Monday, 25 August 2014

Kali ini kita akan membahas tentang Perlawanan Rakyat pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Perlawanan Rakyat pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

Materi IPS SMP Kelas 9 : Perlawanan Rakyat pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

Pendudukan Jepang di Indonesia berjalan kurang lebih selama 3,5 tahun, dimulai dari tahun 1942 sampai tahun 1945, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia oleh pasangan dwi tunggal Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Pada awal Perang Dunia II (Mei 1940), Belanda diduduki oleh tentara Nazi Jerman. Hindia Belanda kemudian mengumumkan keadaan siaga dan pada bulan Juli 1940 mengalihkan ekspor yang awalnya ke Jepang pindah ke Amerika Serikat dan Inggris. Negosiasi Belanda dengan Jepang untuk mengamankan persediaan bbm pesawat gagal pada bulan Juni 1941, dan Jepang pun mulai dengan aksi penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember 1941. Pada bulan yang sama, Jepang memberikan bantuan kepada faksi dari untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Pengalaman dari pendudukan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana orang itu hidup dan bagaimana status sosial orang tersebut. Bagi orang yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan selalu mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan tanpa sebab dan hukuman mati, serta kejahatan perang lainnya.

Upaya mobilisasi penduduk demi kepentingan perang Jepang melawan sekutu mengakibatkan penderitaan rakyat Indonesia. Di berbagai daerah muncul reaksi baik berupa protes maupun perlawanan. Sejalan dengan itu, muncullah  pergerakan-pergerakan kebangsaan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal. Beberapa perlawanan terhadap Jepang dan munculnya pergerakan kebangsaan di daerah dijelaskan sebagai berikut.

a. Gerakan Protes dan Perlawanan pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia


Baik gerakan protes atau perlawanan yang muncul di Indonesia dipimpin oleh tokoh masyarakat, ulama, dan pemimpin laskar pasukan. Berikut diantaranya.

1) Perlawanan Teuku Abdul Jalil

Keinginan Jepang untuk memobilisasi para ulama di Aceh ditolak oleh para ulama. Rakyat Cot Plieng di Lhokseumawe Aceh mengadakan perlawanan dipimpin oleh Teuku Abdul Jalil. Teuku Abdul Jalil merupakan seorang ulama yang masih berusia muda dari Buloh Blang Ara, Aceh Utara. Teuku Abdul Jalil merupakan alumni Dayah Teungku Muhamamad Amin Jumphoh di Pidie Aceh, kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Dayah Krueng Kale yang merupakan salah satu pusat pendidikan Islam terkenal di Aceh Besar pimpinan Teungku Hasan Krueng Kale. Dari sana Teuku Abdul Jalil pindah ke Dayah Cot Plieng Bayu, Lhoksukon, Aceh Utara yang dipimpin oleh Teungku Ahmad. Di sana Abdul Jalil menikah dengan putri Teungku Ahmad bernama Teungku Asiah. Di tempat itu pula Teuku Abdul Jalil menggantikan mertuanya memimpin Dayah Cot Plieng hingga kemudian diberi gelar Teungku Syik.

Teungku Abdul Jalil dibantu teman-temannya melakukan dakwah anti Jepang secara diam-diam dan menyerukan jihad fisabilillah dari desa ke desa. Menjelang akhir tahun 1942, dakwah yang awalnya dilakukan diam-diam tersebut menjadi terang-terangan, setelah kekejaman tentara Jepang semakin menjadi-jadi kepada masyarakat. Para santri di Dayah Cot Plieng sudah siap untuk berperang melawan Jepang. Hal itu kemudian diketahui intelijen dan kampetai Jepang.

Jepang berusaha meredam upaya pemberontakan Teungku Abdul Jalil dan teman-temannya tersebut dengan menggunakan orang-orang Aceh yang bekerja untuk Jepang dan para Uleebalang yang telah diangkat oleh Jepang menjadi Gunco (wedana) dan sunco (camat).

Rakyat Aceh berjuang dengan senjata seadanya sewaktu Jepang menyerang wilayah tersebut usai subuh hari. Dengan perjuangan yang luar biasa, serangan Jepang tersebut berhasil digagalkan hingga dua kali. Pada tanggal 10 November 1942 tentara Jepang melakukan serangan ketiga. Mereka membakar masjid dan permukiman penduduk. Teuku Abdul Jalil berhasil meloloskan diri pada serangan tersebut, tetapi beliau tertembak saat shalat subuh.

2) Perlawanan K.H. Zainal Mustafa
Perlawanan Rakyat pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia
K.H. Zainal Mustafa

K.H. Zainal Mustafa merupakan pimpinan sebuah pondok pesantren bernama Sukamanah di Singaparna, Jawa Barat. Beliau dengan berani memprotes upacara seikirei (penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit). Upacara ini menyinggung perasaan umat Agama Islam dan dianggap musyrik. Beliau juga merasa tidak tega melihat penderitaan rakyat akibat penindasan Jepang. Karena dianggap memusuhi mereka, Jepang kemudian menyerang Singaparna pada tanggal 24 Februari 1944. K.H. Zainal Mustafa akhirnya tertangkap dan dihukum mati oleh Jepang di Jakarta.

3) Pemberontakan Teuku Hamid

Pemberontakan Teuku Hamid terjadi di Meurudu, Aceh. Dua peleton tentara PETA yang dipimpin oleh Teuku Hamid melarikan diri ke gunung-gunung dan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada bulan November 1944. Jepang kemudian melakukan cara licik dengan menahan anggota keluarga pasukan PETA, cara itu bertujuan untuk menekan perlawanan Teuku Hamid. Dengan kondisi tersebut, akhirnya memaksa Teuku Hamid menyerah.

4) Perlawanan Haji Madriyan

Pada bulan April 1944, perlawanan Haji Madriyan terjadi di Indramayu, Jawa Barat. Latarbelakang peristiwa ini adalah karena adanya paksaan untuk menyetorkan sebagian hasil bumi penduduk. Selain itu, penduduk dipaksa untuk melakukan kerja rodi atau romusha. Haji Madriyan lalu bergerak memimpin perlawanan di Desa Karang Ampel, Sindang, Indramayu. Namun, akhirnya perlawanan ini dihentikan Jepang dengan perlakuan yang sangat kejam.

5) Pemberontakan Supriyadi

Supriyadi adalah seorang komandan PETA di Blitar, Jawa Timur. Syudanco Supriyadi memimpin pemberontakan PETA melawan pasukan Jepang pada tanggal 14 Februari 1944. Pemberontakan Supriyadi ini merupakan pemberontakan terbesar yang dihadapi oleh Jepang. Karena kewalahan, pemerintah Jepang akhirnya harus mengerahkan satu batalion dibantu kendaraan lapis baja untuk menghadapi Supriyadi dan tentaranya. Walaupun pemberontakan tersebut bisa dipadamkan oleh Jepang, tetapi Supriyadi  secara misterius menghilang hingga saat ini.

b. Pergerakan Kebangsaan di Berbagai Daerah  pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia


Selama pendudukan Jepang di Indonesia, di berbagai daerah muncul pergerakan kebangsaan. Di Jakarta, para pemuda bergabung dalam asrama Angkatan Baru Indonesia. Pergerakan mereka berpusat di Menteng 31. Para pemuda tersebut kemudiam mengorganisasi Barisan Pelopor sejak tahun 1943. Organisasi yang lainnya adalah Badan Permusyawaratan Pelajar Indonesia (Baperpi). Pusat kegiatan Baperpi berada di Cikini 71 dengan ketua Supeno. Para mahasiswa juga membentuk organisasi Ika Daigaku. Pusat kegiatannya berada di Prapatan 10. Anggota Ika Daigaku antara lain Djohar Nur, Sajoko, Darwis, Sjarif Thajeb, dan Eri Sudewo.
Perlawanan Rakyat pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia
Supeno

Sebagian besar organisasi kepemudaan tersebut membantu gerakan bawah tanah yang dipelopori oleh Sutan Sjahrir. Mereka bertugas untuk menyiarkan berita mengenai perkembangan perang Jepang. Sjahrir secara diam-diam menggembleng para pemuda tersebut dengan beragam pengetahuan. Tokoh-tokoh pemuda yang direkrut antara lain adalah Sukarni, Hamdani Kartamuhari, Adam Malik, Sudarsono Sugra, Armunanto, Pandu Wiguna, Sjamsudin, Kusnaeni, dan M. Nitimihardjo.

Penjelasan di atas merupakan contoh-contoh dari perlawanan rakyat pada masa pendudukan jepang di Indonesia serta pergerakan kebangsaan di berbagai daerah. Strategi yang digunakan dapat dalam bentuk kerja sama, perlawanan, gerakan bawah tanah hingga pemberontakan. Seluruh perlawanan dan pergerakan itu mulai bersatu saat Jepang mulai mendekati kekalahannya melawan Sekutu.




2 comments:

  1. Pemberontakan terhadap Jepang sporadis

    ReplyDelete
  2. Pemberontakan terhadap Jepang kurang kuat, komentar balasan dong di blog saya www.goocap.com

    ReplyDelete