Wednesday, 12 November 2014

Kali ini kita akan membahas tentang Pengertian Perubahan Sosial Budaya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Pengertian Perubahan Sosial Budaya

Untuk mengerti makna dari perubahan sosial budaya, mari kita pelajari dari kehidupan bangsa kita, bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia pada zaman prasejarah belum mengenal tulisan. Masyarakat Indonesia baru mengenal tulisan, agama, sastra saat pengaruh India masuk pada awal Masehi, begitu juga dengan sistem kemasyarakatan, kerajaan, dan bangunan peribadatan. Hal serupa terjadi saat Agama Islam masuk ke Nusantara. Perubahan sosial dan budaya menjadi semakin cepat setelah datangnya bangsa Barat menjajah Indonesia. Kita kemudian mengenal teknologi, birokrasi modern, sekolah, budaya tulis, dan organisasi. Masyarakat Indonesia benar-benar mengalami perubahan sosial budaya setelah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.Adapun pengertian masyarakat sebagai sistem sosial dapat dibaca pada artikel ini.

Pengertian Perubahan Sosial BudayaDari penjelasan di atas kita mendapatkan gambaran untuk merumuskan pengertian perubahan sosial dengan zaman sekarang. Menurut para ahli, perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat. Perubahan itu mempengaruhi sistem sosialnya. Sistem sosial itu meliputi nilai- nilai, sikap, dan pola perilaku kelompok-kelompok di masyarakat.

Ada banyak pengertian perubahan sosial budaya yang disampaikan oleh para ahli, diantaranya adalah William F. Ogburn yang mendefinisikan perubahan sosial budaya sebagai “Ruang lingkup perubahan-perubahan sosial yang meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang bersifat material maupun immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial”. Dilain pihak, Bruce J. Cohen mendefinisikan sebagai “perubahan struktur sosial di dalam organisasi sosial dengan syarat yang memenuhi perubahan itu yaitu sistem sosial, perubahan hidup dalam nilai sosial dan budaya masyarakat”. Seorang ahli lain bernama Robert Morrison Mac Iver mendefinisikan sebagai “perubahan terhadap keseimbangan dalam hubungan sosial tersebut”.

Dapatkah kamu menunjukkan perubahan sosial budaya dalam lingkungan yang lebih kecil, misalnya di kota, desa, RW, RT, bahkan di rumah mu?

Wednesday, 5 November 2014

Kali ini kita akan membahas tentang Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keragaman Sosial Budaya di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keragaman Sosial Budaya di Indonesia


Teman-teman... Faktor-faktor yang memengaruhi keragaman sosial budaya di Indonesia ada 3, yaitu kondisi kepulauan, persebaran nenek moyang kita, dan kontak dengan negara lain. Mari simak penjelasannya satu persatu.

1. Kondisi Kepulauan

Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau, makanya sering disebut negara kepulauan. Kepulauan Indonesia merupakan gugusan yang terpanjang dan terbesar di dunia. Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya keanekaragaman budaya.
Mengapa demikian?
Pulau-pulau di Indonesia dikelilingi oleh lautan sehingga penduduk atau masyarakat di setiap pulau hidup dan menetap terpisah satu sama lain. Selanjutnya, penduduk membentuk suku sendiri-sendiri. Setiap suku tentu saja memiliki kebiasaan hidup dan adat istiadat yang berbeda. Perbedaan kebiasaan hidup umumnya dipengaruhi oleh lingkungan alam tempat mereka tinggal. Sebagai contoh, penduduk di daerah pantai kebiasaan hidupnya tentu berbeda dengan penduduk yang hidup di daerah pegunungan.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keragaman Sosial Budaya di IndonesiaLama-kelamaan kebiasaan hidup dan adat istiadat menjadi budaya. Budaya tersebut turun dan terwariskan kepada generasi penerusnya secara turun-temurun dan terus dilestarikan sampai saat ini. Perbedaan-perbedaan budaya yang disebabkan kondisi kepulauan inilah yang kemudian membentuk keragaman budaya di Indonesia.

2. Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Artikel lebih lengkap tentang Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia selengkapnya dapat dibaca di http://ipsgampang.blogspot.com/2014/11/persebaran-nenek-moyang-bangsa-indonesia.html

3. Kontak dengan Negara Lain

Adakah manusia yang mampu hidup sendiri? Tidak mungkin !
Bagaimana upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus mengadakan kontak dan berkomunikasi dengan manusia lain. Manusia pada dasarnya tidak mampu hidup sendiri karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia dalam hidupnya sangat membutuhkan hubungan dan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Interaksi sosial merupakan salah satu faktor penting yang mendasari aktivitas sosial dalam memenuhi kebutuhan hidup. Interaksi sosial adalah hubungan antara orang dan orang, antara orang dan kelompok, serta antara kelompok dan kelompok. Dalam berinteraksi sosial, manusia harus mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial, yaitu kontak sosial dan komunikasi kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru.

Sejak dahulu bangsa Indonesia telah berinteraksi secara sosial dengan negara lain dalam memenuhi kebutuhannya. Indonesia sejak dulu  terkenal sebagai penghasil rempah-rempah. Selain rempah-rempah, Indonesia juga memiliki komoditas lain seperti emas, perak, kain katun, batu permata, teh, kopi, dan hasil alam lainnya yang bermutu tinggi. Tentu saja bangsa-bangsa lain tertarik  untuk berdagang dan membeli hasil bumi Indonesia itu.

Dalam proses perdagangan tersebut, interaksi sosial antarbangsa yang terjadi  mendorong terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya. Para pedagang yang datang dari berbagai belahan dunia membawa kebudayaan masing-masing. Kebudayaan Hindu-Buddha dibawa oleh pedagang-pedagang yang datang dari Cina dan India. Kebudayaan Islam dibawa oleh para pedagang yang datang dari Arab, Persia, dan Gujarat. Begitu pula pedagang- pedagang dari Eropa, mereka membawa ajaran Nasrani. Hal ini menjadi faktor utama terbentuknya keanekaragaman agama di Indonesia.

Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia pada abad ke-2 dan abad ke-4 Masehi. Pedagang dari India yang berdagang di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi membawa agama mereka. Agama Hindu memulai perkembangnya di Pulau Jawa pada abad ke-5. Para pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha. Akhirnya, kebudayaan Hindu dan Buddha menjadi pengaruh terhadap terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha seperti Kerajaan Kutai, Sriwijaya, Mataram Hindu, Tarumanegara, Majapahit, dan kerajaan-kerajaan lainnya. Borobudur yang merupakan candi Buddha terbesar di dunia dibangun oleh Kerajaan Mataram dari Dinasti Syailendra. Pada waktu yang hampir bersamaan, Candi Prambanan juga dibangun.

Puncak kejayaan dari kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha terjadi pada sekitar abad ke-14, yaitu pada masa Kerajaan Majapahit. Dipimpin oleh Rajanya yang bernama Hayam Wuruk dan Patih Gajahmada, kerajaan ini telah berhasil menanamkan pengaruh politiknya ke seluruh penjuru tanah air.

Melalui pedagang Arab, Islam pertama kali mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Ajaran Islam menyebar di pantai barat Sumatra, kemudian meluas ke timur Pulau Jawa. Kerajaan Samudra Pasai berdiri sebagai kerajaan bercorak Islam pertama berdiri pada abad ke-13. Setelah itu, berdiri banyak kerajaan Islam lainnya, seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Banten, Banjar, Kesultanan Makassar, Mataram Islam,  serta Kerajaan Ternate dan Tidore. Kuatnya pengaruh Islam di Indonesia ditandai dengan banyaknya kerajaan Islam yang berdiri. Sampai saat ini, Indonesia menjadi negara terbesar di dunia yang memiliki mayoritas penduduk beragama Islam.

Kristen Katolik pertama kali dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, di pulau Flores dan Timor. Ppada abad ke-16 M, Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda. Tujuan utama penyebaran agama Kristen adalah wilayah Indonesia bagian Timur, termasuk Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar ke Toraja di Sulawesi serta wilayah Sumatra

Kali ini kita akan membahas tentang Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia


Nusantara atau Indonesia memiliki tiga kelompok ras yang berbeda. yaitu Melanosoid, Proto Melayu  atau Melayu Tua, dan Deutro Melayu. Kelompok ras inilah yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Mereka hidup dan menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Persebaran nenek moyang bangsa Indonesia dari kelompok ras Melanosoid meliputi Kepulauan Indonesia bagian Timur, dan Papua. Kelompok ras Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar di daerah Sulawesi, Kalimantan, Lombok, dan Sumatra. Kelompok ras Deutro Melayu menyebar di pulau-pulau Jawa, Madura, Bali, Sumatra, dan Sulawesi. Persebaran nenek moyang bangsa Indonesia dapat diketahui dari persebaran hasil kebudayaan pada masa Praaksara, yang terdiri atas hasil kebudayaan pada tiga masa, yaitu (1) masa berburu dan mengumpulkan makanan, (2) masa bercocok tanam, dan (3) masa perundagian.

a. Hasil dan Sebaran Kebudayaan Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

1) Kapak Genggam/Kapak Perimbas
Kapak perimbas adalah sejenis kapak yang digenggam dan berbentuk masif. Kapak ini tidak memiliki tangkai, cara menggunakannya adalah dengan menggenggamnya. Kapak perimbas berupa batu yang dibentuk menjadi semacam kapak. Teknik pembuatannya masihsangat kasar, dan tidak mengalami perubahan dalam waktu yang panjang, bagian tajam kapak jenis ini hanya pada salah satu sisi. Tempat ditemukan kapak ini antara lain di Lahat (Sumatra Selatan), Kamuda (Lampung), Flores, Bali, Timor, Punung (Pacitan, Jawa Timur),  Parigi, Jampang Kulon (Sukabumi, Jawa Barat), dan Tambangsawah (Bengkulu).

2) Kapak Penetak
Kapak ini terbuat dari fosil kayu yang memiliki bentuk hampir sama dengan kapak perimbas, bagian tajamnya berliku-liku. Kapak penetak bentuknya lebih besar daripada kapak perimbas dan cara pembuatannya juga masih kasar. Kapak ini berfungsi untuk membelah pohon, kayu, bambu, atau disesuaikan dengan kebutuhannya. Kapak penetak ini ditemukan hampir di seluruh wilayah nusantara.

3) Pahat Genggam
Pahat genggam terbuat dari kalsedon dan fosil kayu, ukurannya sedang dan kecil. Pahat genggam memiliki bentuk yang lebih kecil dari kapak perimbas. Para ahli menafsirkan bahwa pahat genggam berfungsi untuk menggemburkan tanah.Pahat genggam ini digunakan oleh nenek myang kita untuk mencari umbi-umbian untuk dimakan.

4) Alat Serpih
Alat serpih merupakan batu pecahan sisa pembuatan kapak genggam yang dibentuk hingga menjadi tajam. Alat tersebut memiliki fungsi sebagai serut, gurdi, penusuk, dan pisau. Tempat ditemukannya alat ini antara lain di Punung (Pacitan, Jawa Timur), Sangiran, Gombong (Jawa Tengah), Ngandong (lembah Sungai Bengawan Solo), Cabbenge, Lahat, dan Mengeruda (Bagian Barat Flores, NTT).
Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

5) Alat-Alat dari Tulang
Alat-alat dari tulang terbuat dari tulang-tulang binatang hasil buruan, seperti tanduk menjangan dan duri ikan pari, ada kemungkinan digunakan oleh nenek moyang kita sebagai mata tombak. Alat-alat itu ditemukan di Gua Lawang di daerah Gunung Kendeng, Bojonegoro. Di gua-gua di daerah Tuban (Gua Gedeh dan Gua Kandang) ditemukan alat-alat dari kulit kerang yang memiliki bentuk sabit (lengkung).


b. Hasil dan Sebaran Kebudayaan Masa Bercocok Tanam

Peralatan dari batu yang paling menonjol dari masa bercocok tanam di Indonesia adalah beliung persegi. Peralatan ini ditemukan di hampir seluruh Kepulauan Indonesia bagian Barat.

1) Beliung Persegi/Kapak persegi
Beliung persegi merupakan alat dengan permukaan memanjang dengan bentuk persegi empat. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus, kecuali pada bagian pangkalnya yang digunakan untuk tempat ikatan tangkai. Sisi pangkal diikat pada tangkai, sedangkan sisi sebelah depan diasah sampai tajam.

2) Kapak Lonjong
Kapak lonjong merupakan kapak berbentuk lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian tajamannya. Seluruh permukaan alat tersebut digosok halus. Sisi pangkal agak runcing dan diikat pada tangkai. Sisi depan lebih melebar dan diasah sampai tajam pada kedua sisinya sehingga menghasilkan bentuk ketajaman yang simetris. Inilah yang membedakannya dengan beliung persegi. Alat ini ditemukan di Indonesia hanya terbatas di daerah bagian timur, yaitu di Sulawesi, Sangihe Talaud, Leti, Flores, Maluku, Tanimbar, dan Papua.

3) Mata Panah
Mata panah merupakan pencerminan dari kehidupan masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Mata panah ini banyak ditemukan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Tempat-tempat penemuan mata panah di Jawa Timur antara lain adalah di Sampung (Gua Lawa), Besuki (Gua Petpuruh), Tuban (Gua Gede dan Gua Kandang), dan Bojonegoro (Gua Keramat). Di Sulawesi Selatan, mata panah antara lain ditemukan di beberapa gua di Pegunungan Kapur Bone (Gua Cakondo, Bola Batu, Tomatoa Kacicang, Ara, Pattae) dan di beberapa gua di Pegunungan Kapur Maros dan sekitarnya. Ada perbedaan bentuk antara mata panah yang ditemukan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Mata panah di Sulawesi Selatan biasanya berukuran kecil dan tipis. Penyiapan bentuk tidak dikerjakan pada seluruh permukaan, hanya pada bagian tajamnya saja. Di Jawa Timur, mata panah dibuat jauh lebih teliti, pada umumnya berbentuk segitiga dengan ketebalan rata-rata 1 cm. Bagian ujung dan tajamannya ditatah dari dua arah hingga menghasilkan tajaman yang bergerigi dan tajam.

4) Gerabah
Benda-benda gerabah mulai dikenal pada masa bercocok tanam. Gerabah ini terbuat dari tanah liat yang dibakar. Pada masa bercocok tanam, alat ini dibuat secara sederhana dengan tangan. Gerabah ditemukan di daerah Kendenglembu (Banyuwangi), Serpong (Tanggerang), Klapadua (Bogor), Bali, Kalumpang dan Minanga Sipakka (Sulawesi) serta beberapa daerah lain di Indonesia.

5) Perhiasan
Perhiasan sudah dikenal pada masa bercocok tanam, perhiasan berupa gelang yang terbuat dari batu dan kerang. Perhiasan ini umumnya ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

6) Bangunan Megalitik
Megalitik berasal dari kata mega dan lithos. Mega berarti besar, dan lithos berarti batu. Tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati. Jasa dari seseorang yang telah mati diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar sebagai medium penghormatan. Bangunan-bangunan batu tersebut dapat berupa menhir, dolmen, punden berundak, sarkofagus, waruga, dan kubur batu. Peninggalan kebudayaan berupa bangunan megalitik banyak terdapat di Nias, Sumba, Flores, dan Toraja.

  1. Menhir merpakan bangunan berupa batu tegak atau tugu yang memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang atau tanda peringatan untuk orang yang telah meninggal.
  2. Dolmen merupakan bangunan berupa meja batu, terdiri atas batu lebar yang ditopang oleh beberapa batu yang lain. Dolmen memiliki fungsi sebagai tempat persembahan untuk memuja arwah leluhur. Di samping sebagai tempat pemujaan, dolmen juga berfungsi sebagai pelinggih, yaitu tempat duduk untuk kepala suku atau raja. Dolmen ditemukan bersama dengan kubur batu.
  3. Kubur peti batu merupakan tempat menyimpan mayat. Kubur peti batu ini dibentuk dari enam buah papan batu, dan sebuah penutup peti. Papan-papan batu tersebut disusun secara langsung dalam lubang yang telah disiapkan terlebih dahulu, biasanya diletakkan membujur dengan arah timur-barat. Kubur peti batu terdapat di Wonosari (DI Yogyakarta), Tegurwangi (Sumatra Selatan), dan Jawa Barat.
  4. Sarkofagus merupakan bangunan berupa kubur batu yang berbentuk seperti lesung dan memiliki tutup. Sarkofagus ini banyak ditemukan di daerah Bali.
  5. Waruga merupakan peti kubur batu dalam ukuran yang kecil. Bentuknya seperti kubus dan bulat. Waruga banyak ditemukan Sulawesi Tengah.
  6. Punden berundak merupakan bangunan bertingkat yang dihubungkan tanjakan kecil. Punden berundak memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang
c. Hasil dan Sebaran Kebudayaan Masa Perundagian

1) Nekara
Dalam Ensikopedi Nasional Indonesia, nekara adalah semacam tambur besar dari perunggu yang berpinggang di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup. Pada nekara, terdapat pola hias yang bergam. Pola hias yang dibuat ialah pola binatang, geometrik, gambar gajah, burung, ikan laut, kijang, harimau, dan manusia. Dengan hiasan yang demikian beragam, nekara memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Nekara sering digunakan pada upacara untuk mendatangkan hujan. Nekara ditemukan antara lain di Jawa, Sumatra, Bali, Kepulauan Kei, dan Papua.

2) Moko
Bentuk moko menyerupai nekara, tapi lebih ramping. Bidang pukulnya menjorok keluar, bagian bahunya lurus dengan bagian tengah yang membentuk silinder dan kakinya lurus serta melebar di bagian bawah. Moko banyak ditemukan di Pulau Alor.

3) Kapak Perunggu
Kapak perunggu diklasifikasikan dalam tiga golongan, yaitu (1) kapak corong (kapak sepatu), (2) kapak upacara, dan (3) tembilangan atau tajak. Kapak ini disebut kapak corong karena bagian atasnya berbentuk corong yang sembirnya belah. Ke dalam corong itu dimasukkan tangkai kayu yang menyiku pada bidang kapak. Kapak ini disebut juga kapak sepatu karena bentuknya hampir mirip dengan sepatu. Bentuknya bulat, panjang sisinya, dan terbuat dari logam. Kapak perunggu ditemukan antara lain di Sumatra Selatan, Bali, Jawa Barat, Sulawesi Tengah dan Selatan, Pulau Selayar, dan Papua.

4) Bejana Perunggu
Bejana perunggu memiliki bentuk bulat panjang seperti tempat ikan yang diikatkan di pinggang. Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu yang cembung, dan dilekatkan dengan pacuk besi pada sisinya. Pola hias benda ini tidak sama susunannya. Bejana perunggu banyak ditemukan di daerah Madura (Asemjaran, Sampang) dan Sumatra (Kerinci).

5) Perhiasan Perunggu
Perhiasan yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi banyak ditemukan di hampir semua wilayah nusantara. Gelang, cincin, bandul kalung dari perunggu umumnya dibuat tanpa hiasan. Namun, ada juga yang dihias dengan pola geometris atau pola bintang. Gelang yang memiliki hiasan pada umumnya besar dan tebal. Pola hias pada gelang ini berupa pola timpal, tangga, garis, dan duri ikan. Pola hias lainnya adalah spiral yang disusun membentuk kerucut. Mata cincin dengan bentuk kambing jantan ditemukan di derah Kedu (Jawa Tengah).

6) Arca Perunggu
Arca atau patung perunggu yang ditemukan di Indonesia mempunyai bentuk yang beraneka ragam, ada yang berbentuk manusia dan binatang. Posisi manusia dalam bentuk arca ada yang dalam keadaan berdiri, bertolak pinggang, memegang panah, menari dan naik kuda. Arca dengan sikap bertolak pinggang ditemukan di daerah Bogor. Patung manusia yang sedang memegang panah ditemukan di daerah Lumajang (Jawa Timur).

Arca berbentuk binatang ada yang berupa arca kuda sedang berdiri, kerbau yang sedang berbaring, dan kuda dengan pelana. Tempat ditemukan arca-arca tersebut diantaranya di Bangkinang (Riau), Lumajang, Palembang, dan Bogor. Peninggalan-peninggalan hasil kebudayaan pada masa bercocok tanam ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.

Sunday, 2 November 2014

Kali ini kita akan membahas tentang Rumah Merupakan Kebutuhan Pokok Manusia, Bagaimana Komitmen Perumnas ?. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Rumah Merupakan Kebutuhan Pokok Manusia, Bagaimana Komitmen Perumnas ?

Bagaimana Komitmen Perumnas di Indonesia ? Berikut artikel yang dikutip dari sumber http://perumnas.co.id.

Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok dari hajat hidup manusia disamping sandang dan papan. Dengan jumlah penduduk yang besar, kebutuhan rumah di Indonesia tentu menjadi sebuah kebutuhan inti yang harus diprioritaskan. Memahami kondisi perumahan dan pemukiman di Indonesia tersebut, pemerintah mendirikan Perum Perumnas pada tahun 1974.

Perumnas merupakan pelopor pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia, lebih dari 400 lokasi dan 187 kota di Indonesia. Kota-kota yang telah dikembangkan oleh Perumnas menjadi kota penyangga Ibu kota dan telah menjelma menjadi kota-kota baru, misalnya Bekasi, Depok, Antapani-Bandung, Panakukang-Makasar dan kota-kota lainnya.

Perumnas tetap berkomitmen untuk terus menerus memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan visi menjadi pengembang perumahan dan permukiman paling terpercaya di Indonesia. Saat ini Perumnas tengah bertransformasi untuk meningkatkan lagi peran dan fungsi nya sebagai motor  pembangunan negeri ini.


Rumah Merupakan Kebutuhan Pokok Manusia
Logo Perumnas
Selama perjalanannya, Perumnas tak pernah terlepas dari perannya sebagai mitra strategis pemerintah sebagai penyedia perumahan rakyat di Indonesia. Didorong dengan semangat baru untuk selalu tampil di depan dalam menyokong pemerintah dalam usaha menyediakan rumah rakyat yang berkualitas unggul dan tangguh dalam menghadapi peta persaingan di industrinya, Perumnas meluncurkan logo baru di usianya ke 40 tahun. Logo Perumnas yang baru berbentuk rumah menggambarkan komitmen sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam penyediaan rumah rakyat, sedangkan warna hijau dan biru melambangkan kedinamikaan yang terus bergerak dalam industri Properti.

Transformasi Perumnas menuju Perumnas yang  baru adalah bentuk kerja keras dalam mendukung kemajuan bangsa Indonesia. Perumnas berubah untuk menjadi lebih baik, lebih kuat dan bersemangat. Harapan perumnas kedepannya, adalah mewujudkan Perumnas Baru dalam membangun negeri Indonesia yang tercinta ini.

Kali ini kita akan membahas tentang Kondisi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Kondisi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan

Kondisi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan Bentuk negara serikat yang disepakati berdasarkan Konferensi Meja Bundar, ternyata bukanlah cita-cita bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia pun mulai berbenah diri untuk dapat kembali dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Proses Kembalinya Indonesia Sebagai Negara Kesatuan




Kondisi Indonesia Pasca Pengakuan KedaulatanBelanda berniat melancarkan politik devide et impera dalam wilayah Indonesia. Setelah melaksanakan agresi militer pertama, Belanda membagi Indonesia dalam enam negara bagian, yaitu Negara Indonesia Timur, Negara Sumatra Timur, Negara Sumatra Selatan, Negara Madura, Negara Jawa Timur, dan Negara Pasundan. Selain itu, Belanda juga mendirikan sembilan daerah otonom di wilayah Indonesia.

Setelah mendirikan enam negara boneka dan sembilan daerah otonom, Belanda membentuk pemerintah federal sementara yang akan berfungsi sampai terbentuknya Negara Indonesia Serikat (NIS). Dalam hal ini, RI baru akan diizinkan masuk dalam NIS jika permasalahan dengan Belanda sudah dapat diatasi.

Selain itu, Belanda berusaha melenyapkan RI dengan melaksana kan Agresi Militer II. Belanda berharap jika RI dilenyapkan, Belanda dapat dengan mudah mengatur negara-negara bonekanya. Akan tetapi, perhitungan Belanda meleset. Agresi militer Belanda II, menyebabkan Indonesia mendapatkan simpati dari dunia internasional. Akhirnya, Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar.

Pada tanggal 27 Desember 1949 diadakan penandatanganan pengakuan kedaulatan. Dengan diakuinya kedaulatan RI oleh Belanda, Indonesia berubah bentuk menjadi negara Serikat. Akibatnya, terbentuklah Republik Indonesia Serikat. Meskipun demikian, bangsa Indonesia bertekad untuk mengubah RIS kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kurang dari delapan bulan masa berlakunya, RIS berhasil dikalahkan oleh semangat persatuan bangsa Indonesia.

Negara Indonesia Timur (NIT) yang merupakan negara boneka Belanda pertama, ternyata banyak mengalami kerusuhan. Oleh karena itu, Presiden NIT yaitu Cokorde Gde Raka Sukawati mengumumkan keinginan NIT untuk bergabung dengan Indonesia. Keinginan NIT diikuti oleh negara-negara boneka yang lain. Selanjutnya, pada tanggal 19 Mei 1950 diadakan konferensi yang dihadiri oleh wakil-wakil RIS dan RI dengan keputusan inti sebagai berikut. (1). Kesediaan bersama untuk kembali mewujudkan NKRI. (2). Ada perubahan Konstitusi seperti penghapusan senat, susunan DPRS baru, kabinet sifatnya parlementer, dan DPA dihapuskan.

Selain itu, disepakati pula bahwa Soekarno tetap menjadi presiden NKRI. Pada tanggal 17 Agustus 1950 bendera Merah Putih dikibarkan di depan istana bekas gubernur jenderal Belanda yang telah dijadikan Istana Merdeka. Kedaulatan telah tercapai, tiba saatnya untuk mengisi kemerdekaan yang telah diproklamasikan sejak tanggal 17 Agustus 1945.

2. Kondisi Perekonomian Pasca Pengakuan Kedaulatan


Sejak memperoleh pengakuan kedaulatan dari Belanda, bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa Indonesia menanggung beban ekonomi dan keuangan akibat ketentuan-ketentuan dalam Konferensi Meja Bundar, situasi politik yang belum stabil, dan adanya kenyataan bahwa perusahaan swasta besar dan bank pada saat itu masih dikuasai oleh orang-orang Belanda.

Untuk mengatasi krisis, Kabinet Sukiman (1951–195) menjalankan kebijakan nasionali sasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Nasionalisasi dapat diartikan sebagai tindakan untuk menjadikan sesuatu kekayaan milik asing menjadi milik negara. Kebijakan nasionalisasi De Javasche Bank dikeluarkan berdasarkan Undang-Undang nasionalisasi De Javasche Bank Nomor 24 Tahun 1951. Sebelumnya, pemerintah telah memberhentikan Presiden De Javasche Bank, Dr. Howink dan mengangkat Mr. Syafrudin Prawiranegara. Nasionalisasi De Javasche Bank melengkapi kepemilikan pemerintah terhadap bank-bank peninggalan Belanda.

Sejak tahun 1950 bangsa Indonesia mulai meninggalkan sistem perekonomian kolonial dan menggantinya dengan sistem ekonomi nasional. Pelopor perokonomian nasional adalah Drs. Moh. Hatta yang menyatakan bahwa ekonomi bangsa Indonesia harus dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri dengan asas gotong royong. Pemikiran untuk menyusun perekonomian nasional dilanjutkan oleh Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Beliau menyatakan bahwa dalam alam kemerdekaan perlu diada kan kelas pengusaha melalui Gerakan Benteng. Pada hakikatnya, Gerakan Benteng merupakan kebijakan untuk melindungi pengusaha-pengusaha pribumi karena desakan pengusaha kuat bermodal besar yang berasal Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka dari golongan nonpribumi. Para pengusaha pribumi mendapat lisensi (semacam hak istimewa) dalam dunia bisnis.

Dalam waktu tiga tahun, yaitu pada tahun 1950–1953 telah ada tujuh ratus pengusaha yang memperoleh kesempatan itu. Setelah berjalan beberapa tahun ternyata Gerakan Benteng belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa kaum pribumi tidak banyak memiliki pengalaman bisnis, bahkan para pemegang lisensi banyak yang menjual lisensi yang diperolehnya kepada pengusaha asing terutama Cina.

3. Pemilu 1955

Kondisi Indonesia Pasca Pengakuan Kedaulatan
Anggota DPRS yang dipilih dari hasil kompromi antara golongan unitaris dengan federalis perlu segera diganti melalui pemilu. Selain itu, UUDS juga perlu untuk diganti karena bersifat sementara. Oleh karena itu, pemilu dilaksanakan pula guna memilih anggota konstituante yang bertugas menyusun UUD baru.

Pemilu untuk memilih anggota DPR ditetapkan pada tanggal 29 September 1955. Pemilu untuk memilih anggota konstituante ditetapkan untuk dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 1955. Pemilu berjalan dengan tertib tanpa ada kerusuhan dan bebas dari segala macam intimidasi. Pemilu pertama ini benar-benar berjalan dengan demokratis.

Pemilu 1955 diikuti oleh 28 partai dan beberapa calon perorangan dengan jumlah pemilih 39 juta orang. Pemilu untuk memilih anggota DPR hasilnya hampir sama dengan pemilu untuk memilih anggota konstituante. Tampil sebagai empat besar pengumpul suara terbanyak adalah PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Anggota DPR dilantik di Jakarta, sedang kan Konstituante dilantik di Bandung. Selanjutnya, Kabinet Burhanuddin Harahap (Masyumi) sebagai penyelenggara pemilu menyerahkan mandatnya kepada Partai-partai peserta pemilu. presiden. Kabinet baru di bawah pimpinan Ali Sastroamidjojo (PNI) pun segera me laksanakan tugasnya.

4. Dekrit Presiden 5 Juli 1959


Menjelang tahun 1959 Indonesia banyak mengalami permasalah an. Dalam bidang politik, sering terjadi pergantian kabinet. Rakyat semakin merasakan partai politik lebih mengutamakan kepentingan sendiri dan ketidakmampuan konstituante melaksanakan tugasnya. Konstituante tidak berhasil menyusun UUD baru guna menggantikan UUDS. Dengan anggota yang berjumlah 542 orang dan berasal dari banyak partai menyebabkan konflik dalam badan konstituante sulit dihindarkan.

Dalam bidang keamanan, terjadi pergolakan yang ditimbulkan oleh pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan serta pemberontakan PRRI dan Permesta. Pemberontakan-pemberontakan dipicu oleh ketidakpuasan daerah kepada pemerintah pusat. Situasi dalam negeri yang semakin tidak menentu mendorong Presiden Soekarno mengajukan konsepsi yang berisi hal-hal berikut ini.

  1. Sistem demokrasi parlementer secara Barat tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia karena itu harus diganti dengan sistem demokrasi terpimpin.
  2. Untuk melaksanakan demokrasi terpimpin perlu dibentuk Kabinet Gotong Royong yang anggotanya terdiri atas semua partai atau organisasi berdasarkan perimbangan kekuatan dalam masyarakat.
  3. Pembentukan Dewan Nasional terdiri atas golongan-golongan fungsional yang bertugas sebagai penasihat kabinet. 

Konsepsi tersebut menimbulkan pro dan kontra antarpartai politik. Dalam suasana pro dan kontra ini, pada tanggal 25 April 1959 Presiden Soekarno menyampaikan amanat di depan anggota konstituante, yang berisi anjuran untuk kembali pada UUD 1945. Amanat ini menjadi perdebatan di konsti tuante sehingga diputuskan untuk diadakan pemungutan suara. Ternyata, hasil pe mungutan suara menunjukkan bahwa kurang dari 2/3 anggota konstituante menyetujui untuk kembali pada UUD 1945. Kegagalan konstituante untuk menyusun dan menetapkan sebuah UUD serta perdebat an-perdebatan di dalamnya, menyebabkan situasi politik semakin tidak menentu. Kondisi ini mendorong Presiden Soekarno meng ambil langkah yang sebenarnya bertentang an dengan undang-undang (inkonstitusional). Pada tanggal 5 Juli 1959 dalam suatu acara resmi di Istana Merdeka, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang selanjutnya dikenal sebagai Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Inti dari Dekrit Presiden ini sebagai berikut.
a. Pembubaran konstituante.
b. Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950.
c. Pembentukan MPRS dan DPAS.

Dengan dekrit ini, berarti Kabinet Parlementer di bawah pimpinan Perdana Menteri Djuanda dinyatakan demisioner. Kabinet digantikan oleh Kabinet Presidensial yang langsung dipimpin oleh Presiden Soekarno. Dalam perkembangannya, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 menjadi tonggak bagi pelaksanaan demokrasi terpimpin di Indonesia. Pada masa demokrasi terpimpin, Presiden Soekarno mempunyai kekuasaan yang besar. Bahkan, pada tanggal 5 Maret 1960 Presiden Soekarno memiliki kemampuan untuk membubarkan DPR hasil pemilu 1955. Selain itu, melalui Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1959, Presiden Soekarno membentuk MPRS yang anggota-anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh presiden.

5. Gangguan Keamanan Dalam Negeri


Sejak memperoleh kedaulatan, bangsa Indonesia banyak meng alami pergolakan di daerah. Hal ini dipicu oleh kurang harmonisnya hubungan pusat-daerah, persaingan ideologis dan masalah sosial politik lainnya. Dalam perkembangannya, pergolakan-pergolakan tersebut mengarah pada gerakan separatis yang berniat memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pergolakan yang terjadi pada umumnya berbentuk gangguan keamanan berupa pemberontakan-pemberontakan bersenjata. Beberapa pemberontakan tersebut antara lain Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan Piagam Perjuangan Semesta (Permesta).

 Demikian usaha bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Dengan perjuangan berat pada akhirnya kemerdekaan bangsa berhasil ditegakkan. Belanda pun mengakui kedaulatan wilayah Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar. Pada awal pengakuan kedaulatan, banyak terjadi permasalahan terutama dalam bidang politik dan ekonomi yang harus dihadapi. Bahkan persatuan bangsa pun sempat terancam. Akan tetapi, seluruh permasalahan tersebut dapat diselesai kan. Negara Kesatuan Republik Indonesia pun tetap tegak berdiri.