Saturday, 29 August 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Sosialisasi sebagai Proses Pembentukan Kepribadian. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Sosialisasi sebagai Proses Pembentukan Kepribadian

Sosialisasi adalah suatu peristiwa yang pasti dilalui oleh setiap individu manusia. Sosialisasi yang dilalui seseorang akan memberikan pengaruh cukup besar pada pembentukan kepribadiannya. Keluarga, teman-teman, sekolah, dan media massa adalah media sosialisasi yang mempunyai peranan sangat besar pada pembentukan kepribadian seseorang.

Pada artikel ini, kita akan membahas mengenai sosialisasi dengan membaginya atas 3 subartikel yaitu Jenis-jenis sosialisasi, Tahapan sosialisasi, dan Media sosialisasi, seperti bagan pada gambar berikut ini.


Sosialisasi sebagai Proses Pembentukan Kepribadian

1. Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang dapat membantu individu supaya dapat diterima dalam kelompoknya melalui proses belajar dan penyesuaian diri. Upaya yang dapat dilakukan individu supaya dia dapat diterima dalam kelompoknya adalah dengan cara belajar dan menyesuaikan diri (adaptasi).

Kita juga wajib mampu menyesuaikan diri kita dengan lingkungan di mana kita berada. Adaptasi sangat diperlukan dalam sosialisasi agar tidak terjadi pertentangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok. Agar kita dapat diterima dalam kelompok atau masyarakat, tentunya sikap dan perilaku kita wajib sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat itu.

2. Jenis-jenis Sosialisasi


Secara umum, sosialisasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
  1. Sosialisasi primer yaitu sosialisasi yang pertama kali dijalani oleh seorang individu sejak masih kecil. Hampir semua individu mendapatkan sosialisasi primer di dalam lingkungan keluarga. Sosialisasi ini menjadi jembatan untuk memasuki lingkungan masyarakat yang lebih luas.
  2. Sedangkan sosialisasi sekunder adalah sosialisasi tahap selanjutnya yang dijalaninya di masyarakat yang lebih luas. Di dalam masyarakat ini, seorang individu dikenalkan pada sektor-sektor baru dalam dunia objektif masyarakat. Sekolah, adalah salah satu tempat di mana seorang individu menjalani sosialisasi sekundernya yang bersifat formal.

3. Tahap-tahap dalam Sosialisasi


Sosialisasi pada diri seorang manusia biasanya terdiri atas 4 tahap yaitu :
a. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap persiapan dimulai sejak anak dilahirkan. Sejak saat itu, seorang anak dipersiapkan untuk mengenal dunia sosialnya serta untuk memahami mengenai dirinya. Pada tahap ini, sosialisasi dilakukan dengan cara meniru apa yang diucapkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, walaupun belum sempurna dan belum mengerti penuh apa maknanya.

b. Tahap Meniru (Play Stage)
Pada tahap ini seorang anak mulai melaksanakan peniruan pada apa yang dilihat dan didengarnya, walaupun belum sempurna. Mungkin kalian masih ingat saat kalian memainkan peranan ibu dengan boneka-boneka milik kalian bukan? Atau kalian perhatikan anak-anak kecil yang sedang berperan sebagai ibu, mungkin kalian akan merasa lucu, sebab ucapan-ucapannya pada boneka itu adalah pengulangan kata-kata yang diucapkan oleh ibunya sendiri.

c. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Pada tahap ini sosialisasi dilakukan dengan penuh kesadaran, sehingga proses peniruan (imitasi) pada orang lain mulai berkurang. Kesadaran mengenai pentingnya kerja sama dalam sebuah kelompok menyebabkan seseorang lebih banyak menjalin interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain, pada tahap ini, seseorang sudah mampu berpartisipasi aktif di masyarakatnya.

d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Other)
Selain mampu berpartisipasi aktif di masyarakatnya, pada tahap ini seseorang mulai menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat yang diatur oleh berbagai norma sosial. Oleh sebab itu, ia mampu menempatkan dirinya pada masyarakat luas. Jika seseorang sudah mencapai tahap ini, dapat dikatakan sebagai orang dewasa.

4. Media Sosialisasi


Dalam proses sosialisasi ada beberapa agen atau media yang mempunyai peranan sangat penting.

a. Keluarga
Keluarga adalah media sosialisasi primer, tempat seseorang pertama kali mendapatkan bekal mengenai pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Dalam keluarga, seseorang diarahkan untuk menjadi pribadi yang dapat berinteraksi dengan pribadi yang lain sesuai dengan harapan masyarakat. Keluarga menjadi peletak dasar-dasar nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian keluarga mempunyai peranan besar dan paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang.

b. Teman sepermainan
Teman sepermainan adalah sekelompok orang yang biasanya mempunyai rentang usia nyaris sama. Teman sepermainan menjadi media sosialiasi kedua yang pengaruhnya sangat besar setelah keluarga. Bagi kelompok remaja, teman sepermainan sangat penting artinya, sebab dalam kelompok ini mereka mempelajari bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain tanpa pengawasan langsung dari orang tua dan guru. Mungkin kalian dapat melihat perbedaan dalam pergaulan sehari-hari, ada orang yang mudah sekali beradaptasi dengan lingkungannya, namun ada pula yang kurang bisa menyesuaikan diri. Proses penyesuaian diri dapat berjalan efektif jika kita sering berinteraksi dengan orang lain.

c. Sekolah
Sekolah adalah media sosialisasi sekunder yang bersifat formal. Pada masyarakat modern, peranan sekolah menjadi sangat penting artinya untuk kelangsungan proses sosialisasi. Hal ini terjadi akibat banyak bermunculannya sekolah-sekolah terpadu, yang memungkinkan seorang anak lebih banyak memanfaatkan waktunya di sekolah dibandingkan di rumahnya sendiri. Sebagai media sosialisasi, sekolah mempunyai arti penting seperti berikut ini.
  1. Memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan daya intelektual agar murid dapat hidup layak di masyarakat.
  2. Membentuk kepribadian murid agar sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat.


d. Media massa
Peranan media massa seperti TV, radio, film, buku, serta media massa yang lainnya mempunyai peran yang tidak kalah pentingnya sebagai agen sosialisasi. Apa yang ditonton atau dibaca seseorang akan berpengaruh pada perkembangan pengetahuan, kepribadian, dan intelektualitas seseorang. Dewasa ini, TV menjadi salah satu agen sosialisasi paling efektif yang mempengaruhi seseorang, baik yang sifatnya positif atau negatif sebab TV adalah media yang umum ditonton oleh seseorang baik untuk melihat informasi atau hiburan.

Fungsi Sosialisasi sebagai Proses Pembentuk Kepribadian Sosialisasi telah dilakukan seseorang sejak masih bayi, yaitu yang terjadi di keluarga. Pada tahap awal sosialisasi, seorang bayi sudah membutuhkan adanya interaksi dengan orang lain. Karena orang tua dan anggota keluarga lainnya yang selalu berada di sekitarnya, maka interaksi yang sering terjadi adalah dengan mereka. Pada saat itulah orang tua mulai memperkenalkan status dan perannya dalam keluarga.

Seiring dengan perkembangan usianya, orang tua mulai membekali dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakatnya. Orang tua berperan sebagai peletak dasar-dasar untuk perkembangan kepribadian seorang anak. Penanaman nilai dan norma yang berlaku di masyarakat sangatlah penting sebab setiap individu adalah bagian dari masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, nilai dan norma yang berlaku adalah nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat itu sendiri. Tentunya, supaya kita bisa diterima masyarakat kita dengan baik, salah satu jalannya adalah dengan menjunjung tinggi nilai dan norma masyarakat itu. Dalam hal ini, nilai dan norma berperan sebagai patokan perilaku individu dalam masyarakat.

Terkadang orang tua menggunakan hadiah (reward) dan hukuman (punishment) untuk menghasilkan kebiasaankebiasaan baik. Sebagai contoh, jika seorang anak melaksanakan sesuatu yang diharapkan, orang tuanya akan memberikan hadiah berupa ciuman, pelukan atau bahkan memberikan hadiah mainan. Namun, jika seorang anak berlaku tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, orang tua akan memberikan sanksi negatif atau hukuman. Pemberian hadiah dan sanksi/hukuman itu adalah salah satu cara yang dilakukan orang tua untuk menyosialisasikan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Oleh sebab itu, dilihat dari sudut pandang kepentingan individu dan masyarakat, pada dasarnya sosialisasi mempunyai dua fungsi utama, yaitu berikut ini.
  1. Dilihat dari sudut pandang kepentingan individu, sosialisasi berfungsi untuk membentuk seorang individu sehingga menjadi anggota masyarakat baik.
  2. Dilihat dari sudut pandang kepentingan masyarakat, sosialisasi berfungsi sebagai perangkat pelestarian, penyebarluasan, dan pewarisan nilai-nilai serta norma-norma yang ada dalam masyarakat.

6. Fungsi Nilai dan Norma dalam Kehidupan

Nilai dan norma sosial mempunyai peranan yang sangat penting sebab fungsinya sebagai pengendali perilaku individu dalam kehidupan bermasyarakat. Dua hal inilah yang pertama kali ditanamkan orang tua dalam sosialisasi di keluarga. Jika seorang anak telah mempunyai nilai dan norma sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, maka diharapkan ia akan mampu menjalankan kehidupan dalam masyarakatnya dengan baik. Dengan demikian, ketertiban dan ketenteraman dalam masyarakat pun akan terwujud.

a. Nilai
Nilai adalah suatu gambaran tentang apa yang diinginkan, pantas, dan berharga yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang yang mempunyai nilai itu. Contohnya, untuk masyarakat desa gotong royong masih mempunyai nilai yang cukup tinggi. Sedangkan untuk masyarakatkota  yang selalu disibukkan oleh berbagai urusan, rekreasilah yang mempunyai nilai lebih penting. Oleh sebab itu, nilai sosial pada tiap kelompok masyarakat dapat saja berbeda. Namun yang jelas, nilai sosial menjadi salah satu tolok ukur kepribadian seseorang di masyarakat.

Secara umum, nilai sosial dibedakan menjadi dua yaitu:
  1. Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan nilai lainnya sebab beberapa hal.
  2. Nilai yang mendarah daging (internalized value) adalah nilai yang sudah menjadi kepribadian dan kebiasaan seseorang sejak dia masih kecil.

Menurut Prof. Notonegoro, nilai sosial yang dimiliki dan dianut masyarakat dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Ketiganya dapat dijelaskan berikut ini.

1) Nilai material, yaitu berbagai pandangan tentang kebendaan yang dibutuhkan jasmani manusia. Contohnya pandangan tentang makanan baik dan menyehatkan.
2) Nilai vital, yaitu pandangan tentang berbagai perangkat yang berguna untuk manusia untuk dapat hidup dan mengadakan kegiatan atau aktivitas.
3) Nilai kerohanian, yaitu berbagai pandangan tentang segala sesuatu yang berguna untuk kebutuhan rohani (jiwa) manusia. Nilai kerohanian dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu berikut ini.

  1. Nilai kebenaran, yaitu nilai yang didasarkan pada pertimbangan akal (cipta) manusia.
  2. Nilai keindahan, yaitu nilai yang didasarkan pada perasaan (estetika) manusia.
  3. Nilai moral, yaitu nilai yang didasarkan pada kehendak atau kemauan (karsa) manusia.
  4. Nilai keagamaan, yaitu nilai yang didasarkan pada ketuhanan yang mempunyai sifat mutlak.

b. Norma
Norma adalah aturan-aturan tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat untuk menentukan batas-batas tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat itu. Norma mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Jika norma ditegakkan, maka ketertiban dan keselarasan dalam hubungan bermasyarakat akan terjalin. Tata tertib yang berlaku di sekolah adalah salah satu contoh norma sosial, yang menjadi batas-batas tingkah laku seorang murid didalam menjalankan aktivitasnya di sekolah sehingga kehidupan dalam lingkungan sekolah menjadi tertib.

Berdasarkan kekuatannya ini, norma dibedakan menjadi empat macam, yaitu norma cara (usage), kebiasaan (folksway), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom).

Cara (usage) adalah norma sosial yang kekuatan memaksanya paling lemah. Norma cara biasanya didasarkan pada sopan santun. Misalnya cara bertamu, cara makan, cara duduk, atau cara berpakaian. Biasanya, orang yang melanggar norma ini hanya mendapatkan sanksi berupa ejekan, cemoohan, dianggap tidak sopan, atau memperoleh teguran ringan.

Kebiasaan (folksway) adalah perbuatan yang disukai oleh masyarakat sehingga dilakukan secara berulang-ulang oleh banyak orang. Jika kebiasaan ini dilakukan sebagian besar masyarakat, maka dinamakan tradisi. Misalnya mengucapkan salam bila bertemu, wajib lapor untuk tamu yang menginap, atau membuang sampah pada tempatnya. Seseorang yang melanggar tradisi biasanya lebih keras dari pelanggaran norma cara, seperti adanya perasaan tidak nyaman, sindiran, teguran, atau akan dianggap aneh oleh orang lain.

Tata kelakuan (mores) adalah kebiasan yang telah dianggap sebagai suatu hal yang benar oleh sebagian besar masyarakat dan dijadikan sebagai kontrol sosial dalam masyarakat. Tata kelakuan pada dasarnya menganjurkan untuk melaksanakan perbuatan tertentu dan melarang untuk melaksanakan perbuatan tertentu.

Adat istiadat (custom) mempunyai kekuatan memaksa yang paling tinggi. Seorang warga masyarakat yang melanggar adat istiadat akan memperoleh sanksi atau hukuman yang cukup berat. Sebagai contoh, pelanggaran pada adat perkawinan atau adat kematian. Jika adat itu dilanggar, maka hukum adatlah yang berlaku.

Berdasarkan sumbernya, norma sosial dapat dibedakan menjadi 4 bagian seperti berikut ini.
  1. Norma kesopanan/etika, yaitu norma-norma yang berlaku dalam hubungan antarmanusia dalam masyarakat.
  2. Norma kesusilaan, yaitu norma yang berasal pada hati nurani, moral, dan filsafat hidup.
  3. Norma hukum, yaitu norma tertulis yang berlaku dan berasal pada kitab undang-undang suatu negara tertentu.
  4. Norma agama, yaitu norma yang mengatur kehidupan bermasyarakat yang berasal pada ajaran agama.

Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas

Kali ini kita akan membahas tentang Interaksi Sebagai Proses Sosial. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Interaksi Sebagai Proses Sosial

Pernahkah kalian dalam seharian penuh tidak keluar rumah, tidak berbicara dengan orang lain, serta tidak melaksanakan kegiatan apapun? Tentu hal ini kita rasakan sangat berat bukan? Pasti kita akan merasakan jenuh, tidak nyaman, dan juga kesepian. Ini menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya membutuhkan adanya interaksi dengan lingkungannya. Interaksi dapat terjadi sebab manusia hidup di tengah-tengah kelompok masyarakatnya.

1. Pengertian Interaksi dan Proses Sosial

Menurut Selo Soemardjan, proses sosial adalah hubungan timbal balik antara manusia (individu) dengan berbagai segi kehidupan bersama. Oleh sebab itu, proses sosial mempunyai pengertian yang cukup luas, di mana di dalamnya mencakup hubungan timbal balik antara manusia dengan segi ekonomi, manusia dengan budaya, manusia dengan politik, dan juga antara manusia dengan manusia lainnya di dalam suatu kelompok masyarakat.


Proses sosial adalah suatu proses yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang manusia, di mana setiap manusia pasti melaluinya. Terjadinya proses sosial sebab manusia adalah makhluk sosial (homo socius). Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari keberadaan orang lain di sekitarnya.

Interaksi sosial adalah bentuk umum drai proses sosial, yang berupa hubungan dinamis, baik antarindividu, individu dengan kelompok, atau antarkelompok sosial. Interaksi dapat menjadi media untuk mempertahankan berbagai norma yang berlaku di masyarakat. Sebagai contoh, dengan interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak, maka norma sopan santun akan tetap terjaga keberadaannya dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini orang tua berperan dalam mentransfer segala norma yang diyakini kebenarannya kepada anggota keluarganya melalui interaksi sosial. Selain itu, interaksi sosial juga dapat menyebabkan berubah atau hilangnya norma yang tadinya dianut oleh masyarakat. Contoh, terbukanya sebuah masyarakat adat terhadp pembaharuan sebab adanya interaksi sosial.

Interaksi Sebagai Proses Sosial
Proses Sosial

2. Macam-macam Interaksi Sosial dalam Proses Sosial

Jika kalian perhatikan dalam kehidupan sosial, interaksi sosial dapat berlangsung melalui dua cara, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung adalah interaksi sosial yang dilakukan secara langsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok secara langsung bertatap muka (face to face) atau dengan menggunakan perantara perangkat komunikasi. Dengan menelepon terjadi interaksi secara langsung walaupun tidak langsung bertatap muka.

Interaksi Sebagai Proses Sosial
Interaksi Sosial

Bahasa adalah media utama sehingga orang dapat melaksanakan percakapan. Dua orang atau lebih yang melaksanakan percakapan tentunya akan menggunakan bahasa yang sama dan yang mereka pahami. Misalkan jika dua orang yang berbeda suku bangsa, satu suku Jawa dan satu orang lagi suku Sunda melaksanakan percakapan dengan bahasanya masing-masing, maka kemungkinan besar interaksi sosial tak akan berlangsung. Tapi jika percakapannya menggunakan bahasa yang sama dan dipahami keduanya, maka interaksi sosial akan berjalan. Interaksi sosial juga dapat berlangsung dengan menggunakan bahasa isyarat. Pada umumnya, bahasa isyarat ini digunakan oleh orang-orang yang menguasai bahasa isyarat (tunawicara). Interaksi langsung secara bertatap muka, biasanya mempunyai kekuatan yang lebih besar dalam memberikan pengaruh pada pihak lainnya.

Sampai saat ini belum ada sistem penerjemah yang baik yang dapat membantu menerjemahkan antar bahasa daerah satu dengan yang lainnya. Contoh sistem penerjemah bahasa daerah yang sedang dikembangkan oleh salah satu perguruan tinggi di Indonesia dapat dilihat pada situs Cammane Project

Sedangkan yang dimaksud dengan interaksi tidak langsung adalah interaksi yang dilakukan dengan menggunakan perantara orang ketiga atau melalui media lain seara tidak langsung. Misalnya saat kamu tidak dapat masuk kelas sebab sakit, kalian mengirimkan surat kepada guru melalui temanmu. Atau saat seseorang menyampaikan khabar duka kepada keluarganya melalui orang lain. Secara tidak langsung, interaksi telah berjalan walaupun tidak secara langsung bertatap muka atau melaksanakan percakapan secara langsung.

Contoh:
Interaksi Sebagai Proses SosialDalam sebuah media cetak diberitakan, bahwa seorang Menteri Kesehatan dari Inggris yaitu Caroline Flint, mengumumkan sebuah layanan NHS (Stop Smoking Services). Layanan ini dimaksudkan untuk membantu menghilangkan kebiasaan merokok masyarakat, baik melalui pesan e-mail, sms, atau panggilan telepon yang bisa diakses dengan mudah lewat perangkat ponsel. Menurut hasil penelitian, dalam waktu satu tahun layanan itu dapat membantu nyaris 300.000 orang sehingga berhenti merokok. Adanya perubahan sikap dari para perokok untuk berhenti merokok, menunjukkan terjadinya interaksi antara Caroline Flint dengan para perokok itu walaupun tanpa berhadapan langsung tapi hanya melalui media komunikasi.

3. Pola-pola Interaksi Sosial

Pada kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari interaksi sosial dapat berlangsung baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok.

a. Interaksi antara Individu dengan Individu
Interaksi antara individu dengan individu dapat terjadi di mana saja. Seperti halnya saat kamu sedang mencurahkan isi hati kepada sahabat terdekatmu. Atau saat seorang guru BP sedang memberikan nasihat kepada salah satu siswanya. Interaksi ini hanya berlangsung antara satu individu dengan satu individu lainnya bukan?

b. Interaksi antara Individu dengan Kelompok
Ketika seorang guru sedang memberikan materi pelajaran di kelas kepada siswa-siswanya, maka di sana telah terjadi interaksi antara individu dengan kelompok. Guru sebagai individu yang berinteraksi dengan sekelompok murid di dalam kelas. Contoh lain, seorang polisi yang sedang memberikan pengarahan mengenai bahayanya narkoba kepada murid di kelas. Jadi, interaksi ini berlangsung antara individu dengan kelompok.

c. Interaksi antara Kelompok dengan Kelompok
Interaksi ini berlangsung antara dua kelompok manusia. Sebagai contoh dalam kegiatan pertandingan sepak bola, di mana dalam pertandingan itu terjadi interaksi antara dua kelompok manusia yang sedang memperebutkan gelar juara.

Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas 

Kali ini kita akan membahas tentang Kedatangan dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia di Nusantara. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Kedatangan dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia di Nusantara

Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunnan di Cina Selatan (Menurut von Hiene Geldern), yaitu di antara sungai-sungai besar Yang-tse, Sungai Mekhong, dan Sungai Menam. Geldern berpendapat demikian sebab ia menemukan benda-benda yang sama bentuknya di Yunnan dan di Indonesia, seperti kapak persegi dan kapak lonjong.

1. Bangsa Proto Melayu
Sekitar tahun 2.000 SM diduga bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) telah tiba di Kepulauan Nusantara. Bangsa yang pertama kali datang ke Indonesia menjadi pembawa kebudayaan neolithikum dalam dua cabang persebaran. Cabang pertama yaitu bangsa yang membawa kebudayaan kapak lonjong yang disebut sebagai ras Papua-Melanosoid. Arah persebarannya dari Yunnan lewat Filipina, lalu ke Sulawesi Utara, Maluku, dan ada yang sampai ke Irian. Sedangkan cabang yang kedua adalah bangsa Proto Melayu yang disebut ras Austronesia. Arah gelombang cabang yang kedua ini dimulai dari Yunnan lalu ke Malaya, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya. Jenis kebudayaan yang mereka bawa berupa kapak persegi.

2. Bangsa Deutero Melayu

Sekitar tahun 500 SM bangsa Deutero Melayu (Melayu Muda) tiba di Kepulauan Nusantara. Mereka datang membawa kebudayaan logam yang berasal dari Dongson, di Vietnam Utara. Benda-benda logam yang mereka bawa di antaranya berupa nekara, candrasa, bejana perunggu, manik-manik, arca dan sebagainya. Rute persebaran nenek moyang dari kelompok Melayu Muda ini dimulai dari daratan Asia ke Thailand, Malaysia Barat, lalu menuju tempat-tempat di Kepulauan Nusantara. Bangsa yang tiba pada gelombang terakhir ini masih tergolong ras Austronesia. Nenek moyang kita dari ras Papua-Melanesoid, Austronesia, dan sisa ras Austro-Melanesoid lantas melahirkan macam-macam suku bangsa yang tersebar di seluruh pelosok wilayah Nusantara seperti sekarang ini.

Agar lebih jelas bagaimana persebaran nenek moyang bangsa Indonesia, perhatikan bagan berikut!



Perhatikan peta penyebaran nenek moyang bangsa Indonesia berikut ini!

Kedatangan dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia di Nusantara
Peta Penyebaran Nenek Moyang bangsa Indonesia
(Sumber: Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, 1)


Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas

Kali ini kita akan membahas tentang Peninggalan Kebudayaan pada Masa Praaksara di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Peninggalan Kebudayaan pada Masa Praaksara di Indonesia

Masa praaksara adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Peninggalan kebudayaan pada masa praaksara di Indonesia sangatlah banyak, terutama pada zaman batu. Kebudayaan zaman batu terbagi lagi menjadi kebudayaan zaman batu tua (palaeolithikum), kebudayaan batu madya (mesolithikum), kebudayaan batu muda (neolithikum), dan kebudayaan batu besar (megalithikum). Untuk lebih jelasnya mari kita simak peninggalan-peninggalan kebudayaan apa saja yang ada di masa praaksara di Indonesia ini.

1. Kebudayaan Batu Tua (Palaeolithikum)

Alat-alat hasil kebudayaan zaman batu tua antara lain.

a. Kapak Perimbas
Kapak ini terbuat dari batu, tidak mempunyai tangkai, digunakan dengan cara menggengam. Dipakai untuk menguliti binatang, memotong kayu, dan memecahkan tulang hewan buruan. Kapak perimbas banyak ditemukan di daerah-daerah di Indonesia, termasuk dalam Kebudayaan Pacitan. Kapak perimbas dan kapak genggam dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Pithecantropus.
Kapak Perimbas
Kapak Perimbas
(Sumber: Encarta Encyclopedia)

b. Kapak Genggam
Kapak genggam mempunyai bentuk nyaris sama dengan jenis kapak penetak dan perimbas, namun bentuknya jauh lebih kecil. Fungsinya untuk membelah kayu, menggali umbi-umbian, memotong daging satwa buruan, dan keperluan lainnya. Pada tahun 1935, peneliti Ralph von Koenigswald berhasil menemukan sejumlah kapak genggam di Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Karena ditemukan di Pacitan maka disebut Kebudayaan Pacitan.

c. Alat-alat Serpih (Flakes)
Alat-alat serpih terbuat dari pecahan-pecahan batu kecil, digunakan sebagai perangkat penusuk, pemotong daging, dan pisau. Alat-alat serpih banyak ditemukan di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, masih termasuk Kebudayaan Ngandong.

Peninggalan Kebudayaan pada Masa Praaksara di Indonesia
Alat-alat Serpih (Sumber: Encarta Encyclopedia)

d. Perkakas dari Tulang dan Tanduk
Perkakas tulang dan tanduk satwa banyak ditemukan di daerah Ngandong, dekat Ngawi, Jawa Timur. Alat-alat itu berfungsi sebagai perangkat penusuk, pengorek, dan mata tombak. Oleh peneliti arkeologis perkakas dari tulang disebut sebagai Kebudayaan Ngandong. Alat-alat serpih dan alat-alat dari tulang dan tanduk ini dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

2. Kebudayaan Batu Madya (Mesolithikum)

Kebudayaan batu madya ditandai oleh adanya usaha untuk lebih menghaluskan perkakas yang dibuat. Dari penelitian arkeologis kebudayaan batu madya di Indonesia mempunyai persamaan kebudayaan dengan yang ada di daerah Tonkin, Indochina (Vietnam). Diperkirakan bahwa kebudayaan batu madya di Indonesia berasal dari kebudayaan di dua daerah yaitu Bascon dan Hoabind. Oleh sebab itu pula kebudayaan dinamakan Kebudayaan Bascon Hoabind. Hasil-hasil kebudayaan Bascon Hoabind, antara lain berikut ini.

a. Kapak Sumatra (Pebble)
Bentuk kapak ini bulat, terbuat dari batu kali yang dibelah dua. Kapak genggam jenis ini banyak ditemukan di Sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera, antara Langsa (Aceh) dan Medan.

b. Kapak Pendek (Hache courte)
Kapak Pendek sejenis kapak genggam bentuknya setengah lingkaran. Kapak ini ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.

c. Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, Kjokken berarti dapur dan modding artinya sampah. Jadi, kjokkenmoddinger adalah sampah dapur berupa kulit-kulit siput dan kerang yang telah bertumpuk selama beribu-ribu tahun sehingga membentuk sebuah bukit kecil yang beberapa meter tingginya. Fosil dapur sampah ini banyak ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.

d. Abris sous roche
Abris sous roche adalah gua-gua batu karang atau ceruk yang digunakan sebagai tempat tinggal manusia purba. Berfungsi sebagai tempat tinggal.

e. Lukisan di Dinding Gua
Lukisan di dinding gua terdapat di dalam abris sous roche. Lukisan menggambarkan satwa buruan dan cap tangan berwarna merah. Lukisan di dinding gua ditemukan di Leang leang, Sulawesi Selatan, di Gua Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, di Danau Sentani, Papua.

3. Kebudayaan Batu Muda (Neolithikum)

Hasil kebudayaan zaman batu muda menunjukkan bahwa manusia purba sudah mengalami banyak kemajuan dalam menghasilkan alat-alat. Ada sentuhan tangan manusia, bahan masih tetap dari batu. Namun sudah lebih halus, diasah, ada sentuhan rasa seni. Fungsi perangkat yang dibuat jelas untuk pengggunaannya. Hasil budaya zaman neolithikum, antara lain.

a. Kapak Persegi
Kapak persegi dibuat dari batu persegi. Kapak ini dipergunakan untuk mengerjakan kayu, menggarap tanah, dan melakukan upacara. Di Indonesia, kapak persegi atau juga disebut beliung persegi banyak ditemukan di Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan Nusatenggara.

b. Kapak Lonjong
Kapak ini disebut kapak lonjong sebab penampangnya berbentuk lonjong. Ukurannya ada yang besar ada yang kecil. Alat digunakan sebagai cangkul untuk menggarap tanah dan memotong kayu atau pohon. Jenis kapak lonjong ditemukan di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara.

c. Mata Panah
Mata panah terbuat dari batu yang diasah secara halus. Gunanya untuk berburu. Penemuan mata panah terbanyak di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

d. Gerabah
Gerabah dibuat dari tanah liat. Fungsinya untuk berbagai keperluan.

e. Perhiasan
Masyarakat pra-aksara telah mengenal perhiasan, diantaranya berupa gelang, kalung, dan anting-anting. Perhiasan banyak ditemukan di Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

f. Alat Pemukul Kulit Kayu
Alat pemukul kulit kayu digunakan untuk memukul kulit kayu yang akan digunakan sebagai bahan pakaian. Adanya perangkat ini, membuktikan bahwa pada zaman neolithikum manusia pra-aksara sudah mengenal pakaian.

4. Kebudayaan Batu Besar (Megalithikum)

Istilah megalithikum berasal dari bahasa Yunani, mega berarti besar dan lithos artinya batu. Jadi, megalithikum artinya batu-batu besar. Manusia pra-aksara menggunakan batu berukuran besar untuk membuat bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada roh-roh nenek moyang. Bangunan didirikan untuk kepentingan penghormatan dan pemujaan, dengan demikian bangunan megalithikum berkaitan erat dengan kepercayaan yang dianut masyarakat pra-aksara pada saat itu. Bangunan megalithikum tersebar di seluruh Indonesia. Berikut beberapa bangunan megalithikum.

a. Menhir
Menhir adalah sebuah tugu dari batu tunggal yang didirikan untuk upacara penghormatan roh nenek moyang. Menhir ditemukan di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.

b. Sarkofagus
Sarkofagus adalah peti mayat yang terbuat dari dua batu yang ditangkupkan. Peninggalan ini banyak ditemukan di Bali.

c. Dolmen
Dolmen adalah meja batu tempat menaruh sesaji, tempat penghormatan kepada roh nenek moyang, dan tempat meletakan jenazah. Daerah penemuannya adalah Bondowoso, Jawa Timur.

d. Peti Kubur Batu
Peti Kubur Batu adalah lempengan batu besar yang disusun membentuk peti jenazah. Peti kubur batu ditemukan di daerah Kuningan, Jawa Barat.

e. Waruga
Waruga adalah peti kubur batu berukuruan kecil berbentuk kubus atau bulat yang dibuat dari batu utuh. Waruga banyak ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.

f. Arca
Arca adalah patung terbuat dari batu utuh, ada yang menyerupai manusia, kepala manusia, dan hewan. Arca banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

g. Punden Berundak
Punden berundak-undak adalah tempat pemujaan. Bangunan ini dibuat dengan menyusun batu secara bertingkat, menyerupai candi. Punden berundak ditemukan di daerah Lebak Sibeduk, Banten Selatan.

5. Kebudayaan Zaman Logam

Kebudayaan perunggu di Indonesia diperkirakan berasal dari daerah bernama Dongson di Tonkin, Vietnam. Kebudayaan Dongson datang ke Indonesia kira-kira abad ke 300 SM di bawa oleh manusia sub ras Deutro Melayu (Melayu Muda) yang mengembara ke wilayah Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan zaman logam, antara lain.

a. Nekara
Nekara adalah tambur besar yang berbentuk seperti dandang yang terbalik. Benda ini banyak ditemukan di Bali, Nusatenggara, Maluku, Selayar, dan Irian.

b. Moko
Nekara yang berukuran lebih kecil, ditemukan di Pulau Alor, Nusatenggara Timur. Nekara dan Moko dianggap sebagai benda keramat dan suci.

c. Kapak Perunggu
Kapak perunggu terdiri beberapa macam, ada yang berbentuk pahat, jantung, dan tembilang. Kapak perunggu juga disebut sebagai kapak sepatu atau kapak corong. Daerah penemuannya Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, dan Irian. Kapak perunggu dipergunakan untuk keperluan sehar-hari.

d. Candrasa
Sejenis kapak namun bentuknya indah dan satu sisinya panjang, ditemukan di Yogyakarta. Candrasa dipergunakan untuk kepentingan upacara keagamaan dan sebagai tanda kebesaran.

e. Perhiasan Perunggu
Benda-benda perhiasan perunggu seperti gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, bandul kalung pada masa perundagian, banyak ditemukan di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Sumatera.

f. Manik-manik
Manik-manik adalah benda perhiasan terdiri berbagai ukuran dan bentuk. Manik-manik dipergunakan sebagai perhiasan dan bekal hidup setelah seseorang meninggal dunia. Bentuknya ada silider, segi enam, bulat, dan oval. Daerah penemuannya di Sangiran, Pasemah, Gilimanuk, Bogor, Besuki, dan Buni.

g. Bejana Perunggu
Bejana perunggu adalah benda yang terbuat dari perunggu berfungsi sebagai wadah atau tempat menyimpan makanan. Bentuknya bulat panjang dan menyerupai gitar tanpa tangkai. Benda ini ditemukan di Sumatera dan Madura.

h . Arca Perunggu
Benda bentuk patung yang terbuat dari perunggu menggambar orang yang sedang menari, berdiri, naik kuda, dan memegang panah. Tempat-tempat penemuan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor, dan Palembang.

Kali ini kita akan membahas tentang Perkembangan Kehidupan pada Masa Praaksara di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perkembangan Kehidupan pada Masa Praaksara di Indonesia

Perkembangan corak kehidupan masyarakat purba pada masa praaksara dapat dilihat dari cara mereka memenuhi kebutuhan pokok dan alat-alat yang dibuat dan digunakannya. Sejarawan Indonesia Sartono Kartodirdjo dan Nugroho Notosusanto membagi zaman praaksara menjadi empat tahapan.

1. Masa Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Pada zaman Palaeolithikum, kira-kira 2 juta tahun lalu, manusia purba hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain (Nomaden). Mereka berpindah-pindah mencari daerah yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketergantungan hidup pada alam adalah pokok kehidupan manusia purba zaman itu. Mereka berburu satwa liar dan mengumpulkan bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan. Pola ini disebut sebagai food gathering. Untuk berburu dan mengumpulkan bahan makanan mereka menggunakan alat-alat sederhana, apa adanya yang tersedia di alam sekitar mereka.

Ada beberapa alat-alat dari batu yang ditemukan di wilayah Indonesia, seperti kapak perimbas, kapak penatah, dan kapak genggam. Batu-batu serpih yang terbuat dari pecahan batu digunakan sebagai pisau atau perangkat pemotong, juga sebagai mata panah atau tombak. Alat-alat dari batu banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Sangiran, Jawa Timur.

Alat-alat dari tulang dan tanduk juga ditemukan di daerah Ngandong, Jawa Timur. Digunakan sebagai ujung tombak dan perangkat untuk mencungkil atau menggali umbi-umbian dari dalam tanah. Jenis manusia yang hidup pada berburu dan mengumpulkan makanan ini, adalah Meganthropus Palaejavanicus, Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

Masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan terus berlanjut pada zaman Mesolitihikum. Kehidupan semi nomaden. Artinya ada yang tinggal menetap, tetapi masih ada yang berpindah-pindah. Mereka memilih tempat di gua/ceruk, tepi pantai, atau tepi sungai. Masa mesolithikum berlangsung selama kurang lebih 20.000 tahun silam.


2. Masa Bercocok Tanam dan Beternak (Food Producing)
Manusia purba Indonesia sudah memasuki masa bercocok tanam sekitar 4.000 tahun sebelum Masehi. Terbukti dengan adanya penemuan gambar tanaman padi di Gua Ulu (Leang) Sulawesi Selatan. Menurut ahli arkeologi Indonesia, Prof. Dr. R. Soekmono, perubahan dari food gathering ke food producing adalah satu revolusi dalam perkembangan zaman praaksara Indonesia. Disebut revolusi sebab terjadi perubahan yang cukup mendasar dari tradisi mengumpulkan makanan dan berburu menjadi bercocok tanam. Oleh sebab itu, zaman bercocok tanam dianggap sebagai dasar peradaban Indonesia sekarang.
Perkembangan Kehidupan pada Masa Praaksara di In
Dalam hal kepercayaan mereka melaksanakan pemujaan kepada arwah nenek moyang yang dianggap sangat mempengaruhi kehidupan mereka (animisme) dan mempercayai kepada benda-benda alam yang dianggap mempunyai kekuatan (dinamisme).

Manusia purba pada masa bercocok tanam menciptakan alat-alat sederhana untuk menunjang kegiatan bercocok tanam, teknik pembuatannnya lebih maju, kapak itu bentuknya sudah halus, diupam (diasah), seperti kapak persegi atau beliung persegi. Terbuat dari batu berbentuk persegi, gunanya untuk menggarap ladang. Adanya juga Kapak Lonjong, terbuat dari batu kali yang berwarna kehitam-hitaman. Umumnya jenis kapak ini digunakan sebagai pacul atau sebagai kapak biasa. Dua jenis kapak ini banyak ditemukan di Indonesia.

Tradisi bercocok tanam berlangsung hingga zaman logam dan zaman megalithikum dan menyebar di seluruh wilayah Indonesia.


3. Masa Megalithikum (Masa Kebudayaan Batu Besar)

Adanya kebudayaan megalithik terungkap dari penemuan bangunan-bangunan yang dibuat dari batu besar.

Bahan-bahan bangunan megalithik kerap kali wajib didatangkan dari tempat lain sebelum didirikan di suatu tempat yang terpilih. Dalam kenyataannya, bangunan megalithik memang didirikan demi kepentingan seluruh masyarakat yang membangunnya. Bangunan ini didirikan untuk kepentingan penghormatan dan pemujaan roh nenek moyang. Dengan demikian, pendirian bangunan megalitihik berkaitan erat dengan kepercayaan yang dianut masyarakat pada masa itu.

Bangunan megalithik tersebar di seluruh Indonesia. Ada yang dibangun secara berkelompok dan ada yang berdiri sendiri. Kehidupan menetap yang telah dijalani menimbulkan ikatan-ikatan antara manusia dengan alam semestanya. Oleh sebab itu, nenek moyang kita mempunyai kepercayaan yang berkaitan dengan alam sekitarnya.


4. Masa Zaman Logam
Zaman logam adalah zaman dimana manusia sudah mengenal teknologi pertukangan secara sederhana. Pada masa ini manusia mulai mengenal logam perunggu dan besi. Pengolahan logam memerlukan suatu tempat dan keahlian khusus. Tempat untuk mengolah logam dikenal dengan nama perundagian dan orang yang ahli mengerjakan pertukangan logam disebut undagi. Maka zaman logam disebut juga zaman perundagian.

Pada masa ini nenek moyang bangsa Indonesia telah pandai membuat barang-barang penunjang kehidupan dari logam. Di Indonesia logam yang digunakan adalah perunggu dan besi. Maka muncul daerah-daerah produsen barang, yang lalu ditukarkan dengan barang kebutuhan lain, sehingga terjadilah barter. Kebutuhan barang makin meningkat memunculkan daerah konsumen, sehingga terjadilah perdagangan antar daerah. Kebudayaan zaman logam terus berkembang hingga munculnya kerajaan-kerajaan di Indonesia.


Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas 

Friday, 28 August 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Berbagai Jenis Manusia Indonesia yang Hidup pada Masa Praaksara. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Berbagai Jenis Manusia Indonesia yang Hidup pada Masa Praaksara

Penelitian tentang jenis-jenis manusia Indonesia yang hidup pada masa praaksara sudah dimulai sejak abad ke-18 M, dirintis oleh seorang dokter Belanda bernama Eugene Dubois. Mula-mula ia mengadakan penelitian di Sumatera Barat namun tidak membuahkan hasil, lalu ia pindah ke Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, Eugene Dubois berhasil menemukan fosil manusia purba di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil manusia purba ia beri nama pithecanthropus erectus, yang artinya manusia kera yang berjalan tegak.

Penemuan fosil selanjutnya pada tahun 1936 oleh Weidenrich. Eugene Dubois menemukan fosil tengkorak anak di Lembah Sungai Brantas, desa Jetis, Mojokerto. Weidenrich menamakan fosilnya Pithecanthropus Robustus. Fosil sejenis juga ditemukan oleh von Koenigswald di Mojokerto, ia menyebutnya Pithecanthropus Mojokertensis.

Pada penelitian dan penggalian arkeologis antara tahun 1936–1941, von Koenigswald berhasil menemukan fosil manusia purba. Diperkirakan fosil manusia purba itu adalah manusia tertua di Indonesia yang hidup satu sampai dua juta tahun yang lalu. Oleh karena itu para ahli arkeologi menamakannya Meganthropus Palaeojavanicus, artinya manusia raksasa tertua dari Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus hidup sezaman dengan Pithecanthropus Mojokertensis, namun tingkat kehidupannya lebih primitif.
Manusia Indonesia yang Hidup pada Masa Praaksara
Meganthropus Palaeojavanicus
Fosil Homo Soloensis

Selanjutnya, ditemukan fosil-fosil manusia purba Indonesia, yang tingkat kemampuannya lebih tinggi dibanding jenis Pithecanthropus, yaitu jenis Homo Sapiens (manusia yang berpikir). Jenis manusia homo sapiens yang ditemukan di Indonesia, antara lain.

1. Homo Wajakensis
Fosil-fosil jenis homo ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889. Tempat penemuannya di desa Wajak, Tulungagung, Jawa Timur. Tingkatan kemampuannya lebih tinggi dibanding Pithecanthropus Erectus. Homo Wajakensis sebagian besar bertempat tinggal di Indonesia bagian barat termasuk ras Mongoloid sedangkan sebagian lagi bertempat tinggal di Indonesia bagian timur termasuk subras Austromelanesoid.

2. Homo Soloensis

Fosil-fosil jenis Homo Soloensis ditemukan di Lembah Sungai Bengawan Solo pada penelitian dan penggalian antara tahun 1931 – 1941 oleh Ter Haar dan Oppenoorth.

Pengetahuan:
Jenis-Jenis Manusia Purba yang ditemukan di Daratan Asia, Afrika, dan Eropa
  • Sinanthropus Pekinensis (Homo Pekinensis), di temukan di gua besar bukit kapur daerah Choukoutien, Cina oleh Davidson Black pada tahun 1927.
  • Ramapithecus, ditemukan di bukit Siwalik, Pakistan oleh G.E. Lewis pada tahun 1930.
  • Australopithecus Africanus dan Australopithecus Robustus, ditemukan di daerah Taung, Provinsi Tanjung Harapan, dekat Johannesburg, Afrika Selatan oleh Raymond Dart pada tahun 1924.
  • Australopithecus Boisei dan Homo Habilis, ditemukan di Lembah Olduvai, Tanzania Utara, oleh Louis Leakey dan Mary Leakey pada tahun 1931.
  • Homo Africanus, ditemukan di Kanapoi, Kenya Selatan oleh Bryan Patteson dan William W. Howells pada tahun 1965.
  • Homo 1470 (Tengkorak 1470), ditemukan di pantai timur Danau Turkana, Kenya Utara oleh Richard Leakey di antara tahun 1968-1972.
  • Homo Neanderthalensis, ditemukan di lembah Neander dekat Dusseldorf, Jerman pada tahun 1856.
  • Cro-Magnon, ditemukan di lembah Vezere oleh Les Eyzies, pada tahun 1868.
Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas 

Kali ini kita akan membahas tentang Pengertian dan Kurun Waktu masa Praaksara. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian dan Kurun Waktu masa Praaksara

Sejak manusia muncul di muka bumi ini, manusia belum langsung mengenal tulisan. Manusia membutuhkan proses waktu yang sangat lama untuk mengenal tulisan dan kemampuan membaca. Ketika manusia belum mengenal tulisan maka zaman itu disebut masa praaksara, sedangkan saat manusia sudah mengenal tulisan dan kemampuan membaca disebut masa sejarah.

Secara garis besar, seluruh kurun waktu sejarah terbagi atas dua masa:
  1. Masa praaksara (prehistory) adalah zaman manusia belum mengenal tulisan. Masa pra-aksara dimulai sejak adanya kehidupan di permukaan muka bumi hingga manusia mengenal tulisan.
  2. Masa sejarah/aksara masa dimana manusia sudah mengenal tulisan. Kurun waktunya merentang sejak manusia mengenal tulisan hingga sekarang.
Pengertian dan Kurun Waktu masa Praaksara

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembedaan masa praaksara dan masa sejarah didasarkan pada fakta apakah manusia sudah mengenal tulisan-menulis atau belum. Kita dapat mengetahui kehidupan masyarakat praaksara, setelah para ahli purbakala (arkeolog) melaksanakan penggalian dan penelitian pada benda-benda purbakala baik yang berupa fosil atau artefak.
  1. Fosil adalah semua bekas atau sisa-sisa tulang belulang jenis manusia, binatang, atau tanaman yang telah membatu sebab tertimbun tanah ribuan atau jutaan tahun.
  2. Artefak adalah segala benda atau perkakas yang dibuat dan digunakan manusia purba untuk keperluan hidupnya.

Untuk lebih dalam mengetahui kehidupan paling awal pada masa praaksara ini, perkembangan keadaan bumi terbagi atas zaman-zaman sebagai berikut.
  1. Zaman arkhaikum, yaitu zaman tertua yang berlangsung kira-kira 2500 juta tahun. Zaman ini belum ada kehidupan, sebab kulit bumi masih panas sekali.
  2. Zaman paleozoikum, yaitu zaman hidup tertua yang berlangsung kira-kira 340 juta tahun. Zaman ini sudah ada kehidupan, dimulai adanya hewan kecil yang tidak bertulang belakang, jenis ikan, ampibi, dan reptil.
  3. Zaman mesozoikum, yaitu zaman hidup pertengahan yang berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Zaman ini ditandai dengan munculnya jenis reptil raksasa, seperti Dinosaurus (panjangnya 12 meter) dan Atlantasaurus (panjangnya 30 meter). Selain itu, jenis burung dan hewan menyusui pun telah berkembang.
  4. Zaman neozoikum atau kainozoikum, yaitu zaman hidup baru yang berlangsung kira-kira 60 juta tahun yang lalu sampai kini. Zaman ini terbagi ke dalam:
  • zaman tertair, yaitu zaman semakin berkembangnya hewan menyusui, sedangkan reptil besar mulai punah. Jenis kera dan kera-manusia sudah ada pada akhir zaman ini.
  • zaman quartair, yaitu zaman adanya manusia di atas permukaan bumi. Zaman ini dibagi ke dalam pleistosen(dilluvium) yang berlangsung kira-kira 600.000 tahun, zaman ini disebut sebut juga zaman es (glasial) dan zaman holosen berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga dewasa ini.

Berdasarkan kajian arkeologis, zaman pra-aksara dibagi menjadi:

a. Zaman Batu
Disebut zaman batu sebab manusia pada saat itu menggunakan alat-alat penunjang kehidupannya sebagian besar terbuat dari batu.
Dari alat-alat itu dapat diketahui bagaimana caranya hidup manusia. Meskipun disebut zaman batu, tidak berarti alat-alat perkakas semuanya terbuat dari batu, ada juga alat-alat perkakas yang terbuat dari kayu dan bambu. Zaman Batu dapat dibedakan seperti berikut ini:

  1. Zaman batu tua (palaeolithikum) ditandai dengan penggunaan perkakas-perkakas yang terbuat dari batu kasar, tidak diasah, dan belum halus, manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden), tergantung kepada alam atau masa mengumpulkan makanan (food-gathering), zaman ini berlangsung selama 600.000 tahun silam, dan selama Kala Pleistocen.
  2. Zaman batu tengah (mesolitikum) ditandai dengan penggunaan perkakas-perkakas yang sudah agak halus dan orang sudah mulai bertempat tinggal, dan berlangsung kurang lebih 20.000 silam.
  3. Zaman batu baru (neolitikum) ditandai dengan pembuatan alat-alat batu yang sudah diasah dan diupam, bertempat tinggal tetap, telah bercocok tanam atau masa menghasilkan makanan (food-producing), telah mengenal kepercayaan, dan telah berlangsung selama 2.000 – 4.000 tahun silam.
  4. Zaman batu besar (megalithikum) ditandai dengan membuat dan meninggalkan kebudayaan yang terbuat dari batu-batu besar, berkembang sampai zaman perunggu, dan sudah mengenal kepercayaan pada roh nenek moyang.

b. Zaman Logam
Disebut zaman logam sebab manusia pada saat itu menggunakan logam untuk membuat alat-alat penunjang kehidupannya. Zaman logam terbagi atas zaman perunggu dan zaman besi. Namun untuk wilayah Indonesia hanya mengenal zaman perunggu dan zaman besi. Di Indonesia zaman perunggu bersamaan dengan zaman besi, maka zaman logam disebut zaman perunggu.


Masa pra-Aksara.
Pembagian Masa pra-Aksara.

Nugroho Notosusanto dan Sartono Kartodirdjo membagi zaman praaksara Indonesia ditinjau dari perkembangan sosial, ekonomi dan budaya sebagai berikut.

(1) Masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, dengan ciri-ciri antara lain :
  1. Alat kehidupan manusia pada saat itu berupa kapak perimbas (sejenis kapak yang digenggam, tidak bertangkai dan berbentuk masif), perangkat serpih, dan perangkat tulang.
  2. Hidup berkelompok-kelompok yang tersusun dari keluarga-keluarga kecil.
  3. Telah berkembang seni lukis yang dibuat pada dindingdinding gua, seperti di gua Leang-leang, Sulawesi Selatan.
  4. Belum melaksanakan kegiatan penguburan mayat.
  5. Telah ditemukan teknologi sederhana untuk mendatangkan api.
  6. Bahasa sebagai perangkat komunikasi mulai terbentuk melalui kata-kata dan tanda-tanda dengan gerakan badan.
  7. Bertempat tinggal secara tidak tetap di dalam gua-gua alam, di tepi sungai, dan tepi pantai.
  8. Kelompok manusia purba di pinggir pantai di antaranya meninggalkan kjokkenmodinger (kebudayaan sampah dapur).

(2) Masa bercocok tanam dan beternak, dengan ciri-ciri antara lain.
  1. Alat-alat batu yang digunakan biasanya sudah diupam hingga halus. Alat batu yang digunakan berupa kapak persegi, kapak lonjong, alat-alat obsidian, dan mata panah.
  2. Masyarakat mulai menunjukkan tanda-tanda menetap di suatu tempat.
  3. Telah terbentuk desa-desa kecil semacam pedukuhan.
  4. Kegiatan bercocok tanam telah menghasilkan keladi, sukun, pisang, durian, manggis, rambutan, duku, salak dan sebagainya.
  5. Mengenal sistem barter (tukar menukar barang dengan barang).
  6. Perahu bercadik dan rakit banyak digunakan sebagai sarana lalu lintas air.
  7. Alat komunikasi berupa bahasa dianggap sangat penting.
  8. Tumbuh kepercayaan animisme (pemujaan pada roh nenek moyang) dan dinamisme (kepercayaan pada benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib).

(3) Masa Megalithikum (zaman batu besar), dengan peninggalan-peninggalan seperti berikut ini.
  1. Dolmen, yaitu bangunan seperti meja dari batu berkaki menhir yang digunakan untuk pelinggih roh atau tempat sesajian.
  2. Menhir, yaitu sebuah tugu batu yang diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati orang mati.
  3. Sarkofagus, adalah bangunan peti mati yang bentuknya seperti lesung.
  4. Peti kubur batu, yaitu peti mayat yang dibentuk dari enam papan batu, terdiri dari dua sisi panjang, dua sisi lebar, sebuah lantai, dan sebuah penutup besi.
  5. Punden berundak, yaitu bangunan berupa batu yang berundak-undak, yang biasanya terdiri dari tujuh dataran (undak), digunakan untuk kegiatan pemujaan pada arwah nenek moyang.
  6. Waruga, yaitu kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat.
  7. Arca-arca megalitik, berupa arca-arca yang menggambarkan manusia atau binatang, seperti gajah, harimau, kerbau, harimau, monyet dalam ukuran yang besar.

(4) Masa Perundagian (masa kemahiran teknik), dengan peninggalan-peninggalan seperti berikut ini.
  1. Nekara, yaitu semacam tambur besar dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup; dipercayai sebagai bagian bulan yang jatuh dari langit, dan sering digunakan untuk upacara mendatangkan hujan.
  2. Moko, yaitu benda semacam nekara yang lebih ramping yang terdapat di Pulau Alor yang digunakan sebagai benda pusaka atau sebagai mas kawin.
  3. Kapak perunggu, disebut juga kapak sepatu atau kapak corong. Bentuk kapak berupa pahat, jantung, atau tembilang.
  4. Bejana perunggu, yaitu sebuah benda yang bentuknya mirip gitar Spanyol.
  5. Arca-arca perunggu, dengan bentuk arca orang yang sedang menari, berdiri, naik kuda, atau orang yang sedang memegang panah.
  6. Berbagai macam perhiasan, seperti gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, dan bandul/kalung.

Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas 

Wednesday, 26 August 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Pengaruh Pembentukan Permukaan Bumi untuk Kehidupan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengaruh Pembentukan Permukaan Bumi untuk Kehidupan

Pembentukan permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya tenaga endogen dan tenaga eksogen memberi pengaruh yang besar pada makhluk hidup. Pengaruh itu bisa menguntungkan dan juga merugikan untuk manusia sehubungan dengan musibah yang ditimbulkannya. Pembentukan muka bumi dibagi atas tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tenaga endogen terdiri atas gerak tektonik, vulkanisme, dan gempa bumi. Sedangkan tenaga eksogen terdiri atas pelapukan, pengikisan, dan sedimentasi. (lihat gambar berikut)

Pengaruh Pembentukan Permukaan Bumi untuk Kehidupan
Pembentukan permukaan bumi

1. Manfaat Tenaga Endogen dan Eksogen untuk Kehidupan


a. Manfaat Tenaga Endogen

Adanya gerak epirogenetik negatif yaitu naiknya daratan atau turunnya permukaan laut dapat memperluas daratan dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

Adanya aktivitas vulkanisme dari gunung berapi yang mengeluarkan bermacam-macam bahan seperti abu vulkanik yang sudah mengalami pelapukan dapat meningkatkan kesuburan tanah, makdani yaitu mata air mineral yang panas baik untuk pengobatan, tenaga panas bumi digunakan untuk pembangkit tenaga listrik, dan magma banyak mengandung mineral, dalam proses pembekuannya akan terurai bermacam-macam mineral sebagai barang tambang yang tinggi nilainya seperti emas, perak, intan, timah, tembaga, dan sebagainya.

Adanya proses metamorfosis batuan akibat perubahan suhu dan tekanan menghasilkan tambang yang bernilai tinggi, seperti marmer untuk bahan bangunan dan antrasit untuk bahan bakar.

Gejala vulkanisme menghasilkan bentukan yang menarik dan bisa dijadikan objek tamasya seperti Kawah Gunung Tangkuban Perahu di Bandung Jawa Barat.
b. Manfaat Tenaga Eksogen

Pelapukan yaitu proses penghancuran massa batuan menyebabkan tanah menjadi gembur dan subur. Adanya proses erosi yaitu pengikisan oleh air, angin atau gelombang membentuk permukaan bumi yang menarik dan dapat dijadikan objek tamasya seperti Ngarai Sianok. Adanya proses sedimentasi yaitu pengendapan menghasilkan daratan di permukaan bumi yang subur dan sangat baik untuk kegiatan pertanian.

2. Kerugian Tenaga Endogen dan Eksogen untuk Kehidupan


a. Gejala-gejala Alam yang Berasal dari Tenaga Endogen

1) Gerak epirogenetik positif yaitu proses turunnya daratan dan naiknya permukaan air laut, mengakibat-kan terendamnya wilayah-wilayah pantai yang rendah dan mempersempit wilayah daratan. Proses gerak epirogenetik positif ini menjadi ancaman untuk kota-kota yang terletak di wilayah pantai yang rendah.

2) Terjadinya patahan pada kulit bumi akibat peristiwa tumbukan lempeng-lempeng kulit bumi yang mengakibatkan terjadinya gempa tektonik baik yang terjadi di daratan atau di lautan menimbulkan akibat kerusakan yang hebat pada kehidupan di permukaan bumi. Contohnya gelombang Tsunami yang terjadi di wilayah Nanggro Aceh Darussalam 26 Desember 2004. Timbulnya gelombang Tsunami itu disebabkan oleh adanya getaran gempa (gelombang gempa) yang ditimbulkan oleh peristiwa patahan yang terjadi pada dasar Samudra Hindia akibat proses tumbukan antara lempeng Samudra Hindia dengan lempeng Benua Asia, lalu getaran gempanya dirambatkan melalui air laut ke permukaan laut. Getaran gempa yang dirambatkan ke permukaan laut menimbulkan gelombang air laut yang besar dan tinggi yang disebut Tsunami.

3) Aktivitas vulkanisme dari gunung berapi menimbulkan akibat yang membahayakan seperti:
  • Banjir lahar yaitu lahar panas atau dingin yang mengalir merusak tanaman dan menutup tanah yang subur.
  • Banjir lava yaitu aliran lava dengan temperatur tinggi menghancurkan apa saja yang dilaluinya.
  • Aktivitas vulkanisme yang terjadi di laut menyebabkan gelombang pasang yang disebut Tsunami dengan ketinggian mencapai 60 meter dapat merusak kawasan pantai dan menimbulkan musibah yang besar.  Contohnya saat terjadi letusan Gunung Krakatau 27 Agustus 1883 yang terletak di Selat Sunda, gelombang pasangnya menyapu habis daratan wilayah Keresidenan Banten, Lampung Selatan, Pantai Utara Jawa sampai Cirebon, dan Pantai Selatan Jawa sampai Cilacap pada saat itu dengan jumlah korban mencapai 36.417 jiwa (Sumber: 100 tahun meletusnya Krakatau 1883-1983, Abdul Hakim, Antar Kota, Jakarta.
  • Awan emulsi yaitu awan panas yang keluar dari kepundan yang membahayakan kulit dan pernapasan.

4) Gempa bumi yang kuat dapat menimbulkan musibah yang besar di antaranya bangunan dan gedung rusak, jalan, jembatan, jaringan listrik serta tsunami yang dapat merenggut korban jiwa manusia.

b. Gejala-gejala Alam yang Berasal dari Tenaga Eksogen

  • Pelapukan yang berupa proses oksidasi dapat membuat barang-barang dari besi berkarat dan hancur.
  • Erosi air dipermukaan bumi menghanyutkan lapisan tanah yang subur.
  • Abrasi pantai yang berlangsung terus menerus mengakibatkan pantai menjadi curam.
  • Hembusan angin dan salju dapat menimbulkan badai yang dapat menghancurkan pemukiman penduduk serta berbagai fasilitas.
  • Banjir, yaitu tergenangnya daratan akibat tidak seimbangnya pelepasan dengan tingginya curah hujan, atau meluapnya sungai sebab debit air pada sungai melebihi kapasitasnya.
  • Kekeringan, yaitu berkurangnya kadar air suatu daerah akibat tidak memperoleh pengaliran atau kemarau dalam kurun waktu lama.

3. Upaya Menanggulangi Gejala-gejala Bencana Alam

Upaya-upaya untuk mengurangi dan menghindari gejala-gejala musibah alam akibat proses pembentukan relief permukaan bumi yang berasal dari tenaga endogen dan tenaga eksogen antara lain
a. Mengurangi bahaya dari aktivitas vulkanik dengan cara seperti berikut ini:
  1. Membuat terowongan-terowongan air pada kepundan yang berdanau.
  2. Mengadakan pos-pos pengamatan gunung berapi.
  3. Mengungsikan penduduk yang bermukim di sekitar gunung berapi yang akan meletus.
  4. Membuat rencana bangunan tahan gempa untuk mengurangi bahaya gempa bumi.
  5. Tidak membangun tempat pemukiman pada lahan yang labil.

b. Mengurangi bahaya erosi dilakukan dengan cara seperti berikut ini:
  1. Mengadakan penyengkedan pada lahan yang miring.
  2. Mengadakan penghijauan dan reboasasi.
Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas 

Kali ini kita akan membahas tentang Pembentukan Muka Bumi. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pembentukan Muka Bumi

Jika kita amati dengan seksama, bentuk muka bumi kita tidaklah rata atau datar, tetapi ada tinggi dan ada yang rendah. Perbedaan tegak lurus antara bagian tinggi dan rendah pada permukaan bumi dinamakan relief atau topografi. Topografi Indonesiamacam -macam, seperti lipatan, patahan, gunung, dataran rendah, dataran tinggi, bukit-bukit, pegunungan, basin, dan palung. Bentuk-bentuk muka bumi itu terdapat di daratan dan dasar laut. Pada hakikatnya, dasar laut adalah bagian atau sambungan dari daratan. Bentuk muka bumi Indonesia adalah hasil kerja tenaga geologi, yaitu tenaga atau kekuatan yang mengubah bentuk muka bumi. Kekuatan yang mengubah kulit bumi ada dua macam, yaitu tenaga endogen dan eksogen.

1. Tenaga Endogen
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi membentuk relief yang sifatnya membangun. Yang termasuk ke dalam tenaga membangun antara lain:

a. Gerak Tektonik (Tektogenesis)
Gerak tektonik atau disebut juga tektogenesis adalah gerak lapisan kulit bumi, baik secara mendatar ataupun vertikal akibat adanya pengaruh dari gerakan dan sirkulasi magma dalam dapur magma secara terus-menerus. Gerak tektonik meliputi dua macam yaitu gerak epirogenesis dan gerak orogenesis.

1) Gerak Epirogenesis
Gerak Epirogenesis adalah gerak atau pergeseran lapisan kulit dengan arah vertikal baik ke atas atau ke bawah dengan gerakan yang relatif lambat, berlangsung dalam waktu yang
lama dan meliputi daerah yang luas. Berdasarkan arah geraknya, gerak epirogenesis dibagi dalam 2 macam, yaitu:
  1. Epirogenesis Positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga permukaan laut kelihatan naik. 
  2. Epirogenetik Negatif, yaitu gerak naiknya daratan.

2) Gerak Orogenesis
Gerak Orogenesis adalah gerak atau pergeseran kulit bumi dengan arah mendatar baik berupa tekanan atau tarikan yang relatif lebih cepat dan meliputi daerah yang sempit. Tekanan vertikal dan horizontal serta tarikan pada kulit bumi menyebabkan terjadinya dislokasi atau berpindah-pindahnya lapisan kulit bumi yang membentuk:
  1. Pegunungan lipatan, seperti: pegunungan Bukit Barisan di Sumatra, pegunungan Kendeng dan Rembang di Jawa Timur.
  2. Pegunungan patahan seperti Patahan Semangko di Bukit Barisan dan Patahan Lembang di Bandung.
  3. Depresi kontinental (tanah turun/anjlokan), yaitu turunnya permukaan bumi menjadi lebih rendah dari daerah sekitarnya.

Gerakan-gerakan kerak bumi tadi dalam prosesnya menghasilkan bentuk-bentuk baru yang khas berstruktur diastropik yang disebut gejala diastropisme yang meliputi pelengkungan, pelipatan, retakan dan patahan.

Struktur Pelengkungan (Wraping). Terjadi apabila lapisan kulit bumi memperoleh tekanan dari tenaga endogen secara vertikal yang tidak merata, sehingga membentuk pola batuan di muka bumi yang berstruktur melengkung.
Struktur Pelipatan (Folding). Terjadi sebab adanya tenaga endogen yang tekanannya lemah pada lapisan batuan yang plastis dengan arah mendatar atau horizontal sehingga membentuk muka bumi yang berstruktur lipatan. Bagian puncak lipatan disebut antiklinal dan bagian lembah lipatan disebut sinklinal. Proses pelipatan tidak hanya sesaat tetapi berlangsung terus-menerus dalam kurun waktu yang lama sehingga membentuk beberapa macam lipatan.
a) Lipatan tegak/simetris
b) Lipatan miring
c) Lipatan menggantung
d) Lipatan isoklinal
e) Lipatan rebah
f) Sesar sungkup

Struktur Retakan (Jointing). Terjadi akibat adanya tenaga endogen yang kuat menekan lapisan kulit bumi yang mempunyai ikatan lemah dengan arah berlawanan sehingga membentuk muka bumi yang berstruktur retakan.
Struktur Patahan (Faulting). Terjadi sebab lapisan batuan memperoleh tarikan yang kuat dari tenaga endogen dengan arah simetris tegak, mendatar, miring dan memutar sehingga jenis batuan yang sama mengalami putus hubungan, atau kedudukannya tidak sejajar lagi dan salah satu jenis batuan hasil patahan berpindah tempat atau bergeser. Bidang tempat retak atau patahnya lapisan kulit bumi disebut bidang patahan, sedangkan bidang patahan yang telah mengalami pergeseran disebut sesar (fault).
a) Sesar turun atau sesar normal
b) Sesar naik
c) Sesar sungkup
d) Sesar mendatar
e) Sesar menjauh

Macam-macam bentukan hasil patahan seperti di bawah ini:
  1. Graben atau Slenk yaitu jalur lapisan kulit bumi yang lebih rendah dari lapisan sekitarnya.
  2. Horst yaitu jalur lapisan kulit bumi yang meninggi pada lapisan sekitarnya.
  3. Fleksur (tanah bungkuk) yaitu bentukan yang terjadi akibat tekanan yang kuat mendesak lapisan yang rapuh dan lapisan plastik. Pada bagian lapisan yang plastik membentuk tanah bungkuk.
  4. Sesar tangga (Stef Faulting) yaitu seperangkat gejala sesar turun dengan arah lemparan yang sama.

b. Vulkanisme
Vulkanisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan kegiatan magma dari lapisan dalam litosfer menyusup ke lapisan batuan lebih atas atau ke luar sampai permukaan bumi melalui
rekahan kulit bumi atau pipa kepundan. Magma ialah batuan cair pijar bersuhu tinggi (sekitar 1.100°C) yang terbentuk dari berbagai mineral dan mengandung gas yang larut di dalamnya. Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi disebut lava.

Gunung berapi adalah salah satu bentukan di permukaan bumi yang terjadi sebab ada tenaga dari dalam bumi berupa peristiwa vulkanisme. Gunung api tidak hanya ada di daratan tetapi juga terdapat di dasar laut.

Bentuk-bentuk gunung api tergantung pada kekuatan tenaga endogen yaitu tekanan gas, kedalaman dapur magma, luasnya sumber/dapur magma dan sifat magma (cair/kental). Dilihat dari bentuk dan terjadinya, gunung api ada tiga macam antara lain berikut ini.

Gunung Api Maar (Embryo). Gunung api maar terbentuk sebab erupsi eksplosif (ledakan yang luar biasa kuatnya) hasilnya bahan-bahan lepas/ padat. Contoh: Gunung Lamongan di Jawa Timur, Danau Atar di Sumatra Barat.
Gunung Api Kerucut (Strato). Gunung api kerucut terjadi sebab letusan dan lelehan secara bergantian, bentuk badannya seperti kerucut berlapis- lapis dan bahan yang dikeluarkan bahan lepas dan lava.
Gunung Api Perisai (Tameng). Gunung api perisai terjadi sebab lelehan atau cairan yang keluar membentuk lereng yang sangat landai membentuk seperti perisai dengan sudut kemiringan lereng antara 1° – 10°. Bahannya adalah lava yang bersifat sangat cair. Contoh: Gunung Mauna Loa dan Kilauea di Hawai.

Di Indonesia terdapat 400 gunung berapi, sekitar 129 buah masih aktif dan 70 buah di antaranya tidak menunjukkan letusan. Gunung api di Indonesia persebarannya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  1. Kepulauan Sunda, memanjang dari utara Sumatra, Jawa, Bali sampai Alor (termasuk sirkum mediteran)
  2. Kumpulan Banda, muncul di dasar laut Banda dengan ketinggian lebih dari 100 meter (termasuk sirkum mediteran)
  3. Kumpulan Minahasa dan Sangihe Talaud, gunung api yang sangat aktif (termasuk sirkum Pasifik) misalnya Gunung Soputan dan Gunung Lakon.
  4. Kumpulan Halmahera, di bagian tengah antara Makian dan Tobelo, misalnya Gunung Api Tidore dan Maitara.
  5. Kumpulan Bhontain, kumpulan gunung api besar di Sulawesi Selatan, tetapi sudah tidak aktif.

Gejala vulkanisme adalah berbagai bentukan yang menyertai peristiwa keluarnya magma dari lapisan dalam litosfer menyusup ke lapisan batuan lebih atas atau sampai ke permukaan bumi. Berbagai bentukan muka bumi akibat gejala vulkanisme adalah:
  • Kaldera, yaitu kawah kepundan yang amat besar, luas dan bertebing curam, misalnya kaldera gunung Tengger (sekitar 8 Km).
  • Leher vulkanik, yaitu sisa magma yang membeku pada pipa kepundan yang lapisan tanah penutupnya terkelupas.
  • Dome Vulkanik, yaitu kubah di sekitar gunung berapi akibat dari instrusi magma menekan lapisan kulit bumi bagian atas dan terjadi pelengkungan.
  • Dataran lava, yaitu dataran tinggi atau plato yang berasal dari lava.
  • Bentuk kerucut gunung api yang terbentuk secara berlapis-lapis.
  • Meja Lava, yaitu permukaan bumi yang datar dan relatif lebih tinggi dari sekitarnya menyerupai meja yang berasal dari lava.
  • Kawah Maar, yaitu kawah gunung api kecil yang telah mati dindingnya berbentuk lingkaran.

Menurut proses terjadinya, batuan dibagi tiga kelompok yaitu batuan beku, batuan endapan (sedimen), dan batuan malihan (metamorf).

1) Batuan Beku
Berdasarkan tempat pembekuannya, batuan beku dibagi menjadi tiga macam antara lain:
  1. Batuan beku dalam (plutonik/abisik) yaitu batuan yang tempat pembekuannya di dalam kulit bumi dan proses pembentukannya lambat sehingga membentuk kristal kasar. Contoh: diorit, granit dan gabro.
  2. Batuan beku gang atau korok yaitu batuan beku yang tempat pembekuannya di lubang saluran magma (diatrema) atau pada celah-celah batuan kulit bumi dengan proses pembekuan relatif cepat sehingga bentuk kristalnya halus. Contoh: Aplit, Odinit, Posfir dan Periodit.
  3. Batuan beku luar atau batuan beku lelehan yaitu batuan beku yang tempat pembekuannya di luar kulit bumi. Contoh: Andesit, Basalt, Batu Apung, Dasit, Liparit, dan Trocit.

2) Batuan Endapan (Sedimen)
Batuan beku dapat mengalami pelapukan sebab pemanasan matahari, hujan, pendinginan, hembusan angin, aliran air, gelombang, dan oleh makhluk hidup. Serpihan-serpihan batu itu diangkut, lalu diendapkan di tempat lain, mengeras sehingga menjadi batuan sedimen.
Dilihat dari media yang mengendapkannya, batuan sedimen dibagi tiga macam yaitu:
  1. Batuan Sedimen Aeolik (Aerik), yaitu batuan sedimen yang diendapkan oleh angin. Contohnya Tanah Los, Tanah Tuf dan Tanah Pasir di daerah gurun.
  2. Batuan Sedimen Glasial, yaitu batuan sedimen yang diendapkan oleh es atau gletser. Contohnya morena.
  3. Batuan Sedimen Aqualis, yaitu batuan sedimen yang diendapkan oleh air. Contohnya: (1) Breksi, yakni batuan sedimen yang terdiri dari batu-batu bersudut tajam yang sudah direkat satu sama lain. (2) Konglomerat, yakni batuan sedimen yang terdiri dari batu yang bulat yang sudah direkat satu sama lain. (3) Batu Pasir

Berdasarkan tempat diendapkannya, batuan sedimen terdiri atas:
  1. Batuan sedimen teristis, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di darat, misalnya tanah loss.
  2. Batuan sedimen marine.
  3. Batuan sedimen limnis, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di danau atau di daerah rawa, misalnya tanah gambut.
  4. Batuan sedimen glasial, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di daerah es, misalnya moreine.
  5. Batuan sedimen fluvial, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di sungai, misalnya pasir.

3) Batuan Malihan (Metamorf)
Batuan metamorf ialah batuan sedimen atau batuan beku yang telah mengalami perubahan bentuk dan sifat (metamorfosis).
  1. Metamorfosis Termal/Kontak, yaitu batuan yang terbentuk sebab perubahan suhu sebab letaknya dekat dengan magma. Misalnya marmer berasal dari batu kapur dan Antrasit berasal dari batubara.
  2. Metamorfosis Dinamo, yaitu batuan yang terbentuk sebab perubahan tekanan. Misalnya batu sabah yang berasal dari tanah liat.
  3. Metamorfosis Regional, yaitu batuan yang terbentuk sebab faktor suhu dan tekanan yang bekerja bersamasama, serta adanya unsur-unsur batuan lain dan gas yang masuk pada waktu terjadi kontak dengan magma. Misalnya Gneis, Skis, dan Shale.

c. Gempa Bumi (Seisme)
Gempa bumi adalah getaran-getaran yang dirasakan di permukaan bumi disebabkan oleh adanya energi dari dalam bumi yang melepaskan kekuatan sehingga menimbulkan gerakan lapisan-lapisan kulit bumi. Gempa bumi dirambatkan melalui tiga macam getaran, yaitu:

Getaran Longitudinal (merapat-merenggang). Getaran ini disebut getaran primer yang berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui dalam bumi dengan kecepatan 7 – 14 km per detik.

Getaran Tranversal (naik-turun). Getaran ini disebut getaran sekunder yang berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui dalam bumi dengan kecepatan 4 – 7 km per detik.

Getaran Gelombang Panjang. Getaran ini berasal dari episentrum dan bergerak melalui permukaan bumi dengan kecepatan 3,8 – 3,9 km per detik

Bagian-bagian Gempa
Pusat gempa di dalam bumi disebut hiposentrum dengan kedalaman 10 sampai 50 km, gempa yang ditimbulkan tergolong gempa bumi dangkal dengan getaran yang sangat kuat dan sering menimbulkan musibah di permukaan bumi. Pusat gempa di permukaan bumi di atas hiposentrum disebut episentrum, dari sini gempa dirambatkan ke segala arah melalui getaran gelombang panjang dengan kecepatan 3,5 – 7 km per detik.

Beberapa istilah yang berhubungan dengan gempa bumi, seperti berikut ini:

Homoseista, adalah garis khayal pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui gempa pada waktu yang sama.
Isoseista, adalah garis khayal pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang dilalui oleh gempa yang sama intensitasnya.
Pleistoseista, yaitu garis khayal pada peta yang mengelilingi daerah yang memperoleh kerusakan terhebat dari gempa bumi.

Faktor-faktor Penyebab Gempa Bumi
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya gempa bumi yaitu sebagai berikut.
a) Pergeseran Kulit Bumi
Gempa bumi yang disebabkan oleh pergeseran letak kerak bumi atau kulit bumi, disebut dengan istilah gempa tektonik atau gempa dislokasi. Lempeng-lempeng kulit bumi itu setiap saat melaksanakan pergeseran atau bergerak dari posisi sebenarnya akibat pengaruh tenaga yang kuat dari lapisan bumi bagian bawahnya. Ketika terjadi tumbukan di antara dua lempeng, sering diiringi oleh peristiwa patahan dari bagian-bagian lempeng yang saling berbenturan. Peristiwa patahan lempeng menimbulkan getaran yang hebat

b) Aktivitas Gunung Berapi (Vulkanisme)
Gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas gunung berapi, disebut gempa vulkanik. Vulkanisme adalah peristiwa keluarnya magma ke permukaan bumi melalui lubang magma yang ada pada badan gunung api. Hal ini disebabkan adanya tenaga tekanan yang sangat kuat dari dapur magma untuk mengeluarkan cairan magma ke permukaan bumi. Ketika sampai di mulut lubang magma di permukaan bumi, bahan-bahan cairan magma itu dimuntahkan sekaligus sehingga menimbulkan suara dan getaran yang hebat.

c) Runtuhan (Terban)
Gempa yang disebabkan oleh adanya runtuhnya sebidang tanah yang cukup luas di bawah permukaan bumi atau longsornya tanah perbukitan di permukaan bumi dan atau runtuhnya gua-gua di daerah kapur dan pertambangan, disebut sebagai gempa runtuhan atau longsoran (Terban). Ketika ambruknya sebidang tanah di bawah permukaan bumi akibat adanya kekosongan tanah, menimbulkan getaran yang dirambatkan ke permukaan bumi sebagai gempa bumi.

Macam-macam Gempa
Berdasarkan intensitasnya gempa diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu:
  1. Makroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa menggunakan alat.
  2. Mikroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil dan hanya dapat diketahui dengan menggunakan perangkat saja.

2. Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi yang sifatnya merusak. Pelapukan, erosi, dan sedimentasi adalah tenaga eksogen yang ketiganya bersifat merusak permukaan bumi sehingga menghasilkan bentukan-bentukan baru pada relief permukaan bumi. Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses pelapukan, erosi, dan sedimentasi antara lain air, sinar matahari, cuaca (suhu, tekanan dan kelembapan udara, angin, curah hujan), gletser serta organisma yang bekerja bersama-sama atau secara terpisah dalam proses denudasi. Denudasi adalah proses erosi lanjut yang menyebabkan tersingkapnya induk batuan setempat.


a. Pelapukan (Weathering)
Pelapukan adalah proses penghancuran atau perusakan dan pelepasan partikel-partikel batuan yang dipengaruhi oleh cuaca (temperatur), air atau organisme. Beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan pelapukan, antara lain:
  1. Tingkat kekuatan atau kekompakan batuan. 
  2. Topografi atau kemiringan lereng. 
  3. Keadaan vegetasi atau organisme lain. 
  4. Cuaca/iklim
Pembentukan Muka Bumi
Proses Pelapukan
Ada tiga jenis pelapukan, yaitu sebagai berikut.
1) Pelapukan Fisis atau Mekanis
Faktor-faktor gejala alam yang menyebabkan terjadinya pelapukan fisis, yaitu:
  1. Perubahan Suhu. Adanya perubahan atau perbedaan suhu siang hari dan malam hari yang sangat tinggi dan disebut sebagai amplitudo suhu harian, terutama di daerah gurun pasir mengakibatkan bongkahan batuan setempat menjadi retak, pecah, dan mengelupas.
  2. Insolasi (Sole = Matahari). Insolasi yaitu pelapukan yang disebabkan penurunan suhu udra yang mendadak. Di daerah gurun, saat panas terik lalu turun hujan tiba-tiba, terjadi penurunan suhu udara yang tiba-tiba.
  3. Pembekuan Air dalam Celah Batuan. Genangan air di celah-celah batuan, pada malam hari akibat penurunan suhu sampai beberapa derajat di bawah nol menyebabkan air tadi berubah menjadi es. Ketika genangan air di celah batuan itu berubah menjadi es volumenya lebih besar dan menekan celah batuan.
  4. Warna Mineral Batuan. Perbedaan warna mineral pembentuk batuan pun menyebabkan perbedaan pemuaian bagian-bagian batuan. Jika proses pemuaian itu terus-menerus menyebabkan berlangsungnya pelapukan mekanik. Warna mineral batuan yang gelap bersifat cepat menyerap panas, energi panas yang diserap mengakibatkan batuan memuai.
  5. Pelapukan Es (Glasial). Di daerah kutub juga terjadi pelapukan fisis berhadap es yang dinamakan pelapukan es, sebab adanya amplitudo suhu harian tinggi antara malam dan siang hari atau antara suhu musim dingin dengan musim panas.
  6. Air yang Bergerak. Gerakan air menimbulkan juga pecah-pecahnya batuan yang dilaluinya. Ini dapat di lihar bahwa kerikil yang dingkut oleh sungai sudut-sudutnya hilang menjadi bulat.
  7. Abrasi, gelombang laut yang memukul pantai dapat merusakkan batuan di pantai.
  8. Akar-akar pohon yang masuk ke dalam batuan tumbuh menjadi besar dan memecahkan batuan itu.

2) Pelapukan Kimia
Pada pelapukan ini batu-batuan tidak hanya mengalami penghancuran fisik tetapi disertai perubahan struktur kimiawi batuan itu. Proses pelapukan ini dipengaruhi oleh air dan kondisi iklim. Pelapukan kimia di daerah kapur menghasilkan batuanbatuan baru atau gejala karst, seperti:
  1. Dolina (russ) yaitu lubang-lubang yang berbentuk corong.
  2. Uvala, yaitu suatu depresi di daerah karst yang lebih besar dari doline.
  3. Gua kapur dan sungai di dalam tanah.
  4. Stalaktit yaitu bentukan di langit gua dan stalagmit yaitu bentukan di lantai gua.
  5. Kubah kapur yaitu bukit-bukit kecil dari batuan kapur.

3) Pelapukan Organis
Pada pelapukan ini batu-batuan hancur oleh adanya aktivitas organisme, baik tumbuhan, satwa atau manusia. Misalnya penghancuran batuan oleh akar cendawan dan lumut melapukkan batuan tempat lekatnya, atau bakteri dan organisme kecil dalam tanah.

b. Pengikisan (Erosion)
Erosi adalah suatu proses pengikisan dan penorehan bahan-bahan yang disebabkan oleh gerakan air mengalir, hembusan angin, gelombang laut, dan gletser.

1) Aliran Air
Berdasarkan bentuk atau tipe erosinya, terdapat 5 macam erosi air yaitu:
  1. Erosi Percikan (splash erosion), terjadi sebab tenaga tetesan air hujan memecahkan bahan mineral seperti batu, kerikil, debu, dan partikel tanah.
  2. Erosi Permukaan (sheet erosion), erosi yang mengikis tanah bagian atas sehingga kesuburan tanah berkurang.
  3. Erosi Alur (riil erosion), terjadi sebab pengumpulan aliran air permukaan yang membentuk alur-alur.
  4. Erosi Parit (gully erosion), adalah perkembangan erosi alur yang membentuk parit-parit yang lebih dalam dan lebar.
  5. Erosi Air Terjun (water fall erosion), terjadi pada lereng yang curam atau terjal di mana terdapat air terjun.

Bentukan-bentukan permukaan bumi hasil erosi air, antara lain berikut ini.

Meander dan Oxbouw Lake, Meander yaitu kelokan sungai yang berulang-ulang, sedangkan oxbow lake yaitu bekas aliran sungai yang berbentuk tapal kuda dikenal dengan nama kali mati.
Lembah, ngarai dan jurang yang dalam (canyon) seperti Lembah Anai, Ngarai Sianok, dan Grand Canyon of Colorado.

2) Gerakan Gelombang Laut
Gelombang laut yang bergerak terus menerus pada dinding pantai menyebabkan pengikisan pantai dan memindahkan material batuan dari pantai ke tempat sekitarnya yang dinamakan abrasi. Abrasi menyebabkan terbentuknya
  • cliff, yaitu dinding pantai yang curam dan terjal;
  • relung, yaitu cekungan pada dinding pantai;
  • dataran abrasi, yaitu hamparan wilayah datar di pantai;
  • cave yaitu terowongan atau gua di pantai.

3) Gletser
Gletser adalah bongkahan-bongkahan atau lempengan es yang bergerak lambat dari pegunungan tinggi menuju ke bawah. Pada saat bergerak terjadi pengikisan dan sekaligus menyeret batubatuan ke bawah yang dinamakan eksarasi. Erosi ini menyebabkan terbentuknya morena yaitu timbunan batu kerikil, pasir, dan bongkahan yang ditinggalkan oleh sisa gletser, sedangkan lawine adalah longsor gletser atau salju.

4) Hembusan Angin
Angin yang berhembus sambil membawa pasir melaksanakan pengikisan pada batuan yang dilewatinya yang dinamakan korasi. Korasi ini menyebabkan terbentuknya batu cendawan atau batu jamur di padang pasir.

c. Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses pengendapan batuan besar, kecil, halus dan bahan sisa organik hasil kerja erosi yang diangkut oleh aliran air, hembusan angin dan gelombang laut di suatu tempat dalam kurun waktu yang lama. Sedimentasi adalah salah satu tenaga eksogen yang turut menentukan relief permukaan bumi. Bentukan-bentukan yang dihasilkannya tergantung pada media penyebabnya antara lain:

1) Sedimentasi oleh Air Sungai
Aliran air sungai membawa bahan-bahan padat hasil erosi dan diendapkan di sekitar aliran sungai berupa

bantaran sungai, yaitu daratan yang berada di sebelah kanan-kiri sungai;
kipas aluvial, yaitu endapan sungai yang berbentuk kipas;
dataran banjir (flood plain), terjadi apabila sungai meluap atau banjir, di kanan kirinya terdapat endapan yang datar;
delta, yaitu bentukan sedimentasi di bagian hilir sungai baik di danau ataupun di pantai.

2) Sedimentasi oleh Angin (Eolis)
Hembusan angin membawa bahanbahan padat yang diendapkan di tempat tertentu. Bentukan alam yang dihasilkannya berupa

guguk pasir (sand dunes), yaitu bukit pasir yang rendah di daerah pantai atau gurun.
barchans, yaitu sejenis bukit pasir berbentuk bulan sabit yang lerengnya melandai menghadap ke arah datangnya angin.

3) Sedimen oleh Gelombang Laut
Gerakan gelombang membawa bahan-bahan hasil pengikisan dan diendapkan di sepanjang pantai. Bentukan alam yang dihasilkannya berupa

beach, yaitu kumpulan puing batu karang di sekitar cliff;
bar, yaitu endapan pasir di pantai yang arahnya me-manjang;
tombolo, yaitu endapan pasir yang menghubungkan pulau dengan daratan induk.

Sumber : Pusat Pembukuan Kemdiknas

Tuesday, 25 August 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Pengertian dan Faktor Kepadatan Penduduk. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian dan Faktor Kepadatan Penduduk

Pengertian Kepadatan Penduduk adalah perbandingan dari jumlah penduduk dibagi dengan luas wilayahnya. Contohnya : Setiap 1 Km2 wilayah dihuni oleh 120 penduduk, jika melebihi batas itu menyebabkan terjadinya ledakan penduduk. Hal ini dapat kita lihat di Indonesia yang laju pertumbuhan penduduknya meningkat pesat. Sedangkan Pengertian Ledakan Penduduk adalah peningkatan jumlah penduduk yang terjadi begitu cepat dan secara tiba-tiba di dalam satu wilayah.

Penduduk adalah seseorang yang bermukim pada suatu wilayah dalam waktu yang realtif lama. Setiap orang mempunyai kriteria tersendiri untuk memilih lokasi tempat tinggalnya. Di Indonesia misalnya, penyebaran penduduk lebih terpusat dikota  besar khususnya di Jawa. Mengapa bisa terjadi demikian?Penyebaran penduduk di atas permukaan bumi dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah :
Pengertian dan Faktor Kepadatan Penduduk

1. Faktor fisiografis wilayah
Kenampakan fisik suatu wilayah sangat memengaruhi pada kepadatan penduduk. Setiap orang pasti akan memilih daerah yang mempunyai sumber air baik, daerahnya datar, tanahnya subur dan lainnya.Selain itu kondisi cuaca dan iklim juga sangat memengaruhi aglomerasi penduduk. Daerah yang cuacanya hangat dan anomalinya relatif stabil lebih memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal.

2. Faktor sosial budaya
Perubahan pola fikir masyarakat mengakibatkan berkembangnya kondisi fisik suatu wilayah. Hal itu akan menjadi magnet untuk masyarakat di luar untuk datang dan mengadu nasib di wilayah itu.

3. Faktor ekonomi

Daerah yang pembangunannya sangat pesat akan menarik kaum urban untuk datang dan berkerja disana. Berbagai peluang kerja yang banyak akhirnya mendorong kepadatan penduduk dikota  besar seperti Jakarta.

4. Faktor biologis
Tingkat pertumbuhan penduduk suatu wilayah berbeda beda. Angka fertilitas tinggi dibandingkan mortalitas akan membuat suatu wilayah semakin padat.

5. Faktor kesalahan tata ruangkota

Pembangunan saat ini lebih mengarah pada urban oriented dibandingkan rural oriented, sehingga pertumbuhan penduduk lebih besar dikota  besar, sedangkan wilayah pedesaan menjadi tidak berkembang. Hal itu berakibat pada arus urbanisasi yang besar dan desa menjadi kekurangan penduduk.

Kali ini kita akan membahas tentang Isi Perjanjian Potsdam. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Isi Perjanjian Potsdam

Perjanjian Potsdam adalah pertemuan Uni Soviet, Britania Raya, dan Amerika Serikat di Potsdam, Jerman dari tanggal 17 Juli hingga 2 Agustus 1945. Perdana Menteri Britania Raya (Clement Richard Attlee), Presiden Amerika Serikat (Harry S. Truman) dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet (Iosif Stalin) berjumpa untuk mendiskusikan perihal Jerman pada bulan Juli 1945 tentang apa yang akan terjadi padanya setelah Perang Dunia II.

Pertemuan pertama diselenggarakan di Yalta, namun Sekutu tidak setuju pada apapun yang amat penting. Bagaimanapun, banyak hal yang telah terjadi sejak Perjanjian Yalta. Pertama, Amerika Serikat mempunyai presiden baru bernama Harry Truman. Dia lebih keras atas komunisme daripada presiden sebelumnya Roosevelt. Ini menjadi masalah buat Stalin. Winston Churchill memilih keluar dari jabatannya dan digantikan oleh Clement Attlee, sedang Stalin memandang dirinya lebih berpengalaman daripada para pemimpin tadi. Stalin juga menyebabkan masalah, atas beberapa dari hal Sekutu setuju atas Yalta bahwa Polandia wajib memiliki pemerintahan netral. Stalin telah memerintahkan pembunuhan pemerintah netral itu dan menggantikannya dengan yang lebih disukainya. Ini berarti banyak masalah di Potsdam.

Adapun isi perjanjian postdam adalah seperti berikut ini:
    Isi Perjanjian Potsdam
  1. Jerman dibagi dalam empat daerah pendudukan, yaitu Jerman Timur oleh Rusia sedangkan Jerman Barat oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis.
  2. Kota Berlin yang terletak di tengah-tengah daerah pendudukan Rusia juga diduduki, Berlin Timur diduduki oleh Rusia dan Berlin Barat oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis.
  3. Danzig, Jerman di sebelah timur Sungai Order, dan Niesse diberikan kepada Polandia.
  4. Demiliterisasi dari Jerman.
  5. Penjahat perang (crime war) dihukum.
  6. Jerman wajib membayar ganti kerugian perang.

Atas dasar perjanjian itu banyak negara tetangga yang berharap akan terlaksananya ketertiban dan perdamaian dunia. Perlu kita ketahui bersama bahwa konferensi antara sekutu dan Jerman disebut dengan perjanjian postdam sebab diadakan di Postdam wilayah Jerman. Tokoh yang hadir dalam konferensi itu adalah perwakilan dari negara Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet yang masing-masing mengirimkan Clement Richard Attlee, Harry S. Truman, dan J. Stalin. Meskipun dalam konferensi itu disepakati beberapa poin perjanjian namun ada pula beberapa poin yang tidak disepakati antara kedua belah pihak, hal itu yang menjadi latar belakang terjadinya perjanjian lain.

Sunday, 23 August 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Negara yang Menandatangani dan meratifikasi Perjanjian San Francisco. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Negara yang Menandatangani dan meratifikasi Perjanjian San Francisco

Perjanjian Perdamaian dengan Jepang (San Francisco Peace Treaty) atau lebih dikenal sebagai Perjanjian San Francisco (Treaty of San Francisco) adalah perjanjian antara Sekutu dan Jepang yang secara resmi ditandatangani oleh 49 negara pada 8 September 1951 di San Francisco, California. Perjanjian ini berlaku efektif mulai 28 April 1952.

Dari 52 negara peserta perjanjian perdamaian ini, 49 di antaranya menandatangani Perjanjian San Francisco. Cekoslowakia, Polandia, dan Uni Soviet menolak untuk menandatangani perjanjian. Filipina dan Indonesia menandatangani perjanjian, namun tidak meratifikasinya.

Negara-negara penandatangan perjanjian adalah seperti berikut ini: Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Belanda, Belgia, Bolivia, Brasil, Chili, Ekuador, El Salvador, Ethiopia, Filipina, Guatemala, Haiti, Honduras, Indonesia, Irak, Iran, Kamboja, Kanada, Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia Utara, Kolombia, Kosta Rika, Kuba, Laos, Lebanon, Liberia, Luksemburg, Meksiko, Mesir, Nikaragua, Norwegia, Pakistan, Panama, Perancis, Peru, Republik Dominika, Selandia Baru, Sri Lanka, Suriah, Turki, Uruguay, Venezuela, Vietnam, Yunani, dan Jepang.

Negara yang tidak menandatangani Perjanjian San Francisco adalah Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok karena tidak diundang. Perjanjian Taipei atau secara resmi disebut Perjanjian Perdamaian Sino-Jepang ditandatangani di Taipei 28 April 1952 antara Jepang dan Republik Tiongkok.

Negara penandatangan dan peratifikasi Perjanjian San Francisco
Batu Peringatan Perjanjian San Francisco di Shimo-maruko, distrik Ohta, Tokyo


Nasib teritori seberang laut Jepang
Dokumen Perjanjian San Francisco secara resmi membatalkan hak-hak Jepang berdasar Protokol Boxer tahun 1901 dan hak Jepang atas Korea, Formosa (Taiwan), Hong Kong (koloni Inggris), Kepulauan Kuril, Pescadores, Kepulauan Spratly, Antartika, dan Pulau Sakhalin.

Pasal 3 dari perjanjian ini secara resmi memasukkan Kepulauan Ogasawara dan Kepulauan Ryukyu, termasuk Okinawa dan Kepulauan Amami, Miyakojima, dan Kepulauan Yaeyama ke dalam perwalian Amerika Serikat. Kepulauan Amami akhirnya dikembalikan ke Jepang pada 25 Desember 1953 dan Kepulauan Ogasawara dikembalikan pada 5 April 1968. Perundingan Amerika Serikat-Jepang pada tahun 1969 berakhir dengan dikembalikannya Kepulauan Ryukyu kepada Jepang pada tahun 1972. Pengembalian Kepulauan Ryukyu yang dilakukan Amerika Serikat pada tahun 1972 disertai dengan pengembalian Kepulauan Senkaku (tidak berpenghuni) yang berdekatan.. Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Tiongkok (Taiwan) menyatakan bahwa Perjanjian San Francisco tidak menentukan kedaulatan akhir atas Kepulauan Senkaku.

Sesuai Pasal 11, Jepang menerima keputusan Mahkamah Militer Internasional untuk Timur Jauh dan Pengadilan Kejahatan Perang yang diadakan Sekutu di Jepang atau di luar Jepang, dan setuju untuk melakukan hukuman-hukuman pada warganegara Jepang yang dipenjarakan di Jepang.

Kompensasi untuk warga sipil Sekutu dan tawanan perang

1. Pengambilalihan aset Jepang di luar negeri
Aset Jepang di luar negeri mengacu kepada semua aset yang dimiliki pemerintah, perusahaan, organisasi, dan warganegara sipil Jepang di negara-negara yang diduduki atau dijadikan koloni. Sesuai Pasal 14, Sekutu menyita seluruh aset Jepang di luar negeri, kecuali aset Jepang di Cina yang diatur dalam Pasal 21. Cina mempunyai kembali semua aset Jepang di Manchuria dan Mongolia Dalam, termasuk tambang-tambang dan infrastruktur kereta api. Selanjutnya, Pasal 4 menyatakan bahwa "disposisi properti Jepang dan warganegaranya...dan klaim-klaim mereka...terhadap penguasa yang sekarang ini mengatur wilayah-wilayah dan penduduknya...akan tunduk kepada pengaturan khusus antara Jepang dan penguasa-penguasa itu." Berdasarkan hal itu, Korea juga mempunyai hak-hak seperti diatur dalam Pasal 21.

2. Kompensasi kepada Sekutu yang menjadi tawanan perang
Menurut Pasal 16 Perjanjian San Francisco:

“    Sebagai ungkapan harapan mengganti kerugian kepada personel militer Kekuatan Sekutu yang mengalami penderitaan berlebihan selama menjadi tawanan perang Jepang, Jepang akan mentransfer aset-asetnya dan aset warganegaranya di negara-negara yang netral selama perang atau di negara-negara yang berperang melawan Kekuatan Sekutu, atau, sesuai dengan pilihannya, nilai setara dari aset-aset itu ke Komite Palang Merah Internasional yang akan melikuidasi aset-aset itu dan menyalurkan dana hasilnya ke badan-badan nasional, untuk kesejahteraan mantan tawanan-tawanan perang dan keluarga-keluarga mereka berdasar pembagian yang pantas. Kategori-kategori untuk aset yang dijelaskan dalam Pasal 14(a)2(II)(ii) hingga (v) Perjanjian ini adalah pengecualian dari transfer, begitu pula aset Orang Jepang yang bukan penduduk Jepang. Ketentuan tentang transfer dalam Pasal ini juga dipahami tidak berlaku untuk 19.770 lembar saham di Bank for International Settlements yang sekarang dimiliki institusi keuangan Jepang.    ”
Berdasarkan ketentuan itu, Jepang membayar £4.500.000 ke Palang Merah Internasional.

3. Wilayah Sekutu yang diduduki Jepang
Batu Peringatan Perjanjian San Francisco di Shimo-maruko, distrik Ohta, Tokyo.
Pasal 14 perjanjian ini menyatakan "Jepang diharapkan segera berunding dengan Kekuatan Sekutu yang wilayah miliknya diduduki tentara Jepang dan dirusak oleh Jepang, dengan maksud membantu membayar pampasan perang kepada negara-negara itu untuk biaya perbaikan untuk kerusakan yang telah disebabkan, dengan cara menyediakan pertolongan rakyat Jepang dalam produksi, pemulihan, dan pekerjaan lain untuk Kekuatan Sekutu seperti itu."

Berdasarkan Pasal 14, Filipina dan Vietnam Selatan masing-masing menerima kompensasi pada tahun 1956 dan 1959. Burma dan Indonesia menandatangani perjanjian bilateral sesuai Pasal 14 Perjanjian San Francisco.


Sumber : https://id.wikipedia.org