holder dan metode canvasser. Metode house holder dan metode canvasser memiliki beberapa perbedaan.

Perbedaan Metode Sensus House Holder dan Canvasser

  1. Pada Metode House holder, pengisian daftar pertanyaan tentang data kependudukan diserahkan kepada penduduk atau responden, sehingga penduduk diberi daftar pertanyaan untuk diisi dan akan diambil kembali beberapa waktu kemudian, sedangkan pada metode Canvasser pengisian daftar pertanyaan tentang data kependudukan dilakukan oleh petugas sensus dengan cara mendatangi dan mewancarai penduduk atau responden secara langsung.
  2. Metode House holder hanya dapat dilakukan pada daerah yang tingkat pendidikan penduduk relatif tinggi, karena mereka mampu memahami dan menjawab setiap pertanyaan yang diserahkan kepada mereka, sedangkan metode Canvasser dapat dilakukan pada daerah dengan tingkat pendidikan tinggi atau sedang, bahkan rendah.
 
Adapun berdasarkan status tempat tinggal penduduknya, sensus dapat dibedakan menjadi sensus de facto dan sensus de jure.
Perbedaan Metode Sensus House Holder dan Canvasser

a. Sensus De Facto
Pada metode ini pencatatan dilakukan oleh petugas pada setiap orang yang ada di daerah tersebut pada saat sensus diadakan. Metode sensus ini tidak membedakan antara penduduk asli yang menetap ataupun penduduk yang hanya tinggal sementara waktu.
b. Sensus De Jure
Pada metode ini, pencatatan penduduk dilakukan oleh petugas hanya untuk penduduk yang secara resmi tercatat dan tinggal sebagai penduduk di daerah tersebut pada saat dilakukannya sensus, sehingga dapat dibedakan antara penduduk asli yang menetap dan penduduk yang hanya tinggal sementara waktu atau yang belum terdafatar sebagai penduduk setempat. Dengan menggunkan sensus de jure, penduduk yang belum secara resmi tercatat sebagai penduduk di daerah tersebut tidak disertakan dalam penghitungan.

Di Indonesia pada umumnya sensus penduduk dilakukan dengan metode canvasser dengan mengkombinasikan antara sensus de facto dan sensus de jure, sedangkan untuk yang bertempat tinggal tetap dicacah dengan cara de facto.

Sensus penduduk perlu dilakukan agar pemerintah memiliki data kependudukan yang up to date (sesuai dengan perkembangan zaman), sehingga pemerintah dapat:
  1. mengetahui perkembangan jumlah penduduk,
  2. mengetahui tingkat pertumbuhan penduduk,
  3. mengetahui persebaran dan kepadatan penduduk,
  4. mengetahui komposisi penduduk (berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, mata pencaharian, dan sebagainya),
  5. mengetahui arus migrasi,
  6. merencanakan pembagunan sarana dan prasarana sosial sesuai dengan kondisi kependudukan daerah.

Friday, 11 September 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Contoh Makalah : Keragaman Jenis Flora di Papua. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Contoh Makalah : Keragaman Jenis Flora di Papua

Sejarah Geologi pembentukan Pulau Papua yang rumit serta pengaruh ciri fisiografi mengakibatkan Tanah Papua mempunyai lingkungan habitat dengan zona-zona vegetasi terlengkap di Asia-Pasifik mulai dari daerah pantai hingga alpin. Karena adanya pengaruh adaptasi, mengakibatkan tumbuhan Papua mempunyai karakter-karakter yang sangat unik, keadaan ini telah menciptakan kekayaan tumbuhan yang sangat tinggi di Tanah Papua

Menurut Pigram dan Davis (1987), faktor penyebab utama tingginya keragaman hayati dan endemisitas tumbuhan dan fauna di Papua adalah sejarah pembentukan pulau itu. Pulau New Guinea mempunyai 32 lempengan tektonik, setiap lempengan mempunyai karakteristik khusus sehingga mempengaruhi jenis tumbuhan yang hadir diatasnya. Selain itu wilayah geografis Papua yang berbentuk pulau menyebabkan daerah ini mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia sebab adanya isolasi geografi berupa jarak (hamparan dataran), gunung dan laut yang cukup luas. Keragaman jenis tumbuhan di Papua juga sangat dipengaruhi oleh faktor biogeografi pulau yang khas serta faktor-faktor fisik lainnya.

Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) mempunyai hutan dataran rendah terbesar di Asia Tenggara yang masih murni dan mengandung kekayaan dan keanekaragaman kehidupan yang tidak ada taranya. Tanah Papua juga adalah salah satu misteri (sesuatu yang tidak diketahui) terakhir di dunia yang paling besar.... Yang menantang untuk dipahami, merangsang untuk dijelajahi dan menantang pula untuk dikembangkan (Petocz, 1987).

Secara umum lingkungan tumbuhan Tanah Papua dikenal dengan sebutan ”Papuasia”. Perbandingan tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan Tanah Papua (Papuasia) dengan beberapa daerah di kawasan di Indonesia secara singkat dapat ditampilkan sbb:
  1. Sumatera (Andalas) : antara 8.000-10.000 spesies
  2. Kalimantan (Borneo) : antara 10.000-15.000 spesies namun berbeda dari sumber lainnya yang memperkirakan 25.000 jenis tanaman berpembuluh
  3. Jawa (Java) : diperkirakan mencapai 4.500 spesies tanaman ber-pembuluh
  4. Sulawesi (Celebes) : diperkirakan 5.000 spesies tanaman tinggi dan 2.100 jenis diantaranya tanaman berkayu.
  5. Maluku (Moluccas) : belum dapat diperkirakan jumlahnya hanya tercatat 15.000 koleksi yang berasal dari maluku dan 2.900 berasal dari Maluku Utara
  6. Kepulauan sunda kecil : belum dapat diperkirakan jumlahnya Perbandingan jumlah koleksi herbarium di Tanah Papua dan beberapa daerah di Indonesia pada masa penjajahan kolonial Belanda tahun 1817 - 1950 (Steenis- Kruseman, Cyclopedia of Botanical Exploration in Malesia, Flora Malesia I (1). 1950) dan masa pemerintahan Indonesia tahun 1950-2008.
Contoh Makalah : Keragaman Jenis Flora di Papua
Hampir setengah abad Papua berintegrasi dengan RI, belum banyak penelitian tentang keanekaragaman jenis tumbuhan dan potensi lokal masyarakat adat sehubungan dengan pemanfaatan tanaman hutan. Padahal hasil penelitian ini adalah inti dari keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan, sumber informasi untuk pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya baru yang masih potensial.

A. Fitogeografi Flora di Tanah Papua

Pada biasanya jenis tumbuhan di Tanah Papua tumbuh pada habitat hutan primer dan sekunder dengan tipe ekologi adalah hutan yang dipengaruhi oleh faktor edafis dan faktor iklim baik penyebaran hutan secara horisontal atau vertikal. Penyebaran tumbuhan di Tanah Papua biasanya sangat berkaitan dengan penyebaran tumbuhan di wilayah lainnya di Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara. Khusus untuk wilayah Indonesia, berdasar geografi wilayah, penyebaran tumbuhan di Indonesia terbagi menjadi :
  1. Flora Jawa (Java)
  2. Flora Kalimantan (Borneo)
  3. Flora Sumatra (Andalas)
  4. Flora sulawesi (Celebes)
  5. Flora Bali dan Nusa Tenggara (Kepulauan Sunda kecil)
  6. Flora Maluku (Moluccas)
  7. Flora Papua (Papuasia)

Penyebaran tumbuhan di berbagai wilayah di Indonesia telah menciptakan berbagai tipe hutan. Tipe hutan adalah suatu istilah yang digunakan untuk kelompok tegakan yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam susunan jenis dan perkembangannya. Umumnya tipe hutan dibedakan berdasar sebaran di setiap negara sesuai dengan kawasannya.

Penyebaran tumbuhan di Papua sangat dipengaruhi oleh isolasi geografi berupa lautan yang sangat luas, pegunungan yang sangat tinggi dan bentangan alam lainnya seperti sungai, lembah yang luas, tebing yang curam dan patahan-patahan geologi yang ekstrim. Faktor lainnya yang juga sangat mempengaruhi penyebaran tumbuhan adalah lingkungan. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh pada penyebaran tumbuh- tanaman pada suatu wilayah adalah :
  1. Faktor Iklim yang meliputi ; Curah hujan, Suhu, Kelembaban atmosfer, angin, cahaya dan kesetimbangan energi
  2. Faktor Fisiografi dan edafik yang meliputi ; Topografi, Faktor edafik (tanah dan lapis alas geologi)

Faktor-faktor lingkungan yaitu iklim, edafik (tanah), topografi dan biotik antara satu dengan yang lain sangat berkaitan erat dan sangat menentukan kedatangan suatu jenis tanaman di tempat tertentu, namun cukup sulit mencari penyebab terjadinya kaitan yang erat itu (Syafei, 1994). Selanjutnya Marsono (1977) menyebutkan bahwa kedatangan suatu jenis pada suatu tempat atau areal ditentukan oleh beberapa faktor antara lain ; habitat, dimana habitat akan mengadakan seleksi pada jenis yang mampu beradaptasi dengan lingkungan setempat, waktu yang diperlukan untuk mengatasi hal ini, dimana dengan berjalannya waktu vegetasi akan berkembang ke arah yang stabil dan kedatangan satu jenis dapat ditentukan juga oleh vegetasi yang berada disekitarnya.

Akibat dari sejarah geologi dan faktor lingkungan, Papua terbagi menjadi empat wilayah utama keragaman hayati yaitu : daerah utara, daerah selatan, daerah kepala burung (Vogelkop) dan daerah dataran tinggi (Muller, 2005) . Pada daerah-daerah itu, sejarah geologis yang berbeda menghasilkan vegetasi yang berbeda dan pada tingkat tertentu jenis hewannyapun berbeda. Keadaan lingkungan yang spesifik dan adanya penghalang (isolasi geografi) untuk menyebar, maka kebanyakan jenis tanaman dan satwa mempunyai wilayah penyebaran yang terbatas yang menyebabkan tingginya keendemikan.

B. Potensi Tumbuhan Endemik di Papua

Spesies endemik adalah gejala alami sebuah biota untuk menjadi unik pada suatu wilayah geografi tertentu. Sebuah spesies bisa disebut endemik jika spesies itu adalah spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah tempat tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain. Wilayah di sini dapat berupa pulau, negara, atau zona tertentu. Perbedaan yang wajib diperhatikan adalah spesies asli belum tentu spesies endemik. Namun spesies endemik pastilah spesies asli wilayah itu.

1. Tumbuhan Berkayu Tingkat Pohon

Menurut Whitemore, Tantra dan Sutisna (1997), Berdasarkan hasil kompilasi spesimen dari BO dan BZG, laporan penelitian Badan Litbang Kehutanan, penelusuran monograf, publikasi ilmiah dan hasil revisi serta masukan dari beberapa ahli taksonomi tumbuhan, di ketahui bahwa di Tanah Papua untuk tanaman berkayu dengan kriteria diameter 10 cm up dan tinggi lebih dari 5 m, terdapat 86 Famili tanaman berkayu yang terdiri dari 359 genus dan 2.323 spesies.

Hasil kompilasi tanaman berkayu tingkat pohon itu belum lengkap, hal ini disebabkan sebab spesimen yang ada sangat terbatas sehingga untuk beberapa famili seperti Lauraceae, Myrtaceae, Rubiaceae dan Rutaceae yang adalah famili dengan genus dan spesies yang jumlahnya sangat banyak tidak dapat diselesaikan dengan baik. Sehingga hasil ini bukanlah hasil akhir dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan dan kemajuan penelitian di bidang taksonomi tanaman khususnya tanaman berkayu tingkat pohon.

Berdasarkan hasil kompilasi itu, diketahui bahwa jenis tanaman berkayu tingkat pohon yang endemik di Pulau New Guinea atau Tanah Papua (Papua Barat yang termasuk wilayah Negara Republik Indonesia dan Papua Timur yang termasuk wilayah Negara Papua New Guinea) adalah 53 famili yang terdiri dari 175 genus dan 1205 spesies. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa penyebaran tanaman tidak mengenal batas negara sehingga untuk tanaman berkayu tingkat pohon endemik di New Guinea dianggap sama untuk wilayah Republik Indonesia dan Papua New Guinea. Hasil ini masih perlu dibuktikan lagi, namun lambatnya penelitian taksonomi yang disebabkan oleh faktor pembatas sumberdaya manusia, waktu dan biaya dikhawatirkan akan mengakibatkan beberapa jenis endemik akan punah sebelum sempat diketahui dan dibuktikan.

Sebagai contoh adalah jenis Manilkara napali van Royen yang penyebarannya di Teluk Yotefa Kota Jayapura, saat tahun 2008 BPK Manokwari melaksanakan kerjasama penelitian dengan Royal Botanical Garden Kew Inggris, jenis ini sudah tidak ditemukan lagi sebab lokasi terdapatnya jenis ini berdasar catatan Flora Malesiana, kini sudah dijadikan Pasar Yotefa.

2.Tumbuhan Non Kayu

Belum banyak Informasi mengenai tumbuhan non kayu (non woody plant) endemik untuk wilayah Tanah Papua. Hal ini disebabkan sebab kurangnya penelitian taksonomi di wilayah ini, khususnya untuk tanaman non kayu. Hal ini menyebabkan hanya jenis- jenis vegetasi non kayu tertentu saya yang telah diketahui dengan baik oleh masyarakat sebab jenis-jenis itu sering dimanfaatkan dan bernilai ekonomis.

Secara umum tanaman non kayu yang endemik di Papua belum banyak diketahui. Jenis-jenis yang baru diketahui adalah jenis yang sudah dimanfaatkan secara budaya oleh masyarakat adat Papua dan jenis-jenis yang dikerjakan oleh ahli taksonomi, dalam hal ini, jenis-jenis itu dapat terungkap sebab ahlinya memang ada dan pernah melaksanakan penelitian di wilayah Papua. Hasil penelusuran sementara diketahui bahwa sekitar 120 jenis tanaman non kayu adalah jenis endemik di Tanah Papua.

Sama halnya dengan tanaman berkayu, jenis-jenis tanaman non kayu endemik Tanah Papua akan berubah seiring dengan laju perkembangan penelitian taksonomi di daerah ini.

Sumber :
KEKAYAAN, PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN JENIS FLORA DI TANAH PAPUA
Oleh : Krisma Lekitoo

Wednesday, 9 September 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Janji Kemerdekaan Jepang Kepada Bangsa Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Janji Kemerdekaan Jepang Kepada Bangsa Indonesia

Pertahanan Jepang sudah rapuh dan bayangan kekalahan pun sudah semakin nyata di depan mata. Tetapi meskipun dalam keadaan seperti itu, Jepang masih tetap berusaha menarik simpati bangsa Indonesia ,yaitu dengan "menjanjikan kemerdekaan di kemudian hari" kepada bangsa Indonesia. Janji kemerdekaan kepada bangsa Indonesia disampaikan oleh Perdana Menteri Koiso pada tanggal 17 September 1944 di dalam sidang istimewa Parlemen Jepang di Tokyo. Koiso  mengumumkan bahwa daerah Indonesia diperkenankan merdeka dikelak lalu hari. Menghadapi situasi yang gawat demikian, melalui pimpinan Jendral Kumakici Harada berusaha meyakinkan bangsa Indonesia mengenai janji kemerdekaan itu.

Pada akhirnya pada tanggal 1 maret 1945 diumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang disebut "Dokuritsu Junbi Cosakai". Yang mana tujuan dibentuknya BPUPKI ialah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting yang berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pembentukan Negara Indonesia Merdeka. Ketua BPUPKI ini yaitu dr.K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat dengan dibantu oleh dua orang ketua muda, yaitu seorang Jepang yang menjabat sebagai Syucokan Cirebon bernama Icibangase dan R.P Suroso sebagai kepala secretariat dengan dibantu oleh Toyohito Masuda dan Mr. A.G.Pringgodigdo. Anggota BPUPKI 60 orang ditambah 7 orang Jepang tanpa hak suara. Dalam hal ini Ir.Sukarno tidak menjadi ketua, sebab ia ingin lebih aktif dalam berbagai diskusi. Pelantikan anggota BPUPKI dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun raja Jepang (Teno Heika). Pelantikan anggota BPUPKI dihadiri oleh seluruh anggota dan dua orang pembesar Jepang, yaitu Jendral Itagaki dan Jendral Yaiciro Nagano.
Janji Kemerdekaan Jepang Kepada Bangsa Indonesia
Pada saat peresmian ini bendera merah putih dikibarkan disamping bendera Jepang Hinomaru. Tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Untuk mengantisipasi keadaan Jepang yang semakin memburuk, lalu Perdana Menteri Kuniaki Koiso berusaha memulihkan kewibaan Jepang di wilayah jajahannya. Pada tanggal 9 September 1944, Perdana Menteri Kuniaki Koiso memberikan janji kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia, yang disampaikannya pada sidang istimewa Teatau sidang parlemen Jepang.

Adapun tujuan pemberian janji kemerdekaan itu adalah untuk mencegah timbulnya pandangan pada diri Bangsa Indonesia pada Sekutu sebagai pasukan pembebas dari cengkaraman Jepang, melainkan sebaliknya sebagai pasukan penyerbu yang akan menghambat kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Untuk merealisasikan janji Perdana Menteri Kuniaki Koiso, lalu Jepang membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 1 Maret 1945. Dalam bahasa Jepang, BPUPKI disebut dengan dokuritsu Zjunbi Tyoosakai yang bertugas menyelidiki kesiapan bangsa Indonesia dalam menyongsong kemerdekaan dan membentuk pemerintahan sendiri. Kemudian Jepang mengangkat Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat sebagai ketua BPUPKI. Jepang juga memberikan jabatan sebagai anggaota kepada beberapa tokoh lain yang dianggap mempunyai pengaruh besar pada rakyat Indonesia, seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Masyur, K.H. Wachid Hasyim, H. Agus Salim, Soepomo, dan Muhammad Yamin. Selain itu, Jepang juga mengangkat tujuh orang berkebangsaan Jepang yang duduk sebagai pengawas serta tidak mempunyai hak suara untuk mengemukakan pendapat. Pada tanggal 28 Mei 1945 Jepang secara resmi melantik anggota BPUPKI.

Untuk melakukan tugasnya BPUPKI melakukan dua kali masa persidangan. Sidang pertama dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945. Sidang kedua dilaksanakan pada tanggal 10 Juli sampai dengan 16 Juli 1945. Sidang Pertama Sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan 1 Juni 1945 Sidang pertama membahas dan merumuskan dasar negara Indonesia merdeka (Philosofische Grondslag Indonesia Merdeka). Ada tiga orang tokoh yang akan mengemukakan gagasannya mengenai dasar negara Indonesia, yaitu Mr. Mohammad Yamin, Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno.

Sidang tanggal 29 Mei 1945 
Pada sidang tanggal 29 Mei 1945, Mr. Mohammad Yamin memperoleh kesempatan pertama untuk mengajukan rancangan gagasan negara Indonesia merdeka yang diberi judul Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia. Mr. Mohammad Yamin berpendapat bahwa negara Indonesia wajib berpijak pada lima dasar berikut.
  1. Peri kebangsaan
  2. Peri kemanusiaan
  3. Peri ketuhanan
  4. Peri kerakyatan
  5. Kesejahteraan rakyat.

Sidang tanggal 31 Mei 1945 
Dr.Soepomo menyampaikan gagasannya pada tanggal 31 Mei 1945. Menurut Dr. Soepomo, negara Indonesia wajib didirikan dengan asas-asas sebagai berikut.
  1. Persatuan,
  2. Kekeluargaan,
  3. Keseimbangan lahir dan batin,
  4. Musyawarah,
  5. Keadilan rakyat.

Sidang tanggal 1 Juni 1945 
Penyampai gagasan negara Indonesia yang terakhir adalah Ir. Soekarno yang menyampaikan gagasannya pada tanggal 1 Juni 1945. Ir. Soekarno menyatakan bahwa negara Indonesia wajib didirikan di atas lima dasar, dengan rincian sebagai berikut.
Bangsa Indonesia diberikan janji Kemerdekaan oleh Jepang
Ir. Soekarno
  1. Kebangsaan Indonesia atau nasionalisme,
  2. Perikemanusiaan atau internasionalisme,
  3. Mufakat atau demokrasi,
  4. Kesejahteraan sosial,
  5. Ketuhanan yang Maha esa.

Lima gagasan negara Indonesia merdeka itu oleh Ir. Soekarno diberi nama Pancasila. Usulan-usulan itu lalu diterima dan ditampung oleh BPUPKI untuk dimusyawarahkan bersama. Selanjutnya dibentuk sebuah tim khusus yang dinamakan panitia kecil yang bertugas membahas lebih lanjut usulan-usulan dasar negara itu. Adapun tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam Panitia Sembilan adalah sebagai berikut.
  1. Ir. Soekarno,
  2. Abdul Kahar Muzakir,
  3. Drs. Mohammad Hatta,
  4. K.H.Wahid Hasyim
  5. Mr. Mohammad Yamin,
  6. H. Agus Salim,
  7. Ahmad Soebardjo,
  8. Abikoesno Tjokrosoejoso.
  9. A.A. Maramis,

Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan mulai bersidang di Gedung Jawa Hokokai Jakarta. Rapat itu tidak hanya dihadiri oleh Panitia Sembilan tetapi anggota BPUPKI yang lainpun turut hadir sehingga jumlah peserta sidang mencapai 38 orang. Adapun tujuannya adalah untuk merumuskan dasar negara Indonesia dengan bahan-bahan yang telah disampaikan oleh Mr. Mohammad Yamin, Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Panitia sembilan berhasil menetapkan suatu rumusan yang dinamakan Piagam Jakarta (Jakarta Charter)

Kali ini kita akan membahas tentang Potensi Sumber Daya Alam Provinsi Riau. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Potensi Sumber Daya Alam Provinsi Riau

Potensi Sumber Daya Alam di Indonesia beragam di setiap provinsinya, Provinsi Riau yang merupakan salah satu dari 34 provinsi di Indonesia memiliki ragam sumber daya alam tersendiri, berikut penjelasannya.

 

 A. Energi dan Sumber Daya Mineral

Pada sektor pertambangan, terdapat minyak dan gas bumi, batubara. Jumlah produksi minyak bumi Riau mencapai 119.433.077,79 pada tahun 2014 sedangkan gas bumi sebanyak 14. 983.902,05 ribu MMBTU. Produksi minyak mentah ini terus mengalami penurunan tiap tahunnya sehingga perannya terhadap pertumbuhan ekonomi kian menurun. 

Hasil Pertambangan Provinsi Riau tahun 2012-2014
NO
JENIS
SATUAN
Tahun
2012
2013
2014
1.
Minyak Mentah (Crude Oil)
Barel
135.474.058
126.556.611,67
119.433.077,79
2.
Gas Bumi
Ribu MMBTU
5.716.756
10.960.321,71
14.983.802,05
3.
Batu Bara
Ton
1.885.042
2.057.139
N/A
Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, 2014

 
Potensi Sumber Daya Alam Provinsi Riau
Provinsi Riau

B. Lingkungan Hidup dan Tata Ruang

Pada tahun 2014, jumlah tanah yang bersertifikat bangunan atau gedung mengalami penurunan yang cukup drastis dibandingkan tahun 2012 dan 2013 baik sertifikat hak guna bangunan, hak milik maupun hak pakai. Sementara itu, jumlah tanah yang bersertifikat tanah pertanian/perkebuan/gedung mengalami peningkatan hanya pada bidang tanah saja sebesar 9 bidang sedangkan luas tanahnya juga mengalami penurunan dari 70.937.916 Ha pada tahun 2013 menjadi 53.623.580 Ha.
Kondisi Pertanahan di Provinsi Riau Tahun 2012-2014
No
Uraian
Tahun
Satuan
2012
2013
2014*
1
Jumlah Tanah Yang Bersertifikat Bangunan/Gedung
Hak Guna Bangunan
Bidang Tanah HGB
1.189
2.559
316
Bidang
Luas HGB
3.241.263
60.744.634
1.298.997
Ha
Hak Milik
Bidang Tanah Hak Milik
22.007
22.222
6.708
Bidang
Luas Tanah Hak Milik
79.831.793
324.997.605
17.491.168
Ha
Hak Pakai
Bidang Tanah Hak Pakai
72
75
70
Bidang
Luas Hak Pakai
1.757.566
17.552.930
458.297
Ha
2
Jumlah Tanah Yang Bersertifikat Tanah Pertanian/Perkebunan/Gedung
Hak Guna Usaha
Bidang Tanah HGU
1
5
9
Bidang
Luas Tanah HGU
1.486
70.937.916
53.623.580
Ha
Sumber: Kanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Riau, 2014
* : Angka sementara

 

C. Perikanan

Secara umum, kondisi perikanan dan kelautan Provinsi Riau dalam tiga tahun terakhir cukup fluktuatif. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya hasil produksi industri pengolahan perikanan darat seperti karamba, kolam dan perikanan umum. Akan tetapi terjadi penurunan yang cukup signifikan pada produksi ikan tambak hingga 311,2 ton.
Industri Pengolahan Hasil Perikanan Darat
No
Jenis Kegiatan
Tahun
Satuan
2012
2013
2014*
1
Karamba
Karamba
42.479
41.036
2.844.467
Unit
Produksi Ikan Karamba
29.735
28.725
30.783,55
Ton
2
Kolam
Kolam Ikan
24.790,05
131.814,92
2.951,52
Ha
Produksi Kolam Ikan
38.462
45.284
50.895
Ton
3
Perikanan Umum
Rumah Tangga Perikanan
12.532
12.532
13.920
RTP
Produksi Ikan Perikanan Umum
16.068,60
17.096,10
18.434,10
Ton
4
Tambak
Tambak Ikan
488
503
498,16
Ha
Produksi Ikan Tambak
690,6
759,6
311,2
Ton
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, 2014
* : Angka sementara

Selain itu, dari segi industri pengolahan hasil perikanan laut, terjadi peningkatan hasil produksi yang cukup signifikan hingga mencapai 107.212 ton.
Industri Pengolahan Hasil Perikanan Laut
No
Uraian
Tahun
Satuan
2012
2013
2014*
1
Kapal Penangkap Ikan
12.603
12.444
12.023
Unit
2
Rumah Tangga Perikanan
14.823
14.503
14.596
KK
3
Tangkapan ( Perikanan laut dan budidaya)
95.611,03
79.160,51
107.212
Ton
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, 2014
* : Angka sementara

 

D. Perkebunan

Salah satu potensi unggulan daerah adalah sektor perkebunan yang meliputi kelapa sawit dengan produksi sebanyak 7.586.089 ton, kelapa sebesar 404.108 ton dan karet sebesar 305.728 ton.
Data Produksi Perkebunan Per Komoditi di Wilayah Provinsi Riau
No
Komoditi
Produksi (Ton)
2013
2014*)
1
Karet
354.257
305,728
2
Kelapa
364.751
404,108
3
Kelapa Sawit
7.570.854
7,586,089
4
Kakao
1.552
1,541
5
Kopi
2.603
1,845
6
Pinang
8.761
8,55
7
Sagu
126.145
133,936
Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Riau
*) angka proyeksi

 

E. Pertanian

Potensi pertanian di Provinsi Riau pada tahun 2014 cukup membaik dibandingkan pada tahun 2013. Hal ini dapat dilihat dari produksi pertanian utama yaitu padi, jagung dan kedelai. Meskipun produksi padi cendrung menurun dari 434.144 ton pada tahun lalu menjadi 385.475 ton pada tahun 2014. Akan tetapi produksi jagung dan kedelai cendrung meningkat masing-masing hingga 28.619 ton dan 2.334 ton diikuti oleh produksi kacang hijau dan ubi kayu.
Luas, Produksi dan Konsumsi Hasil Pertanian di Provinsi Riau Tahun 2012-2014
No.
Industri Pengolahan Hasil Pertanian
2012
2013
2013
Satuan
1
Padi
Areal Panen Padi
144.015
118.518
106.037
Ha
Produksi Padi
512.152
434.144
385.475
Ton
Produktivitas
35,56
36,63
36,35
Ku/Ha
Beras
321.324
272.382
241.847
Ton
Konsumsi Beras
621,377,23
641,929,66
Ton
2
Jagung
Areal Produksi Jagung
13.284
11.748
12.043
Ha
Produksi Jagung
31.433
28.052
28.619
Ton
Konsumsi Jagung
48,026,29
49.614
Ton
3
Kedelai
Areal Produksi Kedelai
3.686
1.949
2.032
Ha
Produksi Kedelai
4.182
2.211
2.334
Ton
Konsumsi Kedelai
23,716,69
24,501,13
Ton
4
Kacang tanah
Areal Kacang Tanah
1.723
1.325
1.191
Ha
Produksi Kacang Tanah
1.622
1.243
1.131
Ton
Konsumsi Kacang Tanah
11,858,14
12,250,57
Ton
5
Kacang Hijau
Areal Kacang Hijau
865
585
598
Ha
Produksi Kacang Hijau
920
619
645
Ton
Konsumsi Kacang Hijau
13,637,10
14,088,15
Ton
6
Ubi Kayu
Areal Ubi Kayu
3.642
3.863
4.048
Ha
Produksi Ubi Kayu
88.577
103.070
117.585
Ton
Konsumsi Ubi Kayu
84,194,24
86,929,02
Ton
7
Ubi Jalar
Areal Ubi Jalar
1.137
1.028
977
Ha
Produksi Ubi Jalar
9.424
8.462
8.008
Ton
Konsumsi Ubi Jalar
8,893,76
9,187,92
Ton
Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Riau, 2014