Monday, 1 September 2014

Kali ini kita akan membahas tentang Potensi Alam dan Mobilitas Penduduk Antar Wilayah di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Potensi Alam dan Mobilitas Penduduk Antar Wilayah di Indonesia

Materi IPS Kelas 7 : Potensi Alam dan Mobilitas Penduduk Antar Wilayah di Indonesia

Sebaran potensi sumber daya alam (SDA) di permukaan bumi secara alamiah memang tidak merata, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, ada wilayah Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan juga sebaliknya, ada wilayah yang miskin sumber daya alam. Pada wilayah yang kaya dengan sumber daya alam, apalagi telah dimanfaatkan secara secara optimal potensinya, secara alamiah akan terjadi gejala pemusatan penduduk diwilayah itu. Gejala pemusatan penduduk ini selanjutnya akan membentuk wilayah permukiman dan perkotaan. Pemusatan penduduk di suatu wilayah tidak hanya disebabkan oleh faktor sumber daya alam, tetapi juga karena adanya faktor keunggulan yang lain, seperti letak yang strategis dan didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Penduduk yang berkualitas secara alamiah akan banyak mengembangkan aktivitas industri, khususnya industri jasa.

Permukiman penduduk yang padat biasanya terdapat di daerah perkotaan. Penduduk di daerah perkotaan pada umumnya bekerja sebagai pegawai, pedagang, buruh, dan karyawan. Perkotaan biasanya dipenuhi oleh pendatang dari daerah asal yang beragam sehingga mengakibatkan corak kehidupan budayanya dipengaruhi oleh budaya daerah asal para pendatang. Akibatnya, terjadilah akulturasi budaya. Akulturasi budaya adalah proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unusr kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayan asing itu lambat laun diterima dan diolah kembali ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal itu sendiri (Koentjaraningrat).

Potensi Alam dan Mobilitas Penduduk Antar Wilayah di Indonesia

Mobilitas penduduk

Gejala pemusatan penduduk di perkotaan menjadi daya tarik bagi penduduk lainnya untuk datang sekaligus tinggal di daerah tersebut, baik untuk sementara maupun menetap. Secara umum, perpindahan penduduk tersebut disebut mobilitas penduduk. Adapun mobilitas penduduk antarwilayah dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk sebagai berikut.
  1. Migrasi permanen  : yaitu bentuk mobilitas yang bertujuan untuk menetap di suatu wilayah.
  2. Mobilitas nonpermanen : yaitu mobilitas yang bersifat sementara, yang tidak bertujuan untuk menetap. Mobilitas nonpermanen dibedakan atas sirkulasi dan komutasi. Sirkulasi merupakan bentuk mobilitas nonpermanen yang tinggal atau hanya menginap di tempat tujuan, sedangkan komutasi adalah bentuk lain dari mobilitas nonpermanen dimana seseorang tidak menginap di tempat tujuan atau pulang pada hari yang sama. Istilah orang yang melakuan komutasi dikenal dengan nama komuter.

Mobilitas penduduk Indonesia

Mobilitas penduduk dan pembangunan tidak dapat dipisahkan, mobiltas penduduk Indonesia tentu saja tidak dapat dilakukan tanpa adanya dukungan sarana dan prasarana transportasi yang cukup. Untuk mendukung mobilitas penduduk antarwilayah, pemerintah harus membangun sarana jalan dan jembatan, alat transportasi seperti kapal laut dan pesawat udara. Dengan tersedianya sarana tersebut, interaksi sosial, budaya, dan ekonomi antar penduduk yang berbeda wilayah dapat berjalan dengan baik dan pada gilirannya akan memperkokoh persatuan dan kesatuan negara Indonesia.

Saat ini sarana jalan telah dibangun hampir di seluruh daerah di Indonesia. Namun, pembangunan tersebut belum merata karena intensitas penggunaan jalan lebih banyak di Pulau Jawa. Jaringan jalan di Pulau Jawa lebih baik dibandingkan dengan jaringan jalan di pulau lainnya. Hal ini terjadi disebabkan penduduk jauh lebih banyak berada di pulau Jawa dibandingkan dengan pulau lainnya.

Pahun 2011, total panjang jalan di Indonesia mencapai 496.607 km (Data dari Badan Pusat Statistik), terdiri atas 38.570 km jalan negara, 53.642 km jalan provinsi, dan 404.395 km jalan kabupaten. Ini berarti jalan kabupaten jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan jalan provinsi maupun jalan negara. Jaringan jalan ini sangat penting untuk mendukung aktivitas sosial ekonomi penduduk.

Selain jalan raya, terdapat pula jenis jalan lain yaitu jalan kereta api. Jalan kereta api di Indonesia hanya terdapat di dua pulau besar, yaitu pulau Jawa dan Sumatra. Jalan kereta api di pulau Jawa jauh lebih padat dibandingkan dengan Pulau Sumatra karena jumlah penduduk dan aktivitasnya yang besar. Pulau-pulau lainnya belum dikembangkan sarana transportasi kereta api karena faktor jumlah penduduk yang masih sedikit dan pertimbangan faktor keadaan alam.

Jumlah penduduk yang sedikit berarti calon penumpangnya juga sedikit sehingga tidak akan mampu menutup modal operasional kereta api. Medan yang terlalu berat, misalnya berupa pegunungan, memerlukan biaya yang sangat besar dalam pembangunan jalan kereta api dan kurang cocok untuk pengembangan jalur kerata api yang mensyaratkan jalan yang relatif lurus dan tidak terlalu menanjak.

Berdasarkan data BPS tahun 2011, jumlah penumpang yang menggunakan jasa kereta api mencapai 199 juta penumpang. Jumlah barang yang dimuat dengan menggunakan jalur kereta api mencapai 20.438.000 ton.

Selain sarana transportasi darat, sarana perhubungan lain yang tidak kalah pentingnya adalah sarana tranportasi laut. Sarana ini dikembangkan karena negara Indonesia merupakan negara kepulauan, dimana wilayah yang satu dan lainnya dihubungkan oleh lautan. Agar interaksi antar penduduk yang berbeda pulau berjalan dengan baik, pemerintah terus meningkatkan prasarana transportasi laut.

Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintahan Jokowi saat ini. Presiden Jokowi ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Untuk itu  sistem maritim Indonesia yang telah tertinggal akan dibenahi. Pemerintah ingin membangun konektivitas ekonomi antarpulau yang belum dikelola dengan baik.

Potensi Alam dan Mobilitas Penduduk Antar Wilayah di Indonesia
Kapal laut memiliki keunggulan dibandingkan dengan pesawat jika dilihat dari segi jumlah penumpang dan barang yang mampu diangkutnya. Bahkan kapal laut menjadi pilihan satu-satunya moda transportasi untuk mengangkut barang dalam jumlah besar, misalnya bahan tambang dan mobil. Jumlah muatan barang yang diangkut oleh kapal-kapal antarpulau di Indonesia mencapai 238.940.000 ton, aktivitas bongkar mencapai 284.292.000 ton. Jumlah penumpang yang diangkut oleh kapal laut mencapai 19.996.800 orang (Data dari BPS tahun 2011). Ini artinya kapal laut lebih murah secara ekonomis, kapal laut merupakan sarana yang dapat menghubungkan antardaerah di Indonesia secara sosial.

Selain sarana transportasi darat dan laut, sarana lainnya adalah tranportasi udara. Transportasi udara semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia, terutama untuk kelompok masyarakat menengah ke atas. Sarana transportasi tersebut memiliki keunggulan dalam hal kecepatan. Namun, memiliki kelemahan juga yaitu harga tiket yang belum terjangkau oleh kebanyakan penduduk Indonesia.

Pemerintah terus berupaya membangun sarana dan prasarana transportasi udara dengan membangun bandar udara di sejumlah daerah, baik untuk penerbangan dalam negeri atau internasional. Pesawat udara juga terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya sesuai kebutuhan dengan mengikutsertakan pihak swasta. Sejumlah rute baru juga terus ditambah untuk membuka keterisolasian suatu wilayah.

Jumlah keberangkatan pesawat di Indonesia mencapai lebih dari 600.000 unit dan mampu mengangkut penumpang sebesar lebih dari 59 juta orang. Angka kedatangan pesawat juga tidak jauh berbeda dengan angka keberangkatannya. Sementara itu, jumlah muatan barang hampir mencapai 500 ribu ton.

Pemanfaatan sarana transportasi udara tentu sangat membantu mobilitas penduduk antarwilayah. Dengan keunggulan kecepatan mencapai target  tujuan, interaksi antarwilayah semakin mudah dan cepat. Kegiatan ekonomi akan makin berkembang di berbagai daerah, begitu juga intensitas interaksi sosial antarpenduduk Indonesia akan menjadi makin sering dilakukan. Jelaslah bahwa mobilitas dan pembangunan harus seiring, mobilitas harus difasilitasi dengan pembangunan, sedangkan pembangunan juga dipengaruhi oleh aktivitas mobilitas penduduk.




No comments:

Post a Comment