Saturday, 21 November 2015

Kali ini kita akan membahas tentang Perlawanan Rakyat Bali pada Pemerintah kolonial Belanda. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perlawanan Rakyat Bali pada Pemerintah kolonial Belanda

Pada abad ke-19, di Bali banyak kerajaan yang masing-masing memiliki kekuasaan tersendiri. Kerajaan-kerajaan itu antara lain Buleleng, Karangasem, Klungkung, Gianyar, Bandung, Tabanan, Mengwi, Bangli, dan Jembrana. Di antara kerajaan-kerajaan itu yang gencar mengadakan perlawanan pada Belanda adalah Buleleng dan Bandung. Apa yang melatarbelakangi terjadinya perlawanan rakyat bali pada kolonial belanda ini?

Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Rakyat Bali Kepada Belanda


Pemerintah kolonial Belanda ingin menguasai Bali. Yaitu berusaha untuk meluaskan daerah kekuasaannya. Perjanjian antara pemerintah kolonial Belanda dengan raja-raja Klungkung, Bandung dan Buleleng dinyatakan bahwa raja-raja Bali mengakui bahwa kerajaannya berada di bawah kekuasaan negara Belanda. Raja memberi izin pengibaran bendera Belanda di daerahnya.

Pemerintah kolonial Belanda ingin menghapuskan hak Tawan Karang yang sudah menjadi tradisi rakyat Bali. Hak Tawan Karang adalah hak raja Bali untuk merampas perahu yang terdampar di pantai wilayah kekuasaannya.

Pada tahun 1844, di pantai Prancak dan pantai Sangsit (Pantai di Buleleng bagian timur) terjadi perampasan kapal-kapal Belanda yang terdampar di pantai itu. Timbul percecokan antara Buleleng dengan Belanda. Belanda menuntut agar Kerajaan Buleleng melakukan perjanjian 1843, yakni melepaskan hak Tawan Karang. Tuntutan Belanda tidak diindahkan oleh Raja Buleleng I Gusti Ngurah made Karangasem. Belanda menggunakan dalih kejadian ini dan menyerang Kerajaan Buleleng.

Perlawanan Rakyat Bali pada Pemerintah kolonial Belanda
Pantai Buleleng di blokade dan istana raja ditembaki meriam dari pantai. Belanda mendaratkan pasukannya di pantai Buleleng. Perlawanan sengit dari pihak kerajaan Buleleng dapat menghambat majunya laskar Belanda. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Akhirnya belanda berhasil menduduki satu persatu daerah-daerah sekitar istana raja. (Banjar Bali, Banjar Jawa, Banjar Penataran, Banjar Delodpeken, istana raja sudah terkurung rapat). I Gusti Made Karangasem menghadapi situasi ini lalu mengambil siasat pura-pura menyerah dan tunduk kepada Belanda.

I Gusti Ketut Jelantik, patih kerajaan Buleleng melanjutkan perlawanan. Pusat perlawanan ditempatkannya di wilayah Buleleng Timur, yakni di sebuah desa yang bernama desa Jagaraga. Secara geografis desa ini berada pada tempat ketinggian, di lereng sebuah perbukitan dengan jurang di kanan kirinya. Desa Jagaraga sangat strategis untuk pertahanan dengan benteng berbentuk “supit urang”. Bentang dikelilingi parit dengan ranjau yang dibuat dari bambu (bahasa bali : sungga) untuk menghambat gerakan musuh. Benteng Jagaraga diserang oleh Belanda, namun gagal sebab Belanda belum mengetahui medan yang sebenarnya dan siasat pertahanan supit urang laskar jagaraga.

I Gusti Ketut Jelantik bersama seluruh laskarnya setelah mendapat kemenangan, bertekad untuk mempertahankan Benteng Jagaraga sampai titik darah penghabisan demi kehormatan kerajaan Buleleng dan rakyat Bali.

Akhir Perlawanan Rakyat Bali Terhadap Belanda


Untuk memadamkan perlawanan rakyat bali yang berpusat di Jagaraga, Belanda mendatangkan pasukan secara besar-besaran, maka setelah mengatur persiapan, mereka langsung menyerang benteng jagaraga. Mereka menyerang dari dua arah, yaitu arah depan dan dari arah belakang benteng jagaraga. Pertempuran sangit tidak dapat dielakkan lagi, terutama pada posisi dimana I Gusti Ketut Jelantik berada. Benteng Jagaraga dihujani tembakan meriam dengan gencar. Korban sudah berjatuhan di pihak Buleleng. Kendatipun demikian, tidak ada seorangpun laskar jagaraga yang mundur atau melarikan diri. Mereka semuanya gugur dan pada tanggal 19 April 1849 Benteng Jagaraga jatuh ke tangan Belanda. Mulai saat itulah Belanda menguasai Bali Utara.




No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.